| Rabu, 27 Juni 2007 | SEMARANG |
Menulis, Ekspresikan Berpikir dan MenganalisisSEMARANG- Membaca dan menulis sering diabaikan karena dianggap kurang memiliki peran strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan. Padahal, gemar membaca dan menulis merupakan bekal sangat berharga untuk masa depan. Hal itu diungkapkan Triyanto Triwikromo, saat menjadi pembicara ''Workshop Menulis dan Membaca Skenario dan Novel'', di SMA 3, Selasa (26/6). Di hadapan 103 peserta terdiri atas siswa SMA Se-kota Semarang dan mahasiswa S1 Unnes, Triyanto mengajak untuk memulai diri membiasakan menulis dari hal-hal paling sepele. Seperti, kegiatan sehari-hari, segala sesuatu yang ada di sekitar kita atau hal-hal menyenangkan seperti script film atau novel, bisa menjadi sebuah awal yang baik. ''Gemar menulis juga bisa membuat seseorang terbiasa mengekspresikan kemampuan berpikir dan menganalisa sesuatu.'' Lantas, bagaimana menulis yang baik? Pertanyaan itu dilontarkan salah seorang peserta pada acara yang diadakan Sampoerna Foundation (SF) melalui Sampoerna Foundation Scholars Club (SFSC) itu. Triyanto yang juga Redaktur Edisi Minggu Suara Merdeka menjelaskan, ada tujuh prinsip menulis yang baik. Yaitu mengandung fakta, konflik, memiliki karakter seorang tokoh, emosi, perjalanan waktu (feature), akses tanya dan unsur kebaruan. "Fakta adalah Tuhan dalam jurnalisme. Setiap hal itu bisa menjadi fakta asal tidak melanggar kode etik jurnalisme," jelasnya. Ditambahkannya, sebaiknya coba ubah sudut pandang dalam menulis. Jangan terpaku pada sudut pandang yang sering digunakan. Dengan begitu, sebuah kebenaran akan bisa dilihat dari berbagai sisi. "Meski ditulis dari sudut pandang berbeda-beda, sebuah peristiwa tak akan kehilangan maknanya. Sebuah kebenaran tidak pernah tunggal. Karena kebenaran bisa dipandang dari berbagai sisi," katanya. 5 Kota Besar Workshop bertajuk "Creating Future Writers (CFW)" itu, selain digelar di Semarang, juga di lima kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Banda Aceh. Menurut Citra Indah Lestari, media relations SF, CFW digelar dalam rangka menyukseskan gerakan gemar menulis dan membaca. "Kami bekerja sama dengan komunitas penulis Ubud Writers, dan melibatkan total 600 siswa SMA. Pelatihan menulis ini akan melibatkan penulis-penulis ternama Indonesia, seperti Agung Sentausa (sutradara film Garasi), AS Laksana, Budi Darma, Azhari, Reza Idria, Gunawan Maryanto, Anton Kurnia, dan penulis lainnya." Selama dua hari, selain dilatih menulis naratif, fiksi, skenario film, dan juga melihat beberapa cuplikan film, para peserta workshop juga diajak praktik langsung di lapangan. Diharapkan setelah pelatihan usai, mereka dapat menuangkan hasil pemikirannya dalam bentuk tulisan. Sehingga kreatifitas generasi muda Indonesia di seluruh daerah berkembang. (J8-56) |