logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 19 Juni 2007 NASIONAL
Line

Luka Mengering, Choirul Boleh Pulang

Ayahnya Bingung Jelaskan Kematian Ibunya

SEDIH campur gembira dirasakan Sutrisno, ayah kandung Choirul Anwar (4) dan Samad, kakeknya. Matanya berkaca-kaca saat mereka keluar dari ruang 13 Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang.

Sambil berjabat tangan dengan para perawat dan dokter, mereka membawa pulang Choirul setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit itu.

Ketiganya bergegas menuju pintu keluar rumah sakit. Dua ambulans kombinasi warna hijau tua dan muda milik Puskesmas Lekok Pasuruan, sejak pagi sudah menunggunya. Maklum, Senin (18/7) sekitar pukul 11.00 Choirul, salah satu korban penembakan tragedi di Alastlogo, diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan akhir di RSSA.

"Kondisi lukanya sudah kering dan metabolisme dan kegiatan kesehariannya juga sudah normal, ia sudah boleh pulang. nantinya untuk perawatan sehari-harinya akan ditangani Puskesmas Lekok," Subagyo, dokter spesialis bedah jantung dan paru RSSA yang jadi ketua tim dokter yang menangani Choirul.

Dalam operasi sebelumnya, dari dada anak itu diangkat 18 proyektil beragam ukuran 12 di antaranya serpihan logam kecil ukuran 0,5 milimeter (mm) dan 6 serpihan ukuran antara 2 mm x 1 mm hingga 7 mm x 13 mm.

Dokter Gozali, Kepala Puskesmas Lekok yang ikut menjemput Choirul mengaku sudah menyiapkan perawat khusus selama dalam perawatan rutin.

Selain itu, petugas dari Puskesmas Lekok akan mengantar Choirul ke RSSA Malang untuk pengawasan medis yang dijadwalkan pekan depan.

"Kita siap 24 jam bila dibutuhkan sewaktu-waktu oleh keluarga Choirul" tambah Gozali.

Cari Ibunya

Setibanya di rumah, Choirul tampak riang. Selain kangen bertemu dengan teman-teman sepermainannya, anak itu memamerkan beragam mainan yang diperolehnya selama ia dirawat di RSSA.

Apalagi dijanjikan oleh ayahnya akan dibelikan sepeda meski belum bisa mengendarainya.

Berbeda dari Sutrisno dan Samad, mereka masih kebingungan dan sedih bagaimana menjelaskan pada Choirul jika mencari ibunya. Padahal ibunya, Mistin, meninggal saat tragedi penembakan itu.

Selama anaknya dirawat, selalu dikatakan kalau ibunya ada di rumah menunggu kedatangan Choirul. "Saya dan kerabat lainnya bingung untuk menanggapi pertanyaan Irul - (panggilan Choirul) yang selalu mencari-cari ibunya" kata Samad.

Saat sendirian di luar ruangan, Sutrisno limbung karena terus teringat istrinya. Bagaimana saat istrinya sambil menggendong Irul mengingatkan padanya agar jangan dekat-dekat dengan keributan.

"Ia menyuruh saya secepatnya pulang, dan saya pun bilang akan segera menyusul," kata Sutris sambil bersandar ke tembok.

Menerawang jauh mengingat tragedi yang menimpa istrinya yang diterjang peluru marinir dari punggung tembus ke dada hingga tewas. Bahkan serpihannya mengenai dada Irul yang ada dalam gendongan Mistin.

Sementara Erwanto (25) masih terbaring di tempat tidur bersebelahan dengan Choirul. Dia masih menjalani pemeriksaan medis hingga Kamis mendatang.

Tim medis masih belum memperbolehkan pulang karena masih menunggu perkembangan setelah selang infusnya dilepas, Kamis (21/6) mendatang. (Wiharjono-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA