logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 19 Juni 2007 SEMARANG
Line

Proyek LPJU Dinilai Terlalu Mahal

SALATIGA - Proyek lampu penerangan jalan umum (LPJU) oleh Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (PDLH) Kota Salatiga, dinilai terlalu mahal. Pasalnya, pagu anggaran Rp 7 miliar hanya untuk membuat 1.200 titik di satu kecamatan saja, yakni Kecamatan Sidomukti.

Demikian dikatakan Koordinator Forum Masyarakat Pengawas Proyek LPJU (Forppal) Yakub Adi Krisanto SH melalui telepon kepada Suara Merdeka, kemarin.

Staf pengajar di Fakultas Hukum (FH) UKSW itu mengatakan, penilaian dirinya terhadap proyek tersebut terlalu mahal lantaran membandingkannya dengan Kota Semarang dan Kabupaten Jepara.

Di kabupaten yang jumlah kecamatannya lebih 10 wilayah, hanya dianggarkan Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar saja. Itu pun untuk membuat 7.000 titik.

''Namun, mengapa Kota Salatiga yang hanya punya empat kecamatan bisa menganggarkan Rp 7 miliar untuk 1.200 titik? Lagi pula, anggaran tersebut ternyata hanya untuk satu wilayah kecamatan saja. Bisa-bisa Sidomukti akan menjadi kecamatan yang kencar-kencar.''

Selama berlangsungnya proses dan pengerjaan proyek tersebut, pihaknya akan selalu mengawasinya. Termasuk mengawasi kemungkinan dugaan KKN antara panitia dan rekanan atau pemegang merek peralatan listrik tertentu.

Bila kekhawatirannya tersebut benar-benar terjadi, dia akan mengajak segenap warga untuk menentukan sikap. Dia tak ingin kasus korupsi pengadaan buku wajib melalui PT Balai Pustaka senilai Rp 18,7 miliar terulang di Salatiga.

Saat aanwijzing Senin kemarin, ada 18 rekanan dari berbagai kota yang memasukkan penawarannya. Penawar terendah adalah PT Mega Elektronik Jaya dengan nilai Rp 5,48 miliar. Sedangkan penawar tertinggi Rp 6,853 miliar oleh PT Dwipa Konektra.

''Kami menghendaki panitia melakukan seleksi administrasi secara terbuka dan fair. Kalau nilai penawarannya terlalu rendah namun kualitas barangnya jelek, jangan sampai ditentukan menjadi pemenang,'' sambung dia.

Ketua Panitia lelang Ir Mustain mengatakan, pelelangan proyeknya sama sekali jauh dari adanya unsur-unsur KKN. ''Kalau tak bersih, bisa-bisa panitia pasti digantung,'' katanya.

Soal biaya yang dianggap Yakub terlalu mahal, menurut dia, hal itu tak hanya untuk bisa membeli 1.200 titik lampu saja, akan tetapi dipergunakan pula untuk pembelian tiang pancang, kabel-kabel, dan lainnya.

''Untuk sementara, tahun ini baru wilayah Kecamatan Sidomukti plus saja yang kami anggarkan. Mungkin tahun depan bisa ke Kecamatan Argomulyo, misalnya,'' ujar Tain. (A2-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA