logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 25 Juni 2007 RAGAM
Line

Anemia Defisiensi Besi pada Anak Sekolah

Mendengar kata anemia, biasanya orang langsung teringat pada penyakit yang di kalangan masyarakat umum populer dengan sebutan kurang darah. PENYAKIT anemia muncul akibat penurunan jumlah dan mutu sel darah merah yang antara lain berfungsi sebagai sarana transportasi zat gizi serta oksigen untuk proses fisiologis dan biokimia jaringan tubuh.

Terkena anemia berarti pasokan oksigen dan zat-zat gizi ke seluruh tubuh berkurang sehingga menimbulkan dampak fisiologis dan psikologis.

Gejalanya dikenal sebagai 4 L, yakni letih, lemah, lesu, dan loyo. Di samping itu, muka pucat, kehilangan selera makan, sering pusing, sulit ber-konsentrasi, serta mudah terserang penyakit.

Ada dua tipe anemia, yaitu anemia gizi dan nongizi. Anemia gizi disebabkan oleh kekurangan zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan dan produksi sel-sel darah merah.

Penyebab anemia nongizi adalah pendarahan, misalnya luka karena kecelakaan, menstruasi, atau penyakit darah yang bersifat menurun, contohnya lain thalasemia dan hemofilia.

Anemia gizi dibagi menjadi beberapa jenis. Pertama, anemia gizi besi karena kekurangan pasokan zat gizi besi (Fe) yang merupakan inti molekul hemoglobin sebagai unsur utama sel darah merah.

Akibat anemia gizi besi terjadi pengecilan ukuran hemoglobin, kandungan hemoglobin rendah, serta pengurangan jumlah sel darah merah.

Kedua, anemia gizi vitamin E yang mengakibatkan integritas dinding sel darah merah lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap hemolisis atau sel darah merah pecah.

Ketiga, anemia gizi asam folat atau anemia megaloblastik dan makrositik. Keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit, dan belum matang.

Keempat, anemia gizi vitamin B12 atau pernicious. Keadaan dan ge-jalanya mirip anemia gizi asam folat, namun disertai gangguan pada sistem alat pencernaan bagian dalam.

Kelima, anemia gizi vitamin B6 atau disebut siderotic. Keadaannya mirip anemia gizi besi, namun jika darahnya dites secara laboratoris serum besinya normal.

Keenam, anemia pica. Penderitanya memiliki selera makan tidak lazim, contohnya makan tanah, kotoran, adonan semen, serpihan cat, atau minum minyak tanah.

Di Indonesia anemia gizi masih menjadi masalah gizi utama. Data hasil penelitian menunjukkan preva-lensi anemia gizi besi masih tinggi (Kodiyat, 1995).

Pada ibu hamil prevalensinya mencapai 63,5%, balita 55,5%, anak usia sekolah 20%-40%, wanita dewasa (30%-40%), pekerja berpenghasilan rendah 30%-40%, dan pria dewasa 20%-30%.

Penelitian lain oleh Pusponegoro menyebutkan anemia ditemukan pada 40,5% balita, 47,2% usia sekolah, 57,1% remaja putri, dan 50,9% ibu hamil.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pernah meneliti 1.000 anak sekolah di 11 provinsi dan hasilnya menunjukkan 20%-25% terkena anemia.

Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 menyebutkan prevalensi anemia pada anak 0-5 tahun 47%, anak usia sekolah dan remaja 26,5%, dan wanita usia subur 40%.

Sementara itu survei yang dilakukan khusus di DKI Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan angka prevalensi anemia pada anak balita 26,5% dan ibu hamil 43,5%.

Tahun 2001-2003 ada 2 juta ibu hamil menderita anemia gizi; 350 ribu berat bayi lahir rendah/tahun; 5 juta balita gizi kurang; serta 8,1 juta anak, 3,5 juta remaja, dan wanita usia subur menderita anemia gizi besi.

Berbagai kajian ilmiah menyimpulkan penderita gizi buruk juga menderita kekurangan zat besi yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Melihat beberapa hasil survei dan penelitian itu tampak jelas anemia, terutama anemia defisiensi besi masih menjadi persoalan serius pada anak-anak, ibu hamil, dan wanita pada umumnya.

Zat besi (Fe) adalah salah satu mikronutrien penting. Kekurangan zat besi pada ibu hamil, bayi, dan anak menyebabkan gangguan saraf.

Besi penting untuk membentuk mielin, aktivitas sel saraf, membantu berbagai enzim, dan pembentukan neurotransmiter atau semacam bahan kimia di otak.

Defisiensi besi menyebabkan gangguan pembentukan mielin. Anak yang mengalami gangguan itu menunjukkan keterlambatan motorik, pendengaran, penglihatan.

Mudah Stres

Sistem saraf otonom juga terganggu sehingga anak lebih mudah stres. Kekurangan neurotransmiter menyebabkan anak menjadi hiperaktif, kemampuan belajar turun, dan perkembangan terlambat.

Anak yang pernah mengalami defisiensi besi menunjukkan skor motorik, IQ verbal, dan IQ keseluruhan lebih rendah pada umur 11-14 tahun.

Bahkan bayi yang lahir dengan cadangan besi kurang menyebabkan fungsi mental dan psikomotorik yang kurang pada umur 5 tahun. Anemia pada ibu hamil dan balita perlu mendapat perhatian khusus, karena kedua kelompok tersebut merupakan ke-lompok yang memiliki masa emas sekaligus masa kritis.

Ibu hamil sangat memerlukan mineral, protein, dan asam folat. Balita yang memiliki masa tumbuh optimal termasuk otaknya juga sangat membutuhkan asupan itu .

Jika seorang ibu hamil dan balita kekurangan mineral (khususnya besi), protein, serta asam folat, bayinya dan anak itu berisiko mengalami kerusakan otak permanen.

Kerusakan otak permanen akan berakibat buruk pada proses perkembangan otaknya. Saat memasuki sekolah kecerdasan anak tersebut kurang.

Kerusakan sel otak permanen lebih berbahaya dari kerusakan sel-sel kulit. Sekali sel-sel otak rusak tidak mung-kin dikembalikan sebagaimana semula.

Berbeda dari kasus busung lapar. Kendati kulit keriput dan perut membuncit, dapat diatasi sehingga bisa pulih seperti sediakala.

Namun balita yang mengalami kerusakan otak permanen sulit diatasi. Dari situ dikhawatirkan terjadi lost generation atau generasi yang hilang akibat kecerdasannya kurang.

Pertumbuhan otak yang cepat adalah mulai janin dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Pada masa yang disebut masa emas itu pertumbuhan sel-sel otaknya mencapai 80%.

Sehubungan dengan itu kecukupan gizi zat besi harus mulai diperhatikan sejak anak-anak dalam kandungan ibunya.

Kebutuhan zat besi pada anak-anak rata-rata 5 mg/hari. Jumlah tersebut akan bertambah hingga 10 mg/hari jika mereka terkena infeksi.

Anemia defisiensi zat besi bisa terjadi pada anak yang menderita malnutrisi energi protein serta sindrom malabsorpsi lainnya.

Pada anemia gizi besi juga ditemukan ada hubungan timbal balik kecukupan asupan zat gizi, terutama besi dan protein dengan infeksi penyakit cacingan.

Sumber zat besi bisa diperoleh dari daging, hati, telur, susu, kacang tanah, kentang, buah, serta sayuran yang mengandung klorofil atau hijau daun.

Salah satu fokus penanganan anemia defisiensi besi adalah anak-anak usia sekolah karena berdasarkan penelitian hampir 50% di antara mereka terkena penyakit itu.

Kenyataan itu bisa dipahami karena orang tua sering abai terhadap kecukupan gizi anaknya. Pemahaman atas kebutuhan zat-zat gizi secara keseluruhan agak kurang.

Apalagi makanan yang diberikan sekarang cenderung kaya lemak dan karbohidrat, tetapi miskin mineral dan vitamin. Padahal kebutuhannya tidak terlalu besar.

Mungkin saja terjadi si anak gemuk tetapi tampak pucat, loyo, dan kurang lincah karena ternyata ia kekurangan zat besi.

Jika itu yang terjadi, bisa dibayangkan anak itu tidak akan bergairah mengikuti pelajaran sehingga berakibat prestasi belajarnya tidak memuaskan.

Apa yang akan terjadi kalau separo anak sekolah mengalami keadaan seperti itu? Masa depan bangsalah taruhannya karena mereka merupakan generasi penerus.

Sehubungan dengan itu ada beberapa upaya yang perlu ditempuh oleh pemerintah bersama-sama masyarakat yang didukung oleh swasta.

Pertama, terus menyosialisasikan masalah kecukupan dan kebutuhan gizi kepada masyarakat sehingga mereka sadar gizi.

Artinya, memiliki pengetahuan dan pemahaman bahwa makan tidak sekadar kenyang atau mewah, melainkan harus terpenuhi seluruh zat yang dibutuhkan tubuh.

Kedua, program makanan tambahan bagi anak sekolah perlu dilanjutkan dan dikembangkan, khususnya di kawasan-kawasan masyarakat miskin.

Untuk itu dibutuhkan dukungan swasta dalam hal pendanaan di samping instansi terkait, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta masyarakat sendiri.

Ketiga, dalam jangka pendek bagi anak sekolah yang sudah terkena anemia defisiensi besi bisa diberi suplemen zat besi baik berupa tablet maupun cairan.

Anak-anak yang mengalami anemia defisiensi besi karena cacingan butuh penanganan medis untuk mengatasi dan memberantas cacingnya.

Keempat, dalam jangka panjang penanggulangan anemia gizi diarah-kan melalui peningkatan pola hidup sehat dan bersih, serta norma keluarga sadar gizi.

Bagaimanapun mencegah lebih murah daripada mengobati, sehingga penekanan pada upaya mengonsumsi makanan bergizi cukup dan lengkap sangat dianjurkan. (Bambang Tri Subeno-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA