| Kamis, 28 Juni 2007 | SEMARANG |
Lingkar Ambarawa Paling Lambat 2008
UNGARAN - Jalur lingkar Ambarawa ditargetkan paling lambat dibangun 2008. Sebab, saat ini Bank Dunia selaku penyandang dana masih memusatkan pembangunan jalur lingkar di kota lain. ''Kabupaten Semarang mendapat bagian kedua. Paling lambat mungkin 2008. Saya ada catatannya, Bank Dunia masih membuat jalur lingkar di sebuah kota di Indonesia,'' kata Kabag Tata Pemerintahan Endang Eni Suesti SH yang beberapa hari ini rapat kerja di Jakarta, kemarin. Melalui telepon selulernya, dia menjelaskan saat ini baru tahap penyusunan detail engineering design (DED) oleh Bina Marga Jateng. Untuk pembebasan lahan semua sudah dilakukan Pemkab dengan dana APBD 2005 sebesar Rp 15 miliar. ''Dana Rp 15 miliar tidak mungkin akan sia-sia atau mangkrak. Kami terus mengejar Bank Dunia agar lingkar Ambarawa segera terwujud,'' tandasnya. Terkait dengan DED, menurutnya, Pemprov akan melihat hasilnya, karena bisa jadi menambah pembebasan tanah. ''DED selesai akhir Juni ini,'' jelas Endang. Dia mengatakan, kendala dalam pembuatan jalur lingkar adalah harus benar-benar ada kesepakatan antara DED konsultan Bank Dunia dan konsultan Bina Marga. ''Dari semua sisi, konstruksi dan sebagainya harus ada kesepakatan,'' tandasnya. Sebelumnya diberitakan, Ketua Fraksi PDI-P The Hok Hiong khawatir dana Rp 15 miliar akan sia-sia, karena sudah dua tahun dicairkan untuk pembebasan lahan. Menurut dia, masyarakat Ambarawa dan Jateng umumnya berharap ada jalur lingkar, karena mereka yang hendak bepergian dari Semarang ke Magelang atau Yogyakarta tak perlu terjebak macet di Kota Ambarawa terutama depan Pasar Projo. Sosialisasi Tol The Hok juga meminta Pemkab mengkaji kembali soal penyertaan modal jalan tol Semarang-Solo yang direncakan Rp 123,7 miliar (APBD II 2007-2011). Dikhawatirkan dana tersebut juga sia-sia seperti dana jalur lingkar Ambarawa. Terkait dengan pembangunan jalan tol yang melewati empat kecamatan dan 14 desa/kelurahan di kabupaten ini, Endang mengatakan, saat ini Dinas Bina Marga Jateng sedang memasang patok-patok. Ke-14 desa/kelurahan tersebut meliputi Susukan, Kalirejo, Sidomulyo, Gedanganak, dan Beji (Kecamatan Ungaran Timur), Wringin Putih, Karangjati, dan Ngempon (Bergas), Klepu dan Derekan (Pringapus), serta Lemah Ireng, Kandangan, Polosiri, dan Bawen (Bawen). ''Pengerjaannya masih ada tahapan sosialisasi dengan para pemilik tanah yang dilewati proyek ini,'' terangnya. Dia menambahkan, karena ada aturan baru di BPN, maka sosialisasi kepada warga harus lebih cermat, terutama mengenai batas-batas tanah. (H14-37) |