| Kamis, 14 Juni 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAIsu Suap di Tengah Persiapan Piala AsiaTak sampai sebulan lagi, Piala Asia 2007 bakal bergulir. Indonesia mendapat kehormatan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menjadi salah satu dari empat negara tuan rumah. PSSI patut berbangga, terlebih kita ditunjuk sebagai penyelenggara final pada 29 Juli. Sebagai tuan rumah, tim nasional otomatis menjadi salah satu dari16 peserta putaran final. Sukses sebagai pelaksana dan mampu menghadirkan kesebelasan tangguh merupakan tantangan bagi PSSI. Kerusuhan penonton yang pada musim kompetisi lalu begitu memusingkan, merupakan salah satu ancaman yang harus diantisipasi secara matang. Rasa memiliki pada sebuah tim sering begitu berlebihan di negeri ini, sehingga hasil yang mengecewakan direspons dengan tindakan anarkis. PSSI pernah mendapat sanksi dilarang menggelar pertandingan internasional selama enam bulan pasca-ulah penonton dalam Piala Tiger 2004. Lawan-lawan di Piala Asia nanti adalah tim yang memiliki reputasi istimewa, bahkan di atas level Asia. Berada di Grup D, Indonesia menjamu Bahrain, Arab Saudi, dan semifinalis Piala Dunia 2002 Korea Selatan. Harapan yang secara realistis patut dibebankan kepada Ponaryo Astaman cs hanyalah penampilan yang tak memalukan. Lolos ke babak kedua merupakan harapan bersama. Tetapi, bercokolnya Arab Saudi dan Korsel harus disikapi secara rasional. Sementara Bahrain punya tradisi keseriusan prima dalam mempersiapkan timnas, seperti layaknya negara-negara di Timur Tengah. Tiga tim itu berpotensi menyulut emosi penonton, andai anak-anak asuhan Ivan Kolev gagal memberi perlawanan berarti. Dalam Piala Asia 2004 di China, kerusuhan penonton terjadi setelah tuan rumah dipermalukan Jepang 0-3 di babak final. Tidak ringan memang tugas PSSI. Fokus harus diperlihatkan dalam persiapan meskipun ada persoalan lain yang membelit. Kepengurusan Nurdin Halid kini sedang dipusingkan oleh dugaan suap terhadap Ketua Komisi Disiplin Togar Manahan Nero dan Kaharuddin Syah. Manajemen Penajam Medan Jaya mengaku telah memberikan uang Rp 100 juta kepada mereka, agar tahun lalu tak terdegradasi. Pernyataan itu dilontarkan setelah klub tersebut terkena sanksi karena meninggalkan lapangan pada salah satu pertandingan musim ini. Bila tak terbukti, persoalan berkembang menjadi pencemaran nama baik. Karenanya, penyelesaiannya harus tuntas tanpa mengurangi konsentrasi dalam mengondisikan suasana, tempat, maupun tim untuk Piala Asia. Kredibilitas lembaga dipertaruhkan untuk mengusutnya. Dalam sejarah, sebenarnya dunia sepak bola Indonesia telah lama diwarnai isu kolusi. Pada akhir 1970-an beberapa pemain timnas terbukti ''merugikan negara'' karena menerima suap dalam ajang Merdeka Games di Malaysia. ''Korupsi'' itu mengakibatkan timnas terpuruk, setelah melakukan start bagus. Pada awal 1980-an, kompetisi Galatama juga dinodai oleh masalah yang sama. Belakangan isu kolusi bergeser ke persoalan penyelenggaraan pertandingan, termasuk pada wasit dan oknum yang terlibat dalam keputusan-keputusan strategis organisasi. Bila memang isu itu benar, kasus yang dilontarkan manajemen Medan Jaya bakal bergulir bak bola salju. Namun apa pun risikonya, PSSI harus menuntaskannya. Keberhasilan sebuah kepengurusan tidak hanya diukur dari prestasi timnas. Sekarang, di depan mata, Nurdin Halid berpeluang mengukir dua kinerja positif dalam periode kedua kepengurusannya. Pertama, dia berkesempatan menjadi orang yang mengangkat pamor Indonesia karena kesuksesan dalam kinerja timnas maupun kepanitiaan Piala Asia. Kedua, mampu menunjukkan ketegasan dalam mengusut kasus suap yang menimpa kepengurusannya. |