| Kamis, 21 Juni 2007 | SEMARANG |
Ulat dan Belalang Serang TembakauKENDAL- Sejak tiga pekan terakhir, sejumlah petani di Kecamatan Pegandon dan Gemuh, Kendal, mengeluhkan munculnya tiga jenis hama yang menyerang tanaman tembakau usia muda. Hama tanaman yang muncul hampir bersamaan itu adalah ulat daun, belalang, dan orong-orong. Luas areal tanaman tembakau yang diserang hama diperkirakan mencapai puluhan hektare. Antara lain di Desa Karangmulyo, Gubugsari, dan Pegandon. ''Kami sangat berharap dinas terkait membantu mencarikan jalan keluar untuk memberantas hama tersebut. Munculnya hama ulat, belalang, dan orong- orong dalam waktu bersamaan membuat pusing petani,'' tutur Cahyo (42), petani tembakau Desa Karangmulyo, Pegandon, kemarin. Dia menjelaskan, ulat berwarna hijau daun dengan panjang sekitar satu sentimeter itu sulit diberantas. ''Para petani sudah berupaya memberantas dengan menggunakan obat pembasmi hama, tapi sulit mati. Kami terpaksa membayar buruh untuk metani atau mengambil satu per satu ulat yang bersembunyi di balik daun tembakau,'' tuturnya. Jika ulat tidak dibasmi, lanjut dia, daun tembakau yang masih berusia satu bulan akan habis dimakan hama dalam waktu singkat. Dalam satu pohon tembakau, rata-rata terdapat satu hingga tiga ekor ulat. ''Untuk memberantas ulat harus dilakukan rutin setiap dua minggu sekali. Yang diambil adalah ulat dewasa yang sudah terlihat mata. Dalam dua minggu ke depan ulat kecil atau yang kini berupa larva akan tumbuh besar,'' kata Cahyo. Sejumlah petani memperkirakan merebaknya ulat daun dikarenakan musim yang tak menentu, akhir-akhir ini. Yaitu, panas dan turun hujan yang datang bergantian. Akibat serangan ulat dan belalang, sebagian besar daun tembakau yang rata-rata masih berusia satu bulan berlubang-lubang dan bahkan hanya menyisakan pelepah daun. Cuaca Tidak Menentu ''Untuk metani ulat di lahan tembakau seluas lebih kurang 3.000 m2 harus mengerahkan tiga buruh. Waktu metani sehari penuh dengan ongkos buruh Rp 25.000/orang/hari.'' Hal senada juga diungkapkan Zubaedah (40), petani yang lain. ''Selain ulat, hama belalang juga merebak dan memakan daun tembakau. Upaya membasmi hama tersebut juga sulit. Jika cuaca terus tidak menentu, panas serta hujan mengguyur tananan tembakau usia muda, maka kualitas daun akan terus menurun,'' papar petani pemilik lahan seluas 8.000 m2 itu. Tanaman tembakau usia satu bulan rata-rata memiliki ketinggian sekitar 20 sentimeter. ''Hama orong-orong memakan akar tanaman tembakau. Jika sudah menyerang, tanaman tembakau akan layu dan mati. Untuk membasmi lebih sulit daripada ulat dan belalang. Sebab, orong-orong bersembunyi di dalam tanah,'' kata Marno (52), petani di Gemuh. Kepala Disbunhut Pemkab Kendal Ir Sri Purwati didampingi Kasubdin Perlindungan Tanaman Ir V Sudarmadji mengemukakan, untuk membasmi ulat daun dan belalang harus disemprot dengan insektisida kontak langsung. ''Semprotan obat pembasmi hama harus mengenai tubuh ulat dan belalang secara langsung, agar hama itu mati. Petani juga harus lebih mengamati rutin untuk mengetahui lebih dini keberadaan ulat dan belalang. Dua jenis hama ini muncul seiring cuaca yang tidak menentu seperti saat ini. Untuk orong-orong, sejauh ini bukan merupakan hama potensial.'' (G15-37) |