logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 19 Juni 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Ilmu atau Gengsi

Bukan rahasia lagi jika kini para siswa yang lulus SMA lebih tertarik masuk ke PTN daripada PTS. Beberapa di antaranya memilih kuliah di luar negeri meski universitasnya kurang terkenal dengan alasan gengsi.

Siswa yang ke luar negeri ada 2 kemungkinan yaitu mendapat besiswa atau dengan biaya sendiri. Biasanya mutu universitas yang dipilih tidak jauh beda dengan perguruan tinggi swasta di tanah air.

Alasan mereka memilih PTN selain mutunya bagus juga biaya studinya relatif lebih murah daripada PTS. Alasan paling mendasari karena faktor prestise/gengsi. Mereka masuk ke PTN dengan beberapa jalur yaitu PMDK/PSSB, UM (Ujian Masuk) dan SPMB.

Jalur PSSB diikuti para siswa yang top ranking (minimal 3 besar konsisten di kelas meski beberapa di antaranya masuk 5 besar kelas) dan beberapa PTN di antaranya mennaratkan harus pernah memenangkan kejuaraan berskala nasional, seperti PTN favorit di Bandung. Beberapa PTN favorit mengadakan jalur USM/UM seperti ITB Bandung, UGM Yogya, Unpad Bandung dan Undip. Mungkin banyak orang beranggapan UM jalurnya orang berpotensi dengan kekayaannya/berduit ketimbang prestasinya. Pendapat ini benar, meski tidak 100% benar.

Saya ingin meluruskan hal ini. Dari pengalaman selama ini, para siswa di sekolah saya yang mendaftar jalur USM di ITB dan yang diterima adalah prestasi akademik di kelasnya kurang menonjol. Mereka top ranking termasuk saya enggan mendaftar di ITB karena uang sumbangan cukup mahal, minimal Rp 45 juta untuk UM daerah maupun minimal Rp 15 juta untuk USM terpusat.

Tapi bagaimana harus menghargai kebijakan Rektor ITB karena ini solusi menyikapi kerasnya persaingan memperebutkan mahasiswa baru. Cuma kuota calon mahasiswa lewat jalur UM sebaiknya proporsional dengan lewat SPMB, misalnya 30% UM dan 70% SPMB. Begitu pula yang diadakan Undip, bedanya sumbangan minimal di Undip Rp 10 juta untuk Fakultas Teknik dan Rp 15 juta untuk Fakultas Kedokteran.

Lain lagi dengan pelopor UM yakni "Kampus Biru" UGM Yogyakarta. Sebagian mahasiswa baru yang diterima UGM boleh dikata sebagian besar melalui jalur UM yakni 52%. Sedang SPMB cuma 18%. Sumbangan yang diterima juga bervariasi dari nol sampai Rp 20 juta lebih. Saya imbau pada adik-adik kelas, jangan takut mencoba masuk UGM melalui jalur UM, karena walau besar sumbangan juga diutamakan, tapi yang paling mempengaruhi adalah hasil tes. Hal ini sudah saya buktikan, beberapa teman sesama top ranking langganan minimal 3 besar di kelas saya diterima di fakultas favorit UGM dengan sumbangan minimal.

Bahkan beberapa di antaranya diterima dengan sumbangan nol. Jadi, walau beberapa calon mahasiswa yang masuk karena "kekayaannya" tetap ada, tapi yang berprestasi tetap lebih diutamakan untuk masuk ke UGM. Jangan gengsi memilih universitas, karena ini dapat berdampak buruk pada kelancaran studi selanjutnya.

Saya melihat banyak teman yang prestasinya kurang tapi juga dapat menembus PTN. Begitu pula bagi para siswa yang bersekolah ke luar negeri jangan gengsi karena jika memilih universitas yang mutunya asal-asalan tentu malah sia-sia, Harapan saya adik-adik kelas dapat menghayati arti dari pendidikan itu sendiri, bukan alasan gengsi.

Ricko Septian Wijaya

Siswa SMA Kolese Loyola, Semarang

Merasa Tahu dan

Merasa Benar

Orang yang yakin terhadap sesuatu, belum tentu tahu apa yang diyakininya. Orang yang percaya terhadap sesuatu, belum tentu tahu apa yang dipercayainya. Orang yang merasa tahu tentang sesuatu termasuk yang diyakininya belum tentu dia sebenarnya tahu tentang sesuatu itu. Juga sesuatu yang diyakini atau dipercayai oleh seseorang belum tentu benar.

Sebagai ilustrasi, sejak kelas 1 SD kebanyakan sudah dididik untuk merasa tahu sesuatu (bahkan mempercayai sesuatu yang belum tentu benar). Contoh, dalam buku latihan membaca/menulis anak kelas 1 SD ada gambar seorang anak yang di bawahnya bertuliskan "ini budi". Anak-anak kelas 1 SD diajari untuk membaca dan menulis "ini budi".

Seharusnya yang benar adalah "gambar budi" sehingga seharusnya tulisan di bawahnya berbunyi "ini gambar budi". Lebih lanjut, apakah benar anak yang digambar itu bernama "budi". Tidak ada yang tahu, tetapi gambar itu dianggap "budi", jadi semua yang membaca "ini budi" diminta percaya/yakin gambar itu adalah gambar anak bernama "budi".

Ilustrasi tersebut tidak menyalahkan buku pelajaran, sebab yang terpenting anak belajar membaca dan menulis. Tetapi dapat diambil hikmahnya, bahwa ternyata secara tidak sadar pola pikir diajarkan untuk mempercayai/meyakini sesuatu yang bukan sebenarnya.

Kemungkinan akibatnya sebagian terpola untuk mempercayai/meyakini bahwa sesuatu tersebut adalah demikian adanya. Mempertanyakan/mengkaji lebih jauh apakah hal/sesuatu itu memang benar demikian, termuat pada pepatah dalam bahasa Inggris, read between the lines.

Jadi, jika ada orang atau sekelompok merasa tahu atau merasa benar dan kemudian menganggap orang lain/kelompok lain tidak benar/sesat, belum tentu kalau mereka memang tahu/benar.

Tetapi yang terjadi, ada kelompok masyarakat yang merasa tahu dan merasa benar dan bertindak sebagai hakim bagi kelompok masyarakat yang lain yang dianggapnya tidak benar.

Akibatnya ada kelompok masyarakat yang "tertindas" oleh peng-hakim-an kelompok lain. Sesungguhnya, penilaian benar atau tidak, karena anggapan dan ... anggapan adalah katanya (Jawa: jare-ne). Apakah yang "jare-ne" itu benar? Seperti halnya "ini budi" hanya anggapan bahwa anak yang digambar itu bernama "budi", dan itu jare-ne penulis buku pelajaran SD.

Guru dan murid kelas 1 SD diminta (atau terpaksa) untuk percaya/yakin terhadap jare-ne penulis buku pelajaran itu. Seperti guru dan murid kelas 1 SD, sehari-hari kita diminta percaya/yakin pada "jare-ne". jare-ne orang lain, jare-ne tokoh masyarakat, jare-ne tokoh agama, jare-ne buku dan seterusnya. Dari banyak jare-ne itu kita menjadi merasa tahu dan merasa benar. Apakah sesungguhnya kita sudah tahu dan sudah benar?

Petrus Wijayanto

Jl Seruni 5, Salatiga

***

Unggah-ungguh

Perbankan

Saya nasabah Mandiri Visa sejak 2003 No 4137 1803 0054 7401, karena sesuatu hal pembayaran sekitar 6 bulan lalu tersendat. Sejak itu telepon silih berganti menagih dengan gonta-ganti orang. Kepada setiap penagih saya jelaskan alasan pembayaran yang tersendat. Ada yang memaklumi ada pula yang marah sampai bilang: "lebih baik jadi tukang becak saja". Apakah ini bahasa perbankan ?.

Terakhir saya ditelepon orang yang mengaku bernama Sdr Gatot yang langsung marah-marah dan bilang pada saya: "Dasar kere tidak punya duit tidak bisa bayar utang''. Ini bukan kredit panci (ini juga bahasa perbankan?). Terus dia bilang akan bikin geger kantor dan menelepon atasan saya, juga sambil marah-marah.

Terang saja atasan saya tidak terima, karena visa tanpa lewat atasan. Yang ingin saya tanyakan apakah Bank Mandiri terutama Mandiri Visa yang begitu besar tidak punya unggah-ungguh punya karyawan yang tidak mencerminkan institusi bank dalam menghadapi nasabah yang mempunyai masalah seperti saya.

Adi Budianto

Jl Cendana 13, Boyolali

***

Sopir Keren

Beberapa waktu lalu saya menumpang travel Rama tujuan Pekalongan. Saya mendapat pengalaman yang menakjubkan. Tampaknya sederhana, namun bagi saya istimewa, lantaran sopir travelnya keren. Tentu bukan karena mirip foto model atau bintang sinetron. Dalam perjalanan, ada orang yang tampaknya kurang waras berdiri di tengah jalan.

Sopir melambatkan kendaraan, tiba-tiba si orang mengetuk kaca samping sopir dengan keras. Anehnya sopir cuma tertawa, tidak mengumpat seperti biasa. Yang saya kagumi, kelihaiannya menyetir. Di jalanan yang datar dia membawa mobil berlari kencang, namun di jalanan yang berkelok dia melambatkan mobil.

Jalanan menanjak/enurun di Sukorejo Kendal yang biasanya membuat mata saya terpejam lantaran pening, menahan mual plus terkadang ditambah rasa ingin muntah, saat itu bisa terlewati dengan gembira. Menikmati pemandangan dengan mata terbuka lebar.

Tak hanya itu, Pak sopir yang mengaku bernama Sadli itu juga sangat ramah. Berkali-kali saya naik travel, baru kali itu saya mendapatkan sopir keren seperti beliau. Bersamanya, penumpang merasa nyaman dan aman. Terima kasih, Pak Sadli. Keprofesionalanmu menginspirasiku.

Siti Jazimah

Jagang Lor RT 3/RW 2 Salam, Magelang

***

Semua Bisa Menulis

Banyak surat datang ke rumah memberi semangat agar saya terus menulis surat pembaca. Surat seperti itu tentu membahagiakan. Tapi sejujurnya, saya lebih berbahagia bila siapa saja mau menulis. Saya yakin kok, semua bisa menulis. Pada awalnya memang terasa sulit karena menulis ibarat belajar naik sepeda.

Tidak ada orang yang tiba-tiba bisa mengendarai sepeda dengan mahir. Awalnya juga sempoyongan, menabrak pohon, tembok, pagar, bahkan orang yang sedang berjalan. Lutut terluka, belum sembuh, menabrak lagi. Lalu bagaimana mulai menulis. Pertama, mempelajari teori menulis baru praktik. Kedua, learn the hard way atau menulis dulu, teori belakangan.

Terserah mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman banyak orang, alternatif kedua nampaknya lebih bagus. Ingat, cara paling gampang memulai "debut" sebagai penulis ya dengan menulis. Tidak ada nasihat yang lebih manjur. Artinya, menulis adalah praktik, sehingga hanya dengan melakukannya kita menjadi "bisa".

Betul, yang diperlukan bukan bakat istimewa, tetapi lebih pada keinginan dan minat untuk mau memulai membangun kebiasaan menuangkan gagasan lewat tulisan. Stephen King pernah menasihati begini: kalau kamu ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kamu lakukan yaitu banyak membaca dan banyak menulis. Kata King, tidak ada jalan lain selain dua hal itu dan tidak ada jalan pintas.

Gampangnya, kalau tidak punya waktu membaca, kita tidak punya waktu (atau peralatan) untuk menulis. Betul, membaca memang memakan waktu dan layar teve telah mengambil sebagian besar waktu kita. Harus diakui, biang kerok kedodoran minat baca adalah televisi.

Padahal, meminjam ucapan Remy Silado, televisi telah secara langsung membelusukkan masyarakatnya ke pola budaya cangkeman, budaya instan, pamrih hadiah, konsumerisme, slogan gaya hidup dan kepribadian yang kian-ke mari.

Joko Suprayoga

Jl Dieng I/40 Perum Brangsong, Kendal

"Juru Bicara" Kebenaran

Sejarah mencatat sosok Amien Rais sebagai salah satu "lokomotif" pengerak reformasi bersama mahasiswa di tahun 1998 yang sukses merontokkan legitimasi kekuasaan Soeharto. Dalam pentas politik selanjutnya dia menjadi ketua MPR (1939-2004), meski sebetulnya juga ngebet menjadi RI 1.

Tokoh yang satu ini di kalangan para kuli tinta dikenal rajin melontarkan pernyataan yang bisa bikin merah telinga lawan politiknya. Seperti yang baru-baru ini, Amien bagitu ekstra berani melernparkan "bola panas" terkait dengan skandal dana Pilpres 2004, setelah terkuaknya kasus dugaan korupsi dana nonbujeter DKP-nya Rokhmin Dahuri digelar di sidang pengadilan. Termasuk menyinggung aliran dana dari AS.

Pada awalnya publik acung jempol atas pengakuan jujur Amien bahwa dirinya menerima dana DKP Rp 400 juta. Gebrakan dia selanjutnya berani menantang untuk "membuka kartu", agar skandal dana pilpres bisa dibeberkan secara transparan dan gamblang kepada masyarakat, sekaligus membuktikan dirinya tidak sendirian. Walau ada opini miring yang menganggap nyalinya kelewat PD.

Tapi apa mau dikata, ternyata rencana itu menjadi antiklimaks dan hanya sekadar gertak sambal sebab semua berakhir hanya dalam hitungan 12 menit di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta, lewat kompromi politik. Amien Rais ibarat panglima yang bersemangat mengayunkan kapak perang, tapi mendadak bertekuk lutut.

Hal ini membuktikan bahwa kejujuran masih menjadi barang langka di negeri ini dan tak sembarang orang berani "pasang badan" untuk menjadi "juru bicara kebenaran". Kendati toh itu figur sekaliber Amien Rais sekali pun. Lalu bagaimana dengan para elite politik yang lain?.

Berbeda dengan Inu Kencana, dosen kontroversial IPDN, yang berani membongkar borok almamaternya. Dia tak sekadar jujur mengungkap tentang kekerasan, lebih dari itu lewat bukunya IPDN Undercover Inu juga "bernyanyi" tentang narkoba, seks bebas dan aborsi yang terjadi di kampusnya.

Selayaknya Amien Rais belajar kepada Inu Kencana tentang arti sebuah kejujuran, yang datang dari hati nurani paling dalam dan benar-benar bersih dari kontaminasi politik. Di saat orang lebih suka cari aman dengan memilih menjadi "pengecut", ternyata Inu Kecana berani melawan arus untuk bersikap sebagai ksatria.

Sebetulnya negeri ini butuh lebih banyak orang yang bermental "petarung" seperti Inu kalau ingin menegakkan nilai kejujuran di atas segalanya, walau dengan segala risikonya. Seperti bunyi hadits Nabi Muhammad SAW: Qulil haqqo walau kaana murron, katakanlah kebenaran itu walau terasa pahit sekali pun.

S Joko Wiyono

Sudagaran RT 5/RW 1, Sukorejo

***

Surat Terbuka

untuk Bupati Demak

Saya membaca edaran PDAM Demak (kopi terlampir) yang memberitahu akan ada kenaikan tarif dasar air sebesar 59% di beberapa wilayah cakupannya termasuk daerah Mranggen. Saya sebagai warga Perumnas Pucang Gading yang masuk wilayah layanan PDAM Mranggen sesungguhnya tidak merasa kaget karena beberapa hari sebelum surat datang, sudah diberitaan oleh Suara Merdeka.

Yang tidak saya sukai, air ke Perumnas Pucang Gading baik yang masuk wilayah Desa Batursari maupun Desa Kebon Batur tidak bisa dikonsumsi untuk minum atau masak. Hanya bisa untuk mandi, sedangkan untuk keperluan masak harus beli kepada penjual air keliling.

Saya setuju dengan kenaikan tapi khusus yang airnya tidak bisa untuk masak dan minum hendaknya kenaikannya jangan lebih dari 50%, cukup 20% jadi tidak terlalu memberatkan. Jangan mentang-rnentang sudah disetujui oleh Dewan lantas seenaknya menaikkan tarif.

Apakah Bapak Direktur PDAM, anggota Dewan dan Bupati Demak mau mencoba meminum air PDAM di wilayah Perumnas Pucang Gading.Sebab air tersebut kalau dimasak meninggalkan endapan. Bagi warga Perumnas Pucang Gading , PDAM bukan Perusahaan Daerah Air Minum tapi Perusahaan Daerah Air Mandi.

Suprihono Setyawan

Jl Kebon Arum Slt VII/9 Mranggen, Demak

***

SPBU Ngabul

Saya berdomisili di Semarang yang ditempatkan bekerja di Ngabul, Jepara. Beberapa waktu lalu pagi-pagi benar saya mengisi bensin untuk motor di SPBU Ngabul. Saya membeli Rp 10.000 tapi yang saya herankan mulainya tidak dari nol, melainkan sudah menunjukkan 3.000 lebih. Karena saya beli Rp 10.000, seharusnya berhenti di angka 13.000, namun petugas menghentikan di angka 10.000 saja.

Karena dicurangi, saya langsung komplain ke petugas tersebut bahwa mulainya tidak dari nol. Tapi dia malah marah dan menyangkal. Saya mengalah namun tidak langsung pergi melainkan tetap di situ dan menunggu jarum pada meter bensin menunjuk. Dugaan saya benar, jarum meter bensin saya cuma naik sedikit, tidak seperti biasanya.

Saya tunjukkan pada petugas hingga dia kemudian memberi kekurangannya. Saya ingin melihat nama dia tapi tak bisa karena memakai jaket, padahal petugas lain sudah berseragam. Saya merasa dipermainkan, semoga hal tersebut tidak terulang lagi pada konsumen lain.

Kristian Jajang Saputra

Kalilangse 618 RT 5/RW 2, Semarang

***

Tanggapan RS Telogorejo

Menanggapi keluhan Ibu Henny Budihati di Surat Pembaca 13 Juni 2007, kami ucapkan terima kasih atas masukannya. Kami informasikan, manajemen RS Telogorejo telah menanggapi hal tersebut dengan serius secara intern. Mohon maaf bila petugas kami kurang berkenan di hati ibu dan masukan tersebut akan berharga dalam upaya rumah sakit memberi pelayanan yang lebih baik

Nana Noviada K SE MM

Humas RS Telogorejo


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA