| Senin, 18 Juni 2007 | SEMARANG |
281 Ha Tanaman Padi Diserang TikusGROBOGAN-Hama tikus sejak beberapa minggu terakhir mengganas dan menyerang areal persawahan di Kabupaten Grobogan. Secara sporadis, hama merusak tanaman padi di beberapa tempat. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Ir Edhie Sudaryanto kemarin menyatakan, areal persawahan warga yang terserang hama tikus seluas 281 hektare. Areal tersebut berada di Kecamatan Ngaringan, Tawangharjo, Brati, Purwodadi, Toroh, Penawangan, Klambu, Godong, Karangrayung, Tegowanu, dan Gubug. ''Dinas saat ini secara intensif melakukan pemantuan dan pengamanan terhadap 1.741 hektare lahan yang diperkirakan rawan terhadap serbuan tikus,'' katanya. Menurutnya, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi koloni hewan pengerat itu. Di antaranya berupa pembagian racun untuk membunuh tikus. Selain itu warga dianjurkan untuk melakukan gropyokan disertai pengasapan (emposan) di lubang-lubang tempat persembunyian binatang itu. Cara ini, ungkap Edhie, terbukti efektif mengusir dan membunuh tikus. Untuk mendukung gerakan pemberantasan tikus, lanjut dia, telah disiapkan dana Rp 300 juta. Belum lagi ditambah bantuan berupa obat dan pestisida dari pemerintah Provinsi Jateng. Membikin Geram Serbuan ribuan ribu tikus itu tidak urung membuat geram dan jengkel para petani di beberapa kecamatan. Seperti diungkapkan Masruri dan Waluyo warga Desa Rajek, Kecamatan Godong kemarin. ''Bagaimana tidak jengkel batang padi sudah mulai dewasa banyak yang patah karena diserang tikus,'' ujarnya dengan nada kesal. Bagi dia dengan adanya serangan binatang tersebut produksi gabah di sawahnya seluas sekitar 6.000 m2 diperkirakan menyusut. Hal serupa diungkapkan Ramelan petani Desa Temurrejo Kecamatan Karangrayung. Akibat serangan tikus, sejumlah warga terpaksa memasang plastik pengaman yang dilingkarkan di sawah agar tidak menjadi sasaran berikutnya. Sedangkan di Desa Saban Kecamatan Gubug, warga memperbanyak gerakan gopyokan dan emposan seiring datangnya ribuan tikus yang menyerang sawah mereka. ''Mereka berkembang biak dengan membikin lubang di sepanjang pematang sawah. Akhirnya lubang tersebut kita asapi dan diberi racun untuk membunuh tikusnya,'' jelas Paryono petani Desa Saban. Tidak hanya itu menurut Paijan petani Desa Tinanding Kecamatan Godong warga bahkan menyewa pemburu tikus dengan upah sekitar Rp 25.000 untuk sekali mengenyahkan binatang tersebut. (hs-16) |