| Senin, 18 Juni 2007 | SEMARANG |
Ditandatangani MoU Unissula-Pemkab DemakDEMAK - Dominasi peradaban materi yang telah membudaya pada Bangsa Indonesia, menurut Rektor Unissula Prof Dr dr HM Rofiq Anwar Sp PA telah membentuk bangsa ini berjiwa kuli. Semua langkah dan kegiatan diukur dengan imbalan yang pantas. Termasuk dalam dunia pendidikan, banyak yang berpikir bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan. Kondisi tersebut berbalik 180 derajat, jika dibandingkan pada masa bangsa dalam perjuangan merebut kemerdekaan. ''Kalau kondisi seperti ini tidak segera disadari untuk dilakukan perubahan, bukan tidak mungkin bangsa kita akan semakin terpuruk,'' katanya dalam kuliah umum Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Sultan Agung (Unissula) di pendapa kabupaten Demak, kemarin. Selain Rofiq, tampil sebagai penceramah Bupati Demak Drs H Tafta Zani MM. Dalam kegiatan itu diikuti 80 pegawai di lingkungan Pemkab Demak yang menjadi mahasiswa pasca sarjana di Unissula. Sebelumnya, ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Unissula Semarang dengan Pemkab Demak terkait Ilmu Agama, Sosial Kependudukan, pembangunan Perkotaan, Pemberdayaan Masyarakat, Teknologi, Hukum dan Ekonomi, Kesehatan, Kewanitaan, Lingkungan Hidup. Rektor Unissula menambahkan, belakangan telah terjadi perubahan nilai-nilai pendidikan. Tidak sedikit sekolah yang mencetak anak didik yang pandai tetapi tidak kompetitif, sehingga mereka kalah bersaing di tengah masyarakat. Bahkan ada perubahan mengarah pada semakin tinggi memperoleh jenjang pendidikan, makin rendah tingkat kemandirian dan semangat kewirausahaannya. Karena itulah, menurut pendapatnya, kondisi yang demikian harus diubah. Belajar bukanlah untuk mendapat pekerjaan melainkan untuk memperoleh ilmu. Saat ini masih banyak keilmuan yang belum terpecahkan. Jika keilmuan ini dipelajari secara sungguh-sungguh, seseorang yang berpendidikan tidak perlu berpikir mencari kerja, karena pekerjaan akan datang sendiri. Keilmuan Pada masa merebut kemerdekaan, lanjut dia, bangsa ini berhasil mencetak para pejuang dalam mempertahankan jati diri bangsa. Mereka berjuang bukan untuk mendapatkan balasan uang, tetapi untuk masa depan bangsa. Melihat tantangan ke depan, yang membutuhkan sentuhan perjuangan adalah keilmuan dan teknologi. Bangsa memerlukan pejuang-pejuang ilmu pengetahuan untuk memecahkan persoalan yang terus berkembang di muka bumi.Persoalan yang perlu diperhatikan adalah pemahaman keilmuan dan penguasaan teknologi yang harus dibarengi dengan keimanan. ''Kalau hal tersebut teralisasi, Indonesia akan terlepas dari kondisi sekarang yakni bukan lagi bangsa berjiwa kuli.'' Sementara Tafta Zani lebih banyak mengupas strategi pembangunan yang perlu dilakukan untuk mengantarkan kemajuan suatu daerah. (H1-16) |