| Selasa, 19 Juni 2007 | NASIONAL |
Keluarga Gagal Temui Abu Dujana
JAKARTA - Yusuf Sidiq Abdullah (8) bersama ibunya, Sri Mardiyati (35) dan kuasa hukum dari Tim Pembela Muslim (TPM) Qadhar Faisal kemarin mendatangi Mabes Polri dengan maksud bisa bertemu dengan Yusron Mahmudi atau dikenal sebagai Abu Dujana. Namun upaya itu gagal. Pihak kepolisian belum bisa memastikan kapan mereka bisa bertemu. Ketika ditemui di Mabes Polri, Sidiq menjelaskan proses penangkapan ayahnya beberapa hari lalu, yang dilihatnya sendiri. Siang itu (9/6), dia bersama ayahnya serta kedua adiknya, Salman Farisi Abdurrahman (5) dan Hilma Sofya (2) hendak melihat Pemilihan Kepada Desa (Pilkades). Mereka menumpang sepada motor. Dalam perjalanan dia melihat banyak orang duduk. Namun dia menganggap biasa apalagi saat itu ada hajat di desanya, di Kebarongan, Kemranjen, Banyumas. Tanpa diduga tiba-tiba ada orang yang memegangi sepeda motor yang sedang dikendarai ayahnya. Motor pun terjatuh dan menimpa Hilma. Namun, tidak menderita luka serius. Sidiq pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saat kejadian berlangsung, Sri Mardiyati sedang di rumah yang berjarak kira-kira 100 meter dari tempat kejadian bersama adik bungsunya, Fadil (6 bulan). Setelah sepeda motor terjatuh kedua tangannya dipegang dari belakang. Namun dia tidak tahu peris siapa yang memegang tangannya. Ayahnya kemudian jongkok dengan kedua tangan dikepala dan tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api. Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Wathoniyah Islamiyah Banyumas itu pun kaget. ''Ayah ditembak dari belakang,'' katanya lirih. Karena itu keluarga Abu Dujana melalui kuasa hukumnya dari Tim Pembela Muslim (TPM) merencanakan mempraperadilankan Kapolri ke pengadilan. Itu dilakukan karena penangkapan Yusron, Sabtu (9/6) dianggap bermasalah. Qadhar Faisal dari TPM menyatakan, tujuan gugatan praperadilan untuk memeriksa sah atau tidaknya penangkapan. Permohonan gugatan akan didaftarkan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Walau penangkapan Yusron dilakukan di Banyumas, namun gugutan tetap dilakukan di PN Jakarta Selatan. ''Kita akan menggugat Kapolri dan kantornya di PN Jakarta Selatan.'' Dia mengatakan, hakim perlu memeriksa sah atau tidaknya penangkapan Yusron Mahmudi. ''Yusron ditembak pada saat penangkapan oleh polisi dalam keadaan jongkok dan tangan di kepala,'' katanya. Menurut dia, pihak keluarga belum berhasil bertemu Yusron. Pihaknya harus mengajukan izin kepada Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanegara. Namun dia belum dapat ditemui karena sedang rapat. Qadhar menambahkan, melalaui asistennya, Makbul mengaku tidak mengetahui posisi Yusron alias Abu Dujana sekarang. ''Informasi tersebut masih di Bareskrim atau Densus 88,'' katanya mengutip asisten Wakapolri. Menurutnya, keluarga memiliki hak untuk bertemu dengan tersangka. ''Apalagi tersangka telah ditahan selama 8 hari dan keluarga sama sekali belum pernah menemuinya,'' ujarnya seraya menambahkan, dia akan memikirkan untuk menempuh langkah hukum jika tidak diizinkan bertemu Yusron. Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Bambang Hendarso mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan untuk mempertemukan Yusron Mahmudi dengan pihak keluarga. Bambang juga enggan mengatakan dimana keberadaan Yusron alias Abu Dujana. Qadhar mengatakan, pihak keluarga Yusron juga mengadu ke Komisi Perlindungan Anak (KPA) atas perlakuan polisi yang menembak Yusron didepan anak-anaknya. ''Kami bertemu Kak Seto dari KPA untuk membahas hal ini,'' kata Qadhar. Kerap Didatangi Dalam upaya mengejar anggota jaringan teroris, Detasemen Khusus 88 Antiteror terus mengawasi Kudus. Salah satu desa yang menjadi incaran pasukan tersebut adalah Desa Gribig, Kecamatan Gebog. Pj Kades Gribig Siswo Santoso saat ditemui di rumahnya Senin (18/6) menyatakan, desanya memang kerap didatangi orang-orang yang mengaku petugas. "Kemarin ada satu orang yang datang ke rumah saya dan menyatakan tengah memantau desa ini." Dia memastikan, sampai kemarin tidak ada warga Desa Gribig yang ditangkap. Waka Polres Kudus Kompol Sugeng Tiyarto juga belum menerima laporan ada warga yang ditangkap. Meski demikian, kemarin, juga beredar rumor Densus 88 menangkap seorang warga Desa Klumpit, Kecamatan Gebog. Namun, kabar itu langsung dibantah Pj Kades Klumpit Syukur. "Saya sudah memeriksa semua warga desa saya dan hingga sekarang (kemarin) belum ada yang merasa kehilangan anggota keluarganya." Beberapa tahun lalu, Kudus memang pernah dikejutkan dengan munculnya dua nama yang diduga terkait dengan terorisme di Indonesia. Mereka berdua tinggal di Desa Gribig. Yang pertama adalah Taufik Ahmad pernah ditangkap aparat meski akhirnya dilepaskan kembali karena tidak terbukti. Sampai saat ini dia masih berada di Gribig dan beraktifitas seperti biasa. Adapun satu nama lagi yakni Taufik Masduki atau lebih akarab dipanggil Taufik Kondang. Nama itu diambil dari nama bengkel elektronik yang pernah didirikannya "Kondang". Taufik Kondang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannnya. Dia menghilang sejak maraknya penangkapan orang-orang yang diduga terlibat jaringan Jamaah Islamiyah dua tahun lalu. Dari informasi yang dihimpun, Zarkasih, Abu Dujana, dan kawan-kawannya diduga masih ''disimpan'' di wilayah Yogyakarta. Mereka masih menjalani sejumlah pemeriksaan di sejumlah tempat, antara lain di Markas Kompi C Brimob, Sentolo, Kulonprogo dan Mako Brimob Baciro di Jl Kompol B Suprapto, Kota Yogyakarta. Mereka diperiksa untuk beberapa kasus, di antaranya kasus Poso dan kasus peledakan bom Hotel JW Marriott. Keberadaan mereka di Yogya terlihat dari pengamanan yang tidak seperti biasanya. Di Markas Kompi C Brimob Sentolo, misalnya. Pada hari biasa pos piket penjagaan hanya dijaga 3 atau 4 anggota Brimob, namun saat ini diawasi 6-8 orang di pintu masuk depan yang langsung menghubungkan jalan raya Yogyakarta-Wates. Sedang pintu lain yang biasa digunakan untuk keluar masuk, terutama di bagian barat yang berhubungan langsung dengan asrama, selalu tertutup. Bila pintu terbuka, terlihat ada 3 anggota Brimob berjaga. Bahkan pintu di dekat Polsek Sentolo juga ditutup rapat. Tidak ada satu pun anggota Polsek Sentolo yang berani keluar masuk seperti hari biasanya. Bahkan ketika beberapa wartawan hendak masuk lewat itu, beberapa polisi langsung memperingatkan. "Jangan masuk, Mas. Kami saja tidak berani masuk seenaknya. Semua harus lewat pintu depan," kata salah seorang anggota piket jaga yang berpangkat Briptu yang tak mau disebut namanya. Di markas Sentolo, beberapa kendaraan operasional yang biasanya digunakan oleh Densus 88 Antiteror seperti Kijang Innova, Avanza, Panther maupun mobil lainnya tampak diparkir di bagian belakang. Demikian pula satu buah mobil Rantis juga disiagakan ditempat itu. Pemeriksaan di Mako Brimob Baciro, antara lain dilakukan Sabtu (16/6). Penjagaan di tempat itu pun akhirnya diperketat. Beberapa kendaraan taktis (rantis) juga disiapkan di samping gedung utama Mako Brimob. (H35,dtc,J13-46,48) | ||||