logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 19 Juni 2007 NASIONAL
Line

BURUH MIGRAN

Ceriyati Tak Tahan Hak-haknya Diingkari


SM/Antara KUNJUNGI CERIYATI: Sekjen Kementerian Hal Ehwal Dalam Negeri Malaysia Dato Seri Aseh Che Mat berdialog dengan Ceriyati, PRT asal Brebes, didampingi Wakil Dubes RI untuk Malaysia AM Fachir (kanan) di KBRI Kuala Lumpur, Senin (18/6).(30)

Jika di Malaysia dia dikenal sebagai Shamelin, di daerah asalnya Brebes akrab sebagai Ceriyati. Wanita 34 tahun ini menggemparkan Malaysia akhir pekan lalu. Senin (18/6) giliran Indonesia yang heboh.

BANYAK koran yang kemarin memuat gambar Ceriyati, tenaga kerja wanita asal Desa Kedungbokor RT 02/07, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, tengah ditolong petugas pemadam kebakaran.

Saat itu Ceriyati tengah berada di bagian luar lantai 12 Samarind Kondominium, Sentul Timur, Kuala Lumpur, sambil memegangi tali yang terbuat dari aneka jenis kain seperti gorden, selimut, dan baju.

Pemandangan itu tentu saja sungguh memiriskan. Ceriyati yang mencoba mendulang ringgit, malah menjadi ''bintang'' di negeri orang karena penderitaannya.

Ceriyati nekat melakukan aksi itu karena tidak tahan disiksa sang majikan. Dia sering dicekik, dikurung di kamar jika majikan pergi, diberi makan sekali sehari dan dilarang beribadah. Saat kabur pun luka-luka di tubuh masih membekas.

Ceriyati kabur dari lantai 15 lewat jendela. Tapi baru di lantai 12 dia ketakutan. Dia ngeri melihat ke bawah.

Penghuni kondominium yang melihat ada perempuan bergelantungan di ketinggian lantas menghubungi petugas pemadam kebakaran yang berada di sekitar apartemen. Ceriyati pun diselamatkan.

Saat ini, dia berada di bawah perlindungan KBRI di Kuala Lumpur.

"Sekarang dia sudah aman," ujar jubir Deplu Kristiarto Legowo. Menurut dia, Deplu RI melalui KBRI di Kuala Lumpur berusaha membantu Ceriyati itu untuk mendapatkan hak-haknya.

"KBRI masih mendengar keterangan dan pendapat dia. Setelah itu, KBRI akan membahas apa yang akan dilakukan selanjutnya."

Ditambahkan, sebelum dipulangkan ke Indonesia, KBRI akan membantu perempuan itu mendapatkan haknya yang teringkari.

"Jangan sampai dia pulang, hak-haknya belum didapat," ujarnya. Yang dimaksud hak antara lain gaji yang belum dibayarkan dan hukuman yang setimpal bagi penganiayanya.

Kejadian itu juga mengundang perhatian Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Ia menyatakan prihatin atas tindakan nekat Ceriyati.

"Kita tentunya prihatin dengan kejadian itu yang secara umum berkaitan dengan nasib kesejahteraan dari pekerja kita," katanya usai mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima Menlu India Pranab Mukherjee di Istana Wapres.

Sidang Parlemen

Tindakan nekat TKW tersebut juga mendapat perhatian pemerintah Malaysia. Kasus TKI malang ini dibawa ke sidang parlemen negeri jiran itu.

"Sekjen Kementerian Dalam Negeri dan Dirjen Tenaga Kerja serta Imigrasi Malaysia datang ke KBRI dan menyampaikan simpatinya. Mereka memberikan perhatian penuh membawa masalah ini ke sidang kabinet Malaysia hari ini (kemarin-Red)," tambah Hassan.

Sementara itu, suami Ceriyati, Ridwan (35), menuturkan, istrinya berangkat bekerja melalui perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia (PJTKI) Sumber Kencana Sejahtera (SKS) di Jakarta, sekitar 5 bulan lalu sebagai pembantu rumah tangga.

Sejak berangkat, dia tidak pernah sekali pun memberi kabar. Karena itu, dia kaget mendengar istrinya nekat berupaya lari dari lantai 15.

Ketika berangkat kondisi istrinya sehat, sehingga Ridwan mengaku kaget ketika ada pemberitaan tentang kenekatan istrinya.

Apalagi pada wajahnya terdapat beberapa luka memar. Ridwan menduga selama bekerja di Malaysia, istrinya mendapat tekanan dan siksaan.

"Istri saya bukan tipe orang yang mudah putus asa. Karena itu saya yakin, dia mengalami siksaan dan tertekan," jelasnya.

Selama bekerja, dia tidak pernah menerima kiriman uang dari istrinya. Karena itu, kebutuhan hidup kedua anaknya, Adi (9) dan Anggun (5), jadi berantakan. Dia terpaksa bekerja menjadi tenaga serabutan.

Karena khawatir atas nasib istrinya itu, dia meminta segera dipulangkan ke kampung di Brebes. Selain itu, dia juga menuntut gaji yang menjadi hak istrinya selama bekerja agar segera diberikan. Sedangkan kemungkinan melaporkan kasus dugaan penganiayaan ke polisi, dia menyatakan akan menunggu kepulangan istrinya lebih dahulu.

Sementara pihak asosiasi PPTKIS (dulunya PJTKI) Kabupaten Brebes, Agus Supriyanto mengatakan, pihaknya tida mempunyai data tentang keberangkatan Ceriyati menjadi TKI di Malaysia. Sebab, PJTKI SKS mempunyai cabang di Brebes baru dua bulan lalu. Karena dia berangkat lima bulan lalu, kemungkinan mendaftar langsung ke PJTKI SKS pusat di Jakarta.

Kepala Cabang PJTKI SKS Brebes H Nu'aim Yazid menyatakan, pihaknya tidak memiliki data keberangkatan TKW atas nama Ceriyati.(dtc,J16-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA