| Rabu, 27 Juni 2007 | NASIONAL |
Yenny Dinilai Bagus, Puan Minim Pengalaman
JAKARTA- Pilpres berlangsung 2009. Meski pelaksanaannya masih setahun lebih, wacana tokoh yang akan maju sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) sudah bermunculan. Tak terkecuali anak-anak mantan presiden seperti Puan Maharani, Yenny Gus Dur, dan Ilham Habibie. Puan adalah anak mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Yenny adalah anak mantan Presiden Gus Dur, sedangkan Ilham merupakan putra pertama mantan Presiden BJ Habibie. Pengamat politik Fachry Ali menilai, sebelum maju kedua ''srikandi muda'' itu sebaiknya melewati jalan panjang dulu. Pengalaman yang masih terbilang minim di kancah politik justru akan menjadi bumerang bagi mereka. "Paling tidak diuji sebagai anggota DPR dahulu. Pada saat menjadi anggota DPR itulah waktu yang tepat untuk unjuk diri kepada publik," kata dia, Selasa (26/6). Menurut dia, pengujian di DPR penting, sebab saat ini kepercayaan rakyat kepada partai politik sedang turun. "Kalau mampu jadi wakil rakyat, bisa menunjukkan kinerja yang baik dan ketulusannya, ya kenapa tidak. Pertanyaannya sekarang, apa mereka itu cukup dikenal rakyat kalau mau maju begitu saja." Politisi asal PKB Mahfud MD mengatakan, pada 2003 dirinya pernah menyampaikan potensi Yenny untuk memimpin bangsa. ''Namun kata dia saat itu, mau belajar dulu." Pembelajaran yang dilakukan Yenny tentu bukan asal-asalan. Lajang 33 tahun bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid itu kerap mendampingi ayahnya, Gus Dur, dalam melakukan aktivitas politik. Lulusan sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti, Jakarta itu memulai kariernya dengan menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) pada 1997-1999. Tugasnya pun di daerah konflik, yakni Timor Timur dan Aceh. Liputannya mengenai Timor Timur pascareferendum mendapatkan anugerah jurnalistik Australia, Walkleys Award. Begitu Gus Dur menjadi presiden tahun 1999, Yenny melepas profesi wartawan. Dia nyaris selalu menjadi pendamping ayahnya dengan posisi Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik. Setelah Gus Dur lengser pada 2001, dia menempuh studi S2 di John F Kennedy School of Government, Universitas Harvard. Sekembalinya dari AS tahun 2004, Yenny menjabat sebagai direktur Wahid Institute yang saat itu baru berdiri dan hingga saat ini dia masih menduduki jabatan tersebut. Yenny kemudian diangkat menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik oleh Presiden SBY tahun 2006. Namun Juni 2007 Yenny mundur untuk berkonsentrasi menjadi Sekjen DPP PKB. Langkah selanjutnya, kata Mahfud MD, bukan tidak mungkin menjadi Ketua Umum PKB. Melihat perjalanan itu, menurut dia, bukan mustahil bila putri kedua pasangan Gus Dur-Sinta Nuriyah itu punya peluang besar tampil dalam arena pemilihan presiden. Adapun wacana Puan Maharani yang akan mencalonkan diri sebagai cawapres, menurut peneliti The Indonesian Institute Anis Baswedan, cukup mengagetkan. Apalagi wacananya dia dipasangkan dengan Jusuf Kalla. Putri mantan presiden Megawati itu dinilai belum layak untuk dimajukan sebagai kandidat cawapres karena minim pengalaman politik. Bila dimajukan dalam pesta demokrasi level nasional, bisa dipastikan peluang meraup suara sangat kecil. Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani, selain kedua Srikandi itu, Ilham Habibie juga dinilai bagus. "Yenny, Puan, mungkin anak presiden yang lain sekalian, biar ramai. Anak Habibie, Ilham itu bagus. Mereka dicalonkan jadi presiden saja sekalian," kata dia. (dtc-46) | ||||