logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 19 Juni 2007 SEMARANG
Line

Di Singapore School, Rahwana pun Berubah Tampan

DI jagat pakeliran, Prabu Rahwana selalu digambarkan sebagai raksasa dengan wajah mengerikan. Tubuhnya tinggi besar, rambutnya panjang-gimbal, dan tindak tanduknya jauh dari tatakrama. Singkatnya, pemegang tampuk kepemimpinan di Kerajaan Alengkadiraja itu merupakan gambaran keburukan.

Pakem pewayangan boleh saja mengatur semacam itu. Tapi ketika dipentaskan oleh para siswa Singapore School Semarang, di Amartapura Ballroom Hotel Grand Candi, baru-baru ini, Dasamuka-nama lain Rahwana-berubah sosok.

Alih-alih bertampang mengerikan, raksasa yang menculik Dewi Sinta dalam lakon Ramayana itu justru dimainkan siswa berwajah tampan.

Ya, Rahwana dengan wajah cute, memang sedikit susah dibayangkan. Tapi, begitulah inovasi pementasan para siswa-siswi Singapore School Semarang, yang berafiliasi dengan Singapore International School (SIS). Pementasan itu digelar dalam rangka perayaan kelulusan siswa-siswi sekolah tersebut.

Para siswa berhasil menghadirkan sendratari yang nyaris paripurna, dan mengundang tepuk tangan para orang tua yang menyaksikannya.

Liza Dwi Ardhiyanti, guru kelas K2 Singapore School menjelaskan, kegiatan itu diikuti 145 siswa dari kelas N1 sampai P5. Sebelumnya, mereka melalui proses latihan yang cukup panjang untuk bisa menghayati peran yang akan dimainkan.

''Untuk melatih mereka bukanlah hal yang mudah, mengingat latar belakang dan kebudayaan mereka yang berbeda-beda. Guru-guru yang melatihnya, sebelumnya telah dilatih oleh seorang koreografer,'' tutur Liza.

Ditambahkan, lakon Ramayana dipilih untuk memperkenalkan para siswa terhadap kebudayaan daerah.

Bangga

Perasaan bangga terpancar dari raut wajah para orang tua yang duduk di depan panggung. Tak jarang dari mereka mengabadikan penampilan putra-putrinya dengan kamera foto dan handycam.

Di tengah-tengah pertunjukan yang menghanyutkan itu, terdengar tawa keras dari deretan penonton, ketika menyaksikan ulah seorang siswa. Dalam sebuah adegan, Sinta dikelilingi oleh sekelompok anak berkostum merah yang menggambarkan kobaran api. Tak dinyana, salah sorang siswa yang turut berperan sebagai api itu keluar dari komposisi itu, dan justru asyik memperhatikan tokoh Rahwana yang berdiri di panggung.

Setelah puas memperhatikan, dia pun berniat kembali ke barisan. Namun tak ada temannya yang mau bergandengan tangan dengan ''api kecil'' itu. Sempat terjadi pertengkaran kecil yang membuat si guru kelas harus naik ke atas panggung untuk menenangkan. Syukurlah, insiden kecil itu bisa terselesaikan, dan pertunjukan bisa berlanjut hingga paripurna. (Roosalina, Achiar M Permana-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA