| Senin, 18 Juni 2007 | BUDAYA |
SPOTPerang Talkshow
MENGAPA tiba-tiba saja talkshow menjadi primadona akhir-akhir ini? Padahal, sebelumnya acara yang menampilkan wawancara itu kurang diminati. Dengan kata lain, talkshow cuma "objek pelengkap" acara stasiun televisi. Namun tahun ini bisa kita sebut tahun booming talkshow. Betapa tidak? Saat ini, tak ada stasiun televisi yang tak memiliki talkshow. Sebutlah, "Kick Andy" (Metro TV), "Senin Malam Show atau SMS" (Indosiar), "Om Farhan" (Antv), "Midnight Show" (SCTV), "Dewa-dewi Malam" (TPI), dan yang lagi naik daun "Empat Mata" Thukul Arwana (Trans 7). RCTI, beberapa tahun lalu, menayangkan acara sejenis. Namanya "Ebet Kadarusman Show". Ternyata acara itu mendulang sukses luar biasa. Sayang, setelah masa tayang habis, tak pernah muncul show lain. Semula talkshow televisi kita mengadopsi dari mancanegara. Ambil contoh "Oprah Winfery Show". Di negara asalnya, Amerika Serikat, kelihaian sang pemandu acara (host) menjadi barometer kesuksesan acara tersebut. Di televisi kita, fenomena yang terjadi sangat berbeda. Host kita terkadang kurang menguasai materi. Pertanyaan-pertanyaan pun berkesan klise. Celakanya, mungkin agar cepat memancing tawa pemirsa, sang pemandu melontarkan kalimat yang menyerempet ke arah pornografi. Bukan cuma itu. Jika perlu melakukan adegan norak. Itulah gambaran talkshow yang membanjiri layar televisi saat ini. Kualitas acara itu rata-rata sama. Terkadang juga menjemukan. Selain itu, talkshow di televisi kita cenderung menjiplak. Lihat saja, sang pemandu rata-rata berlatar belakang pelawak. Indro dan Taufik Savalas dalam "Senin Malam Show atau SMS", Deni dan Komeng dalam "Midnight Show", dan Eko Patrio dalam "Dewa-dewi Malam". Tentu tak talkshow itu bisa digeneralisasikan kurang bermutu. Ada pula yang patut diacungi jempol. Sebutlah, "Kick Andy". Sang pemandu, Andy F Noya, tampil begitu profesional. Booming talkshow saat ini pastilah menciptakan persaingan. Setiap acara berlomba-lomba memperebutkan mata dan hati pemirsa. Itulah tugas berat tim kreatif. Mereka harus pandai-pandai berinovasi, menciptakan jenis talkshow baru, menyempurnakan isi acara, dan memperindah penampilan. Dengan demikian, pastilah talkshow tersebut bakal merebut banyak permirsa. Jangan sekadar ikut tren atau bernafsu meraih rating tinggi. (53) |