| Senin, 18 Juni 2007 | BUDAYA |
Strategi Pengenalan Teater di Kalangan PelajarMEREBAKNYA bisnis hiburan seperti sinetron dan lagu-lagu pop membuat cabang kesenian yang tidak ngepop semacam teater mulai kehilangan peminat. Hal itu menjadi kegelisahan Teater 76 yang lahir dari lingkungan buruh PT Djarum Kudus. Dua tahun belakangan kelompok yang digawangi Asa Jatmiko itu gencar memperkenalkan seni peran kepada pelajar. "Sudah menjadi misi kami untuk memasyarakatkan teater kepada semua lapisan masyarakat," kata Asa Jatmiko. Selama ini ada kecendrungan teater identik dengan hal-hal yang berat. Akibatnya, peminat dan apresian teater pun semakin sedikit. Kesimpulan umum itu telah diurai Teater 76 dengan pementasan Sepasang Mata Indah. Di antaranya di SMA Keluarga dan SMA 2 Bae Kudus, beberapa waktu lalu. Naskah karya Kirdjomulyo tersebut mampu menjawab keterasingan teater di kalangan pelajar. Dengan naskah yang sarat humor dan penggarapan yang cair, kelompok teater itu memberikan jawaban bahwa teater pun sangat menyenangkan dan menarik. Dengan Sepasang Mata Indah para awak Teater 76 setidaknya telah memberi gambaran yang disenangi anak-anak muda, yakni menarik dan mengundang tawa. Seperti diakui Asa, Sepasang Mata Indah memang lebih cocok disajikan pada penonton remaja. Maka tidak heran jika dialog yang digelar selepas pementasan menjadi ajang pelampiasan keingintahuan pelajar terhadap proses teater. Lebih Serius Lepas dari kesuksesan Teater 76 dengan Sepasang Mata Indah, tampaknya mereka tidak serta merta puas mengkampanyekan teater yang ringan. Sepertinya mereka juga menyadari bahwa memang ada sesuatu yang agak "berat" dan serius. Sementara pementasan Senja dengan Dua Kelelawar di aula SMA 2 Kudus tampaknya memang mempunyai strategi yang agak berbeda. "Naskah ini memang lebih serius dari Sepasang Mata Indah, tapi kami mencoba memberikan pertunjukan yang berbeda," terang Asa. Meski Senja dengan Dua Kelelawar yang juga karya Kirdjomulyo lebih serius, naskah itu tetap menyisakan adegan-adegan lucu. Hanya konflik dan problematika yang disajikan lebih kompleks dan sedikit rumit. Kompleksitas dan kerumitan sudah barang tentu menimbulkan pertanyaan. Dengan cukup cerdik Teater 76 memanfaatkan situasi itu. Peristiwa yang terjadi pada babak pertama, yakni teka-teki terbunuhnya tokoh Mursiwi di rel kereta api dimanfaatkan sebagai sayembara bagi para pelajar. Di sela istirahat babak pertama, seorang MC masuk ke tegah panggung dan memberi pertanyaan. "Siapakah pembunuh Mursiwi? Silakan menulis jawaban di lembaran kertas yang tadi diberikan." Adanya sayembara sederhana itu ternyata membuat pelajar lebih tertib dan konsentrasi pada pertunjukan. (Sony Wibisono-45) |