logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 Juni 2007 SEMARANG
Line

Petani Sraten Beralih Profesi

TUNTANG- Beberapa petani Sraten, Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, pada musim kemarau beralih profesi menjadi perajin batu bata. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan waktu tanam pada musim panas.

''Musim panas biasanya sawah kering karena kurang air. Karena itu, para buruh dan petani tidak menanam padi tetapi membuat batu bata untuk mengisi kekosongan waktu tersebut,'' kata Pujiati (50), buruh tani dan juga warga Sraten.

Pujiati mengatakan, sehari dia bisa mencetak 250 bata. Tiap 1.000 bata, dia diupah majikannya Rp 60.000. Sebelum mencetak batu bata itu, terlebih dahulu tanah dicampur brambut (kulit padi) dan diaduk dengan air dengan dicangkul dan diinjak-injak. Setelah halus, tanah tersebut dicetak dan dijemur di tanah lapang selama tiga hari sampai kering.

''Jika panas, batu bata bisa kering dalam waktu tiga hari. Tapi kalau musim hujan ya bisa sampai empat atau lima hari baru kering. Setelah kering, bata tersebut dirapikan dengan dikerik,'' jelas Pujiati.

Bata yang telah dikerik, kemudian digawang (disusun menjadi delapan lapis dengan diberi rongga angin) selama lima hari. Bata baru di bakar setelah ada sekitar 2.000 buah.

Hasil batu bata tersebut, menurut Pujiati, setelah jadi sudah ada yang mengambil. Tiap bata dipatok harga Rp 1.250 jika diambil sendiri oleh konsumen. (J12-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA