logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 28 Juni 2007 SEMARANG
Line

35 Hektare Sawah Kembali Tak Teraliri Air

  • Bendungan Darurat Ambrol Lagi

SIDOMUKTI- Lebih dari 35 hektare lahan pertanian di Dukuh Cabean, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, dan sekitarnya tidak teraliri irigasi di Bendungan Andong. Sebab, bendungan darurat yang dibuat warga dari bambu dan kayu di Jalan Tentara Pelajar ambrol lagi.

Bendungan Andong sudah beberapa tahun ini tidak bisa berfungsi dengan baik, karena bangunan fisiknya berupa pintu air dan sistem irigasi sudah rusak. Ambrolnya bendungan darurat yang telah dibuat warga, Mei lalu itu terjadi pekan sebelumnya. Yakni, ketika hujan lebat mengguyur Salatiga. Atas inisiatif warga dan petani Cabean, kemudian dibuat bendungan darurat yang sama, Rabu (27/6) pagi.

Buang Asmorono, ketua ulu-ulu (pengairan) Dukuh Cabean mengatakan, mereka terpaksa membuat lagi bendungan darurat, karena cara itu satu-satunya solusi menyelesaikan masalah sistem pengairan bagi sawah mereka.

Petani sangat berharap Dinas Pekerjaan Umum (DPU) segera membangun Bendungan Andong secara permanen. ''Kalau tidak dibuat bendungan darurat, air tidak akan mengalir ke saluran yang mengarah ke persawahan di Cabean dan sekitarnya,'' kata Buang.

Menurutnya, jika tidak diperbaiki maka sawah petani seluas 35 hektare tidak akan teraliri. Petani bisa rugi ratusan juta rupiah. Untuk membuat bendungan darurat dilakukan secara swadaya oleh petani.

Modal yang dibutuhkan sekitar Rp 2 juta, yakni untuk membeli bambu dan kayu. Jika bendungan darurat telah selesai, aliran air akan terbendung dan dapat masuk ke pintu air sebelah barat, sehingga langsung menuju sawah petani.

Dibuat Permanen

Ramelan (51), petani lainnya menjelaskan, mereka telah meminta kepada DPU agar segera membangun bendungan yang baru, tetapi belum ada realisasi. Tahun 2006 lalu para petani bisa bernapas lega, karena proyek bendungan itu dikabarkan segera dibangun. Tetapi, kenyatannya tidak juga dilakukan.

Sebagaimana diketahui, proyek pembangunan Bendungan Andong di Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, senilai Rp 200 juta seharusnya telah digarap 2006 lalu. Tetapi, pemenang lelang proyek itu tidak juga menggarapnya tanpa alasan jelas.

Padahal, pembangunan bendungan dan perbaikan saluran air sangat vital untuk sistem irigasi petani. Kepala DPU Ir H Saryono mengatakan, pihaknya memastikan proyek tersebut dapat digarap dan diselesaikan tahun ini. Diakuinya, proyek itu sangat mendesak, karena kondisi bendungan lama sudah rusak, sehingga sistem pengendalian air, termasuk untuk mengatur air tidak berfungsi. (H2-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA