logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 Juni 2007 SEMARANG
Line

Taman Pring, Magnet Baru Wisata di Candi

  • Siap untuk Outbond, Kemah, hingga Benjidor
  • Oleh : Rony Yuwono

RATUSAN rumpun bambu tumbuh dengan tingginya. Hingga pada bagian atasnya melengkung ke sana kemari. Lengkungan batang bambu tersebut belakangan ini disadari warga dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) setempat, akan menciptakan magnet baru wisata alam. Baru-baru ini warga Dusun/ Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, bergotong royong mulai membuka ruang publik di tengah hutan bambu tersebut.

Masyarakat setempat juga merelakan tanahnya dibuat akses jalan masuk lokasi yang secara resmi dibuka pada Sabtu (16/ 6). Pembuatan jalan tanah tersebut sangat penting untuk menuju ke area wisata alam ini.

Tak kalah pentingnya, di tengah hutan bambu (yang kemudian disebut Taman Pring-Red) ini terdapat Candi Asu (Candi Lumpang). Benda purbakala ini diyakini lebih dulu ada sebelum Candi Gedongsongo. Hal itu mungkin tak banyak diketahui khalayak.

''Sebelum Candi Gedongsongo, dulu dibuat Candi Asu atau Candi Lumpang ini terlebih dulu. Jarak ke Gedongsongo sekitar satu setengah kilometer,'' kata Ngatono, Ketua Paguyuban Desa Wisata Desa Candi, Sabtu (16/ 6). Disebut Candi Asu karena di lokasi tersebut terdapat batu mirip anjing. Namun pada bagian kepalanya sudah hilang. Warga juga meyakini bahwa di sekitar candi ini terdapat kuburan seekor anjing. Di sebelah batu anjing ini terdapat lumpang dan candi kecil yang sudah tidak berbentuk karena sebagian batunya hilang. ''Banyak orang (kejawen) ziarah di candi ini,'' ucap Ngatono.

Ia menjelaskan, pada lahan seluas sekitar lima hektare yang dipenuhi pohon pring ini, pihaknya akan memfungsikan secara maksimal. Warga, lanjutnya, akan menyulap Taman Pring ini menjadi sebuah kompleks menyenangkan untuk outbond, kemah, pameran tanaman hias, dan wisata keluarga.

Mengurangi Kemacetan

Saat ini warga juga sedang menyiapkan homestay (rumah singgah di rumah penduduk) bagi pengunjung dari jauh. ''Namun kami akan seleksi secara ketat para tamunya. Kalau mereka berpasangan laki-laki dan perempuan harus bisa menunjukkan surat nikah. Sebab desa ini kental dengan kultur religius,'' ucap Said Riswanto, Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Candi.

Said mengungkapkan, untuk mendukung wisata Taman Pring, Pemkab Semarang diminta membuatkan jalan beraspal dan bangunan pendukung layaknya tempat wisata. ''Semua bangunan pelengkap dan tempat bermain keluarga diupayakan semua terbuat dari bambu,'' jelas dia.

Berkereta Kuda

Kepala Dispartabud Drs H Soeparwadi didampingi ketua tim kreatif Yossiadie BS, menjelaskan, pihaknya mendukung sepenuhnya Taman Pring untuk wisata alam. Dinas ini juga telah membantu dana sementara untuk membuat cungkup Candi Asu. ''Dalam peresmian ini kami isi dengan wisata baru Benjidor artinya berkereta kuda (bendi) dan diiringi musik jidor dari warga,'' kata Soeparwadi. Dengan adanya Benjidor, dia berharap dapat mengurangi kemacetan di jantung Kecamatan Bandungan. Karena, kuda-kuda di Bandungan dapat ditarik ke Desa Candi.

''Justru berkuda di Desa Candi lebih mengasyikkan sebab bisa melihat pemandangan alam yang elok,'' terang Yossi. Kesempatan pertama yang menikmati Benjidor adalah SD Al Azhar 29 Ngaliyan. Dari wisata Candi Lumpang dan menikmati Jidor, 90 peserta kemudian naik ke Candi Gedongsongo. (16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA