| Senin, 18 Juni 2007 | KEDU & DIY |
95% Dosen IPDN Harus DigantiYOGYAKARTA - Meski ada desakan untuk membubarkan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), namun Inu Kencana Syafii, salah seorang dosen IPDN, tetap tidak setuju apabila lembaga itu harus dibubarkan. Sebab, menurut Inu, yang paling utama dan harus dilakukan adalah mengganti orang-orang yang berada di IPDN. Hal ini disampaikannya pada bedah buku IPDN Undercover di Yogyakarta, Sabtu (16/6). Saat ini masalah yang paling mendasar yang perlu dibenahi oleh IPDN, lanjut dia, adalah SDM-nya. Inu bahkan mengatakan, untuk perbaikan tersebut maka lebih dari 95% dosen dan pegawainya harus diganti. Sebab, tambahnya, semua ini yang menyebabkan IPDN menjadi hancur adalah mereka-mereka itu. ''Maka seharusnya mereka itu yang tidak berada di IPDN, jangan lembaganya lalu dibubarkan,'' kata Inu. Dengan tegas Inu Kencana mengungkapkan, para pejabat dan pegawai di IPDN sengaja memelihara kasus yang ada saat ini agar bisa mendapatkan uang dari para praja. Maka, menurut dia, tidak mengherankan jika ada dosen yang baru bekerja dua tahun sudah mempunyai rumah tiga seharga lebih dari Rp 1 miliar. Mempersulit Pengungkapan Hal itu, tuturnya, tidak mengherankan lagi di kalangan IPDN. ''Tapi meski demikian saya tidak setuju jika IPDN dibubarkan. Sebab IPDN masih diperlukan untuk mendidik calon pamong praja,'' jelas Inu. Selain itu, lanjutnya, dengan dibubarkannya IPDN justru ditakutkan akan mempersulit mengungkap berbagai kasus yang ada di sana. ''Kalaupun terpaksa dibubarkan orang-orang yang bersalah tersebut harus ditindak dahulu. Kita serahkan saja keputusannya pada Presiden besok,'' tegasnya. Bedah buku yang diikuti sekitar 100 orang juga diwarnai dengan kejadian unik. Salah seorang peserta bedah buku, Harmezi, yang juga salah satu bekas murid Inu saat di IPDN menuturkan, Inu sendiri bersikap tidak konsisten. Bahkan dia pernah dipukul oleh Inu saat di kelas. ''Bukan sakit secara fisik, tetapi secara mental saya sangat sakit karena bapak memukul saya saat di depan kelas gara-gara terlambat. Saat itu bapak juga mengusir saya dari kelas,'' ujar Harmezi. Menanggapi pernyataan tersebut, Inu dengan tenang lalu meminta kepada mantan siswanya maju ke depan dan mempersilakannya membalas kejadian tersebut. Namun dengan bijak, mantan muridnya itu tidak mau memenuhi permintaan mantan dosennya. Dalam kesempatan itu, Haemezi hanya meminta waktu untuk bertemu empat mata dengan Inu seusai tampil sebagai pembicara. Dalam pertemuan itu, keduanya tidak mau menceritakan apa pun tapi yang jelas mereka tampak akrab. (sgt-70) |