| Rabu, 27 Juni 2007 | BANYUMAS |
Pupusnya Impian sang Lulusan SDSIANG itu cuaca sangat panas, namun hal itu tak menyurutkan anak laki-laki ini untuk tetap menjalani pekerjaannya sehari-hari. Bersama gerobak dorongnya, dia tiap hari menjajakan dagangannya. Ya, dia adalah Arif Afandi. Anak ini boleh dibilang masih belia untuk menekuni sebuah pekerjaan ini. Di saat teman-temannya sibuk sekolah, justru dia harus memecahkan batu karang kehidupan demi memperoleh penghasilan sendiri di perantauan. Bagi dia yang saat ini usianya baru menginjak 15 tahun, tentu bukan cita-citanya untuk menjalani pekerjaan ini. Namun apa boleh buat, setelah lulus SD dia tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Padahal impiannya adalah bersekolah hingga menjadi sarjana. Bukan tanpa sebab dia tidak meneruskan sekolah, namun kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu menyebabkan remaja asal Tasikmalaya Jawa Barat ini harus rela membuang jauh impiannya untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Sejak empat bulan lalu, dia mulai menginjakkan kakinya ke Purbalingga sebagai penjaja es buah. Beban Keluarga Pendidikan bagi dia merupakan sesuatu yang sangat mahal. Dengan pekerjaan bapak yang hanya sebagai buruh harian di rumah, cukup sulit baginya untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itu, bekerja adalah salah satu jalan yang bisa dilakukannya agar tidak menjadi beban keluarganya. Awal mulanya, dia diajak oleh temannya yang lebih dulu merantau ke kabupaten ini sebagai penjual es buah. ''Waktu itu saya diajak Ujang yang lebih dulu berjualan di sini. Daripada nganggur di rumah karena tidak bisa melanjutkan sekolah ya saya terima tawaran itu,''terangnya polos. Sebenarnya penghasilan yang dia peroleh tak begitu besar, namun apa boleh buat dia tidak punya keahlian apa pun karena hanya lulusan SD. Namun hal tersebut tidak menyurutkannya untuk tetap bekerja. Meskipun gaji yang dia peroleh dari juragan hanya sebesar Rp 350.000 per bulan, dia masih bersyukur karena biaya tempat tinggal dan makan telah ditanggung juragan yang telah memiliki beberapa usaha penjualan es buah di beberapa lokasi ini. Semua bahan telah disediakan sang juragan, dia dan beberapa temannya hanya bertindak sebagai penjual saja. Tak kurang ada sekitar 11 orang yang berjualan di Kota Perwira ini. Tiap hari remaja ini menggelar dagangannya di Jalan DI Pandjaitan ini mulai pukul 09.00 hingga 16.00. Mungkin masih banyak Arif-Arif lain yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya, karena hingga kini masalah ekonomi seringkali menjadi penghalang pupusnya harapan dan impian bagi sebagian masyarakat. (Budi Setyawan-29) |