| Kamis, 28 Juni 2007 | SEMARANG |
200 Hektare Padi di Rowosari Puso
SEMARANG- Akibat kekeringan, sekitar 200 hektare tanaman padi di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, mengalami puso. Padi yang semestinya sudah memasuki masa panen itu tak berbuah sempurna. Sebagian di antaranya bahkan mati muda. Kegagalan panen yang dialami petani kali ini semakin menambah beban hidup mereka. Pada masa tanam sebelumnya padi mereka juga puso. ''Ini kegagalan yang kedua. Pada musim tanam lalu bahkan sama sekali tidak berbuah,'' kata Suminto (51), petani dari Kampung Munthuksari, Rabu (27/6). Dari pada tidak mendapat hasil sama sekali, sebagian petani mengumpulkan padi yang bisa dimanfaatkan. Hasilnya kurang dari 10% panenan normal. Sebagai gambaran, lahan 1 bahu milik Suminto dalam kondisi normal menghasilkan 26 karung gabah, namun saat ini hanya 2 sak. ''Idhep-idhep sekalian membersihkan lahan,'' ujarnya. Curah hujan yang minim dalam sebulan terakhir menjadi penyebab pusonya padi di Rowosari. Pada saat mulai menanam akhir Maret lalu, kondisi lahan masih berair. Namun ketika tanaman padi mulai berkembang, hujan sama sekali tidak turun. ''Bukannya petani terlambat tandur. Ini semua karena salah mangsa. Hujan yang semestinya masih turun, tidak ada lagi,'' kata Suminto. Rp 1,5 Juta Peralihan musim yang tidak pasti tersebut kerap membingungkan petani. Hal itu membuat mereka salah menentukan jenis tanaman. Jika awal musim tanam hujan turun, petani cenderung menanam padi. Mereka merasa sayang, kondisi tanah yang basah itu ditanami palawija. Namun tiba-tiba pada pertengahan musim, hujan tidak lagi turun. Petani lain, Ismanah (45) mengaku, mengalami kerugian lebih dari Rp 1,5 juta. Uang sebesar itu telah digunakan membeli bibit, pupuk, pestisida, dan membayar tenaga buruh tanam. Kerugian belum termasuk tenaga dia sekeluaga yang telah merawat padi selama tiga bulan. Setelah lahan dibersihkan, Ismanah berencana menanaminya dengan kacang hijau atau krai. Selain bisa tumbuh di lahan kering, masa panen tanaman itu relatif cepat. ''Yang penting segera menghasilkan,'' katanya. Lurah Rowosari, Nur Rohim, menuturkan dari 200 hektare sawah di wilayahnya, hampir seluruhnya tadah hujan. Beberapa waktu lalu pernah ada rencana pembuatan saluran irigasi dengan memanfaatkan aliran Kali Babon. Namun setelah dipertimbangkan, rencana itu batal dilaksanakan. ''Pada musim kemarau, aliran air di Kali Babon sangat minim. Secara teknis sulit dipompa dan dialirkan ke areal persawahan.''(H6-18) |