| Senin, 18 Juni 2007 | SEMARANG |
KAMPUSIANAPurnastudi Fikkes UnimusSEMARANG- Program DIII Analis Kesehatan Fikkes Unimus beberapa waktu lalu menggelar kegiatan purnastudi. Acara diikuti 54 mahasiswa program reguler dan kelas khusus yang akan menyelesaikan studi mereka. Ketua Program Studi Budi Santoso SKM menjelaskan, ajang tersebut dimanfaatkan untuk memberi pembekalan bagi mereka agar menguasai lapangan. Agendanya, antara lain Kunjungan Kerja Lapangan (KKL) di Laboratorium Pramita, Pabrik Susu Ultra Jaya, dan Balai Latihan Kerja di Bandung selama 6 hari berturut-turut. Selain itu, mahasiswa selama 6 minggu melakukan praktik belajar lapangan (PBL) di RS Dokter Sardjito Yogyakarta. (H29-18) Drama di Cambridge School SYAHDAN ada seorang putri duyung bernama Ariel, yang hidup di dasar samudra bertemu pangeran bernama Erick. Sejak bertemu, Ariel ingin sekali berubah menjadi manusia hanya karena ingin menjadi teman sang pangeran. Singkat kata, setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya putri Ariel berubah wujud menjadi manusia. Dan cita-citanya ingin menjadi teman sang pangeran bukan sekadar impian lagi. Selamanya ia bisa menjadi manusia dan berteman dengan Pangeran Erick. Ya, cerita di atas adalah sepenggal kisah drama musikal The Little Mermaid, sebuah cerita klasik yang dilakonkani empat puluh siswa Cambridge School. Berkostum penghuni laut seperti putri duyung, ikan, kepiting, cumi-cumi, mereka mencoba berakting layaknya bintang film meski tetap dengan gaya khas mereka, anak-anak. Sebuah pentas drama itu patut diacungi jempol. Karena seluruh naskah mulai prolog, dialog dan penutup semuanya menggunakan bahasa Inggris. Hebatnya, seluruh pemain berumur di bawah enam tahun itu fasih melafalkan bahasa Inggris. Menurut Joice Kartika Sari, kepala Cambridge School, cerita Little Mermaid telah diubah sedemikian rupa oleh para guru agar anak-anak mudah melakonkannya. Satu hal yang ditekankan Joice, yakni cerita ini mengandung banyak muatan moral yang bisa dipelajari anak-anak, yaitu tidak boleh pandang dalam berteman. "Putri Ariel yang hidup di dasar laut ingin berteman dengan pangeran Erick, seorang manusia. Pesan moral yang ditangkap yaitu making friends is beautiful. Anak-anak harus belajar bahwa banyak perbedaan budaya, suku, ras dan agama. Dan mereka harus bisa menerima perbedaan itu dan tidak menjadikannya hambatan dalam bergaul," terang dia. Pentas drama musikal yang dihadiri seluruh orang tua murid beserta keluarga besar Cambridge School itu, selain merayakan hari ulang tahun ke-3, juga sekaligus merayakan kelulusan siswa yang pertama bagi sekolah di Jl Teuku Umar ini. (Fani Ayudea-56) |