| Rabu, 27 Juni 2007 | SEMARANG |
Sister City untuk Kota SetaraSEMARANG- Program sister city (kota kembar) antara Kota Semarang dengan kota-kota lain di dunia, diperlukan untuk perbandingan dalam banyak hal. Jalinan kerja sama itu bisa dimanfaatkan untuk melihat kemajuan kota lain, yang kemudian diadaptasikan dengan kondisi objektif Kota Semarang. Pakar hubungan internasional FISIP Undip Drs Tri Cahyo Utomo MA, Selasa (26/6), mengatakan, sejauh bisa dimanfaatkan secara optimal, kota kembar akan memberikan makna positif bagi perkembangan sebuah kota. Kerja sama dalam bentuk kota kembar juga dilakukan negara-negara lain di dunia. ' Seperti diberitakan, Wali Kota Sukawi Sutarip meminta persetujuan DPRD untuk menjalin sister city antara Semarang dengan Kota Fuzhou di Provinsi Fujian dan Beihai di Provinsi Guang Xi, China. Menurut Tri Cahyo, jalinan kota kembar sebaiknya dilakukan dengan kota yang setara. Semarang sebagai ibu kota provinsi sebaiknya menggandeng kota kembar yang juga ibu kota provinsi. Dia menilai tepat pilihan Pemkot untuk menjalin kota kembar dengan Fuzhou dan Beihai. ''Itu mengingat kedua kota merupakan ibu kota provinsi di China, yang dalam banyak hal memiliki masalah hampir sama dengan Kota Semarang.'' Strategis YMT Kepala Kantor Infokom Achyani menjelaskan, kerja sama sister city dengan Fuzhou dan Beihai punya nilai strategis. Pada pertemuan di Beihai yang diakhiri dengan penandatanganan Beihai Declaration, April lalu, ada kesepakatan untuk menjadikan Semarang menjadi pintu gerbang ke Pulau Jawa. Mengenai kota kembar dengan Brisbane, Achyani mengatakan, telah banyak keuntungan yang diperoleh. Semarang belajar banyak soal pertanian, pengembangan perkotaan, lingkungan hidup, transportasi dan pariwisata, industri, perdagangan dan industri, pendidikan ilmu pengetahuan dan teknoliogi, kesenian dan kebudayaan. ''Bidang-bidang itu memang menjadi muatan kerja sama kota kembar Semarang-Brisbane, yang ditandatangani 11 Januari 1993.'' (H9,H12-37) |