| Selasa, 19 Juni 2007 | NASIONAL |
DPR dan Presiden Belum Ada Titik Temu
JAKARTA- Rapat Konsultasi antara pimpinan DPR dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait interpelasi kebijakan pemerintah tentang kasus nuklir Iran belum membuahkan hasil. Namun pertemuan tersebut sudah tercapai komunikasi yang konstruktif antara kedua pihak. Demikian dikatakan Ketua DPR Agung Laksono dalam konferensi pers bersama Mensesneg Hatta Radjasa usai Rapat Konsultasi di kantor Kepresidenan di kompleks Istana, semalam. ''Belum ada hasilnya, tapi ada komunikasi-komunikasi. Kesepakatannya adalah agar komunikasi terus dilakukan, agar bisa disepakati formulanya nanti,'' kata Agung. Senada dengan Agung Hatta Radjasa mengatakan, dalam pertemuan itu terjadi dialog yang konstruktif dalam suasana yang sangat kondusif. Menurut Agung, dalam pertemuan tersebut pimpinan DPR hanya menyampaikan apa yang dirumuskan Bamus DPR yang sesuai dengan keinginan fraksi-fraksi yang ada. Fraksi-fraksi di DPR ingin ada kelanjutan dari interpelasi yang gagal dilakukan terkait policy pemerintah yang mendukung sanksi PBB terhadap Iran. Bantah Deadlock Ditanya apakah dalam pertemuan tersebut terjadi deadlock, Agung membantah. Menurutnya dalam pertemuan yang juga dihadiri Wakil Presiden, tiga Menko, Mensesneg, dan dua juru bicara Kepersidenan tersebut, ada rencana untuk melanjutkan sebuah pertemuan lagi. ''Kita berharap sebelum Kamis nanti sudah ada kepastian tentang kelanjutan pertemuan tersebut.'' Agung meminta spekulasi hadir tidaknya Presiden ke DPR untuk menjawab langsung Interpelasi jangan diperpanjang. Dia meminta agar menunggu hasil pertemuan berikutnya. ''Ya butuh waktu untuk itu, kita tunggu saa nanti,'' katanya. Sebelum pertemuan berlangsung Agung yang hadir bersama Wakil Ketua DPR RI Soetardjo Soerjogoeritno dan Zaenal Ma'arif menegaskan, kedatangan pimpinan DPR ke Istana bukanlah langkah yang berarti memaklumi ketidakhadiran Presiden menjawab Interpelasi DPR. Soetardjo mengatakan, dalam pertemuan tersebut dirinya berharap Presiden akan ringan kaki. Dia tidak setuju bila dalam menjawab intrepelasi presiden mewakilkan Wapres. ''Pokoknya saya berharap Presiden nantinya enteng sikil ke DPR. Harus Presiden, sudah hanya itu aja. Presiden suruh baca saja aturannya.'' Baik Agung, Soetardjo, dan Zaenal mengaku bahwa dalam pertemuan kali ini tidak ada pembahasan tentang bencana lumpur panas Lapindo. (F4-46) | ||||