| Selasa, 19 Juni 2007 | EKONOMI |
Omzet Industri Jamu Rp 2,7 TriliunJAKARTA-Omzet industri jamu saat ini mencapai 300 juta dolar AS atau Rp 2,7 - Rp 3 triliun. Sedangkan untuk omzet dunia mencapai 20 miliar dolar AS dan untuk Asia mencapai 7,20 miliar dolar AS. Menurut Ketua GP Jamu DR Charles Saerang omzet industri jamu dapat terus meningkat apabila permasalahan kompleks yang dihadapi pengusaha jamu dapat dipecahkan bersama-sama. Yang melibatkan instansi atau departemen pemerintah yang terkait seperti Departemen Perindustrian, Kesehatan, Pertanian serta Departemen Perdagangan. ''Hingga kini industri jamu tidak hanya bermain dalam negeri saja namun sudah berkembang hingga ke negara Korea, Taiwan, Hongkong, Timur Tengah hingga Rusia,'' kata Charles Saerang usai beraudiensi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, baru-baru ini. Menindaklanjuti hasil pertemuan dan sesuai arahan dari Wapres, saat ini GP Jamu melakukan koordinasi dengan Kementerian Riset dan Teknologi perihal masalah Penelitian Tanaman Obat yang akan difokuskan pada, temulawak, sambiloto, pegagan, kencur dan jahe. ''Hal ini sangat penting dilakukan mengingat Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar, di antaranya kekayaan dan keanekaragaman sumber daya hayati nomor dua di dunia setelah Brazil,''ujarnya. Charles menambahkan dengan kekayaan 40.000 jenis tanaman, 2.000 di antaranya diyakini memiliki khasiat kesehatan, karena mengandung ramuan-ramuan tradisional yang digunakan sebagai bagian dari sistem pengobatan masyarakat luas sejak masa nenek moyang. Ada sekitar 1.266 anggota GP Jamu dan hanya sekitar 139 industri masuk kategori Industri Obat Tradisional (IOT) dan sisanya 1037 terdiri kelas IKOT (Industri Kecil Obat Tradisional) termasuk industri rumah tangga, dan berada di semua wilayah Indonesia. Disamping itu, untuk menyongsong Harmonisasi ASEAN 2010, Indonesia harus lebih mempersiapkan diri dalam hal standarisasi mutu dan produk. (D14-59) |