| Senin, 18 Juni 2007 | WACANA |
Surat PembacaPenggusuran Satpol PPAkhir-akhir ini sering terjadi penggusuran yang dilakukan Satpol PP. Kota Semarang yang sejak dulu terkenal kondusif sekarang berubah menjadi hutan rimba tempat berkumpulnya pemangsa dan korban. Isu santer yang berkembang adalah SPA (Semarang Pesona Asia), yang sering menjadi agenda gunjingan warga. Program ini tentu kontra produktif dengan apa yang diharapkan warga khususnya mereka yang berpendapatan rendah. Salah satu di antaranya pedagang kaki lima atau yang akrab disapa PKL. Wong cilik selalu menjadi korban dari program pemerintah yang notabene tidak punya rencana matang serta holistik di segala bidang. Alih-alih mendatangkan investor untuk menanamkan modalnya di Semarang. Dengan dalih mempercantik kota, Pemkot lewat Satpol PP malah makin gencar merazia PKL yang dianggap mengganggu tata rias Kota Semarang. Contoh PKL Kartini, mereka berjualan sudah cukup lama dan menggantungkan hidupnya dari berjualan di tempat tersebut. Anehnya walau cukup lama tidak ada larangan dari Pemkot bahkan ada LSM yang selalu menarik retribusi dengan berbagai alasan, salah satunya demi ''keamanan". Ini kan lucu. Di satu sisi tidak ada kepastian hukum (rechtzekerheid) tapi di sisi lain malah dijadikan lahan basah bagi komunitas tertentu. Pihak Pemkot sudah sewajarnya mengedepankan rasionalitas dan jangan emosional yang cenderung kekanak-kanakan. Jangan korbankan warga yang mencari nafkah demi sesuap nasi dengan program SPA yang tidak jelas arah rintangnya. Yang dipikirkan bersama adalah kesejahteraan sosial dan sudahkan SPA membawa kesejahteraan bagi warga atau malah kebalikannya?. Jangan jadikan Semarang hutan rimba yang menjadi arena bebas tanpa aturan main dalam pertarungan antara tiyang alit dengan tiyang elite. Pemkot harus lebih peka dengan keadaan ekonomi warganya, PKL berjualan juga demi melanjutkan kehidupan dan ini merupakan hak konstitusional setiap warga negara yang tercantum dalam UUD 1945. Kalau PKL melanggar aturan tata tertib mohon Pemkot mengarahkan serta memberi solusi konkrit, jangan cuma bisa ngusir, bongkar dan angkat. Saya kira anak kecil pun bisa bertindak demikian. Wajar saja bila kemarahan PKL tak terbendung lagi sebab masalah perut adalah perkara sensitif. Mari selesaikan masalah ini dengan kepala dingin agar menemui solusi cerdas. Afifur Rahman Jl Parang Baris 4 Tlogosari, Semarang Visi Indonesia 2030 Kalau punya cucu terlahir tahun ini, bersiaplah menikmati kesejahteraannya kelak. Sebab menurut prediksi, tahun 2030 perekonomian Indonesia berada urutan ke-5 dunia. Ya, visi Indonesia 2030 yang digagas Yayasan Indonesia Forum telah mengagendakan hal itu. Visi yang bisa dikategorikan mimpi memang selalu milik berbagai bangsa. Lihat saja Jepang setelah terpuruk karena derita bom atom segera bangkit dengan semangat bushido-nya. Malaysia terkena imbas krisis moneter dapat segera bergairah ketika tidak mau didikte dunia barat dan lainnya. Walau namanya visi namun boleh bermimpi. Apalagi di tanah air ini terdiri dari dua negeri yakni negeri Indonesia dan Republik Mimpi. Agus Eko Santoso Pondok R Patah Blok K1/21, Demak *** Ketangkasan Mayorette Santa Clara belum lama ini mengadakan lomba ketangkasan mayorette dan Demo Solo Perkusi (DSP) tingkat TK dan SD se-Jateng/DIY. Sayang, sekali event yang seharusnya menjadi ajang kreativitas ini malah menjengkelkan. Acara yang seharusnya dilaksanakan pukul 08.00, ternyata sampai pukul 08.30 trataknya baru dipasang. Akibatnya acara molor apalagi perlengkapan sound system buruk sehingga salah satu peserta harus meminjamkan CD-nya untuk kepentingan panitia. Demikian pula dengan DSP, pelaksanaan lomba molor 1 jam. Peraturan dan ketentuan yang dibuat panitia sebanyak 8 lembar, malah dilanggar sendiri. Padahal pada halaman pertama disebutkan, salah satu sasaran lomba adalah peserta yang bersedia menaati serta melaksanakan peraturan lomba. Hal ini terlihat pada DSP TK yang ditentukan sebagai juara 1 dirasa meragukan. Disebutkan butir (c) penampilan minimal 1 menit maksimal 2 menit, tetapi peserta bermain selama 3 menit 15 detik. Dewan juri memang terlihat tidak membawa stop watch tetapi hampir semua team official dari para peserta lain membawa alat tersebut dan menghitung waktu permainan peserta. Butir (e) peralatan disediakan oleh peserta, namun kenyataannya peserta juara 1 tidak membawa peralatan tersebut dan meminjam peralatan drum set saya. Semula saya keberatan tetapi seorang panitia meminta peralatan yang dipakai anak saya untuk peserta tersebut. Seluruh peserta DSP TK membawa peralatan kecuali peserta juara 1. Panitia sama sekali tidak menghargai usaha peserta yang mentaati aturan yang membutuhkan tenaga dan biaya ekstra. Panitia juga subyektif. Butir (g) uniform disarankan dari seragam Unit Drum Band, Peserta juara 1 tidak memakai uniform sama sekali, bahkan hanya memakai kaos singlet dan celana pendek. Padahal seluruh peserta lain memakai uniform lengkap. Panitia sama sekali tidak menghargai kesungguhan para peserta yang lain. Ketika saya dan kru peserta lain akan protes, diingatkan akan aturan panitia poin XVII; di mana untuk protes dikenakan biaya Rp 500.000. Sayang, "Santa Clara" yang seharusnya menjadi lambang sportivitas dan obyektivitas menjadi ajang memalukan. Adi Setiawan S Kom Jl Tlogosari Raya I/133, Semarang *** Servis Garuda Sehari sebelum berangkat ke Jakarta, saya check in di GA. Horison Semarang untuk penerbangan tanggal 4 Mei 2007 pukul15.45 WIB. Namun penerbangan tersebut batal dan dipindah ke flight terakhir. Mengingat waktunya mepet dengan sambungan ke luar negeri, saya minta pindah ke penerbangan yang lebih awal, tapi petugas mengatakan yang pukul 14.00 WIB baru bisa diketahui pada hari keberangkatan. Khawatir tertinggal dengan flight connecting, saya pergi ke Nusantara Travel beli tiket pukul 14.00 WIB berstatus OK, sehingga tak perlu jadi cadangan sekali pun bertanya-tanya mengapa data computer link pada saat sama bisa beda di dua tempat? Sindu Anwar Suprono SH Jl Argopuro 9, Semarang *** Tahan Gempa Gempa adalah getaran dari dalam bumi yang menjalar ke permukaan dan dapat mengguncang bangunan di atasnya. Cara paling efektif agar bangunan sederhana dapat tahan gempa adalah dengan memasang isolator di bawah bangunan, sehingga bangunan terisolasi dari tanah di bawahnya (dibebaskan dari guncangan tanah). Sejak tahun 1960 saya telah memasang isolator berupa lapisan pasir di bawah pondasi, di sekeliling pondasi dan di bawah lantai (ubin). Pada gempa Yogya setahun lalu bangunan semacam itu lebih tahan gempa. Manfaat lain dari lapisan pasir, bangunan tidak terpengaruh oleh kembang-susutnya tanah di bawahnya. Di negara maju seperti Amerika Japan dan sebagainya, isolator yang kuat (berupa alat mekanis) dipasang di bawah bangunan bertingkat banyak (multistory tall buildings) terutama rumah sakit. Ir Udiyanto Jl Cendana 14 Srondol Wetan, Semarang *** Layanan Pizza Hut Saya sudah lama berhubungan dengan Pizza Hut dan selama ini selalu mendapat layanan baik, hal ini karena saya sering pesan antar melalui Pizza Hut Simpanglima baik untuk kantor maupun rumah. Kebetulan, belum lama saya pindah ke Tembalang sehingga untuk pesan antar saya berhubungan dengan Pizza Hut Setiabudi. Untuk kali pertama, saya pesan antar dilayani dengan baik (struk terlampir). Kemudian saya pesan lagi (struk terlampir) dan dilayani dengan baik pula. Bahkan saya dikejutkan dengan layanannya karena hanya tinggal menyebutkan nomor telepon, data saya sudah disebutkan dengan baik oleh customer service-nya. Tetapi pada 18 Mei 2007, ketika saya melakukan pesan antar lagi, (walau data saya sudah ada) oleh customer service waktu itu pesanan saya ditolak dengan alasan area delivery service tidak menjangkau tempat saya. Beliau menjelaskan hal tersebut merupakan ketentuan baru. Betapa kecewa keluarga saya yang sudah mengharapkan bisa menikmati DVD dengan teman pizza, tetapi ditolak. Walau setelah saya telepon kembali, beliau menyatakan pesanan saya dapat diantar, tetapi hati ini sudah terlanjur kecewa. Mungkin Pizza Hut Setiabudi yang notabene baru dibuka mulai lupa bahwa unsur terpenting dari usahanya adalah pembeli. Untuk manajemen mohon data saya yang sudah ada di database dihapus saja, karena saya berjanji tidak akan menghubungi lagi. Happie Pardhiyanto Griya Tembalang Makmur Asri Jl Bulusan I Blok C/5 RT 6/RW 3, Semarang *** Tips Panjang Umur Kalau ada pertanyaan, apakah Bapak betah/tahan menjadi orang tua, pasti menjawab ya. Berdasarkan hasil seminar kesehatan, diklarifikasikan para dokter spesialis Penyakit Dalam, tahan hidup tua atau panjang umur sebenarnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Di antaranya pikiran, jangan dibebani masalah berat. Makan sehat seperti makanan di desa asli yang tidak dicampur bahan mengandung unsur kimia. Aktivitas sehat, olah raga ringan, jalan setengah jam, joging, otak selalu dimanfaatkan ke arah yang baik seperti membaca, menulis, mengisi TTS. Istirahat sehat, beristirahat/tidur 8 jam sehari. Disarankan jangan sampai orang tua selalu diam sendiri, duduk termenung, makan gorengan sambil nonton TV. Ini bisa berlama-lama dan akan menambah kolesterol. Saran dari pembinaan usia lanjut antara lain, tingkatkan ketakwaan, periksa kesehatan secara berkala dan pelihara kebersihan, pribadi dan lingkungan. Makan sesuai pedoman gizi berimbang, jaga dan tingkatkan kesegaran jasmani, kembangkan hobi sesuai kemampuan dan hindari risiko terjadinya kecelakaan. Juga mau menerima keadaan, sabar dan pasrah tetapi tetap berusaha serta menjalin hubungan baik dengan keluarga dan sesama. Peting, jangan merokok, narkoba dam jangan menganggap bahwa kehidupan seks tidak diperlukan lagi di masa tua. Jangan minum obat penenang dan penghilang rasa sakit tanpa aturan, jangan pemarah atau suka menyendiri dan sukalah tertawa bersama teman lain. Semoga Bapak/Ibu mampu melakukan saran tersebut agar tetap tahan tua, panjang umur. Moeljono HP Jl Banteng Utara VII/1, Semarang Cersil Nagabumi Sebagai penggemar cerita silat Nagabumi dan Saridin Mokong setiap kali terbit, dengan setia saya kumpulkan masing-masing sebagai klipping dan selanjutnya saya bendel. Beberapa minggu terakhir ini saya mengalami kesulitan, karena cerita silat Nagabumi ternyata penempatannya persis di sebelah belakangnya cerita Saridin Mokong. Akibatnya saya harus mengorbankan salah satunya yang saya merasa sangat sayang sekali. Saya percaya, besar kemungkinan, kesulitan ini juga dialami banyak pembaca lain dengan hobi mengoleksi dan mengkliping kedua cerita tersebut. Untuk dapat mengatasi keluhan ini mohon cerita silat Nagabumi dipindahkan ke halaman lain, misalnya ditempatkan di bawah iklan bioskop. Rama Widjaja (0291 431544) Perum Djarum Kapling 16 Pejaten, Kudus -Terima kasih masukannya, kami pertimbangkan-Red *** Kartu Matrix Saya pelanggan kartu Matrix merasa dikecewakan oleh program barunya. Waktu itu 3 sales datang ke kantor menawarkan program baru, salah satunya Corporate & Community (C & C). Sales menjelaskan, program tersebut bebas abonemen dan itu saya tanyakan berkali-kali yang dijawab betul, bebas abonemen. Masalah muncul setelah datang tagihan bulan pertama, ternyata terdapat biaya abonemen. Rekan saya ke gerai Indosat, jawabannya sangat tidak memuaskan. SPG hanya menjawab: "Ya itu salah salesnya bukan salah Indosat ". Apakah perusahaan sebesar dan sebonafide Indosat tidak ada koordinasi dengan salesnya. Sampai saat ini saya sengaja belum membayar tagihan tersebut, bukan masalah besarnya tagihan tetapi kejujuran Nurtadzkiroh Pegandekan RT 1/RW 2 Kemangkon, Purbalingga *** Siskampling Siskamling yang dalam praktiknya dikenal ronda merupakan budaya gotong royong yang sudah ada sejak lama dan khas nenek moyang. Pada dasarnya keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Seiring dengan perkembangan teknologi dan makin lunturnya gotong royong, sistem ronda tradisional yang selama ini dilakukan apakah masih relevan mengatasi keamanan lingkungan. Memang bila kegiatan ronda dilaksanakan menurut aturan yang berlaku, bisa menjamin keamanan lingkungan. Peronda sifatnya mengingatkan dan membantu karena pelaku kejahatan tidak kalah lihainya. Menurut pengamatan saya, zaman sekarang melaksanakan ronda sesuai aturan sangat sulit dipraktikkan. Hal ini karena kesibukan siang hari sangat tidak mungkin dengan ikhlas orang malam harinya melaksanakan ronda dengan keliling kampung apalagi di musim penghujan. Di salah satu desa di kabupaten saaya sistem ronda sbb: Setiap kelompok datang ke gardu pukul 21.00 untuk absen, duduk-duduk sampai pukul 23.00 dan pulang. Seandainya tidak datang didenda dengan sejumlah uang dan yang tidak ikut diharuskan membayar tiap bulan. Ada lagi wilayah di sebelah, untuk mengisi waktu di dalam gardu mereka bermain kartu gaple. Walau tidak pakai uang menurut saya, budaya main kartu tidak positif. Dampaknya anak-anak kecil di sekitarnya mengenal dan menjadi pintar main kartu. Memang kenyataanya ronda harus digalakkan tetapi kalau praktiknya tidak sesuai aturan yang berlaku akan berdampak kurang baik. Sementara ada desa lain yang masih menggunakan sistem jimpitan. Mungkin selama belum ada sistem format ronda yang sesuai dengan zaman masih perlu menggunakan sistem jimpitan. Menurut saya seharusnya pihak yang berkompeten seperti Kepolisian bersama pihak terkait mencari format dan sistem siskamling yang sesuai keadaan saat ini. Misal dapat menggunakan alat komunikasi dan memanfaatkan teknologi lainnya. Bambang Sugiarto SE Patemon RT 1/RW 4, Gombong *** Musim Undangan Teman saya berkelakar selain 2 musim kemarau dan hujan, masih ada 1 musim lagi. Apa itu? ''Musim undangan'', jawabnya tersenyum menyebut undangan dari si A, B, C dan seterusnya hanya dalam kurun waktu 1/2 bulan dan rata-rata malam Minggu atau Minggu siang. Repotnya, ada beberapa undangan yang tanggal dan bahkan jamnya berbarengan padahal tempatnya berjauhan. Susahnya lagi, si empunya hajat kebetulan bolo semua dan pusingnya lagi tanggal hajatan tanggal tua. Padahal ada yang meyakini bahwa undangan adalah semacam bentuk penghormatan si empunya hajat yang perlu diperhatikan si penerima undangan. Situasi dan kondisi ini tidak terlepas dari budaya yang hidup dan berkembang turun-temurun di masyarakat Bahkan suku di luar Jawa yang hidup di masyarakat Jawa ikut-ikutan melestarikan mitos Suro. Seperti, adanya pantangan orang punya hajat apapun (kecuali melahirkan) pada bulan Suro/Muharam. Sebaliknya, masyarakat menganggap bulan Besar/Dzulhijjah, Ruwah/Sakban, Safar adalah bulan afdol punya gawe. Akibatnya tidak ada pemerataan hajat karena di satu sisi ada penumpukan waktu hajat tapi di sisi lain ada penjarangan. Dua tahun lalu seorang teman pengajian sengaja nekat mengadakan mantu di bulan Suro/Muharam ngiras-ngirus menepis mitos pantangan. Sampai sekarang pengantinnya tetap akur dan sehat. Katanya, bulan Suro justru banyak berkah seperti keluarnya Nabi Nuh dari perut ikan raksasa, bertemunya kembali Adam dan Hawa di dunia, Nabi Musa selamat dari kejaran Firaun, Nabi Ibrahim selamat dari bara api. Meski begitu, kenapa bulan Suro malah dihindari dan siapa lagi yang berani melawan mitos Suro? Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran |