| Senin, 18 Juni 2007 | KEDU & DIY |
''Yang Berharta dan Tak Punya, Semua Bisa Stres"YOGYAKARTA - Ratusan umat Buddha di Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (16/6) malam, memenuhi Vihara Karangjati, Jetis, untuk merayakan Waisak 2551 Tahun 2007. Perayaan Waisak yang dipimpin Bhikkhu Sacca Dhammo dari Mendut tersebut, berlangsung sederhana namun khidmat. Dalam perayaan Waisak dengan tema "Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia" ini, ratusan umat Buddha dari Yogyakarta dan sekitarnya khusyuk mendengarkan khotbah yang disampaikan Bhikku Dhammo. Ratusan umat tidak hanya dari warga keturunan saja, tetapi warga pribumi juga banyak yang hadir untuk mendengarkan khotbah. Usai berdoa, Bhikkhu Sacca Dhammo beserta umat Buddha langsung melakukan upacara Pradaksina (jalan kaki keliling Vihara Karangjati) sebanyak tiga kali. Upacara ini sebagai bentuk penghormatan kepada Tritakna, yakni Buddha, Dharma, dan Sangha. Selama mengelilingi vihara, semua umat diam sambil jalan dengan tangan di depan dada. Meski terkesan sederhana, upacara ini terasa khidmat. Apalagi hampir semua umat, baik anak-anak maupun orang tua, mengikuti jalannya upacara dengan khusyuk. Dalam khotbahnya Bhikkhu Sacca Dhammo lebih banyak mengajarkan bagaimana kita menyikapi hidup. Karena dalam kehidupan seperti sekarang ini, di mana dunia makin maju dan modern, tentunya banyak manusia stres dan depresi. Hal ini karena mereka tidak mampu menyikapi hidup dengan hati dan pikiran jernih. Dalam kehidupan yang serba ada, kata Bhikkhu Sacca Dhammo, apabila kita tidak bisa menyikapi hidup, maka kita akan terombang-ambing dalam kenistaan yang sangat menyiksa. Padahal semua itu terjadi karena ulah dan pikiran kita yang selalu memanjakan segala sesuatu yang sebenarnya tidak ada artinya alias semu. Hati dan Pikiran Namun, lanjutnya, untuk bisa menyikapi hidup tidak gampang. Semua itu harus diawali dengan hati dan pikiran kita yang bersedia hidup apa adanya. Akan tetapi, bukan berarti kita lalu tidak bekerja. Bekerja harus dilakukan karena itu kewajiban. Seperti yang dilakukan Pangeran Sidharta yang kemudian dikenal sebagai Sang Buddha. Dalam kehidupan yang serba kecukupan, kemudian dia pergi bertapa hanya sekadar untuk mencari kejernihan hidup yang hakiki. Sebab pada dasarnya hidup berkecukupan berlimpah harta atau tidak punya, itu sama saja hakikatnya. Bagi orang berlimpah harta ataupun mereka yang tidak punya, buktinya sama-sama bisa stres dan depresi. Orang yang berlimpah harta, bila selalu memikirkan hartanya apalagi takut kalau sampai hartanya hilang dicuri juga bisa stress. Begitu juga bagi mereka yang tidak punya, karena selalu berkhayal ingin punya harta tapi tidak bekerja lama-lama juga bisa depresi. ''Jadi banyak harta atau tidak itu sama saja, tergantung bagaimana kita menyikapinya,'' tuturnya. Jadi, kata Bhikkhu Sacca Dhammo, untuk mengatasi semuanya itu kita harus bisa dan pandai dalam menyikapi hidup. Namun untuk bisa menyikapi hidup, tentunya tidak mudah apalagi di era modern seperti sekarang ini. Maka yang paling utama agar kita bisa hidup tenang dan tidak banyak persoalan dalam mengarungi kehidupan ini, kunci utama adalah pikiran dan hati kita harus selalu jernih. (sgt-70) |