| Kamis, 14 Juni 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAMengoptimalkan Soropadan Agro ExpoSoropadan Agro Expo III 2007 di Subterminal Agro Soropadan, Temanggung, resmi dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu kemarin. Kegiatan itu meliputi pameran, bursa, dan lelang komoditas pertanian, temu dan kontak bisnis, serta pemaparan produk-produk dan teknologi pertanian mutakhir. Juga tur diplomatik, kunjungan wisata, dan pentas seni. Enam belas duta besar negara sahabat hadir dalam pembukaan pameran komoditas agrobisnis terbesar di Jawa Tengah itu. Sembilan perwakilan duta besar juga menyaksikan berbagai kegiatan yang dijadwalkan akan berakhir pada 18 Juni tersebut. Pesertanya selain pemerintah kabupaten dan kota se-Jateng, lembaga keuangan dan perbankan, koperasi dan usaha kecil menengah, perguruan tinggi, lembaga pertanian, LSM, serta aneka industri. Investor atau pembeli yang menyatakan akan terlibat aktif antara lain dari Makassar, Surabaya, Madura, Jakarta, dan Bandung. Begitu banyak peminat, sehingga beberapa negara dan daerah terpaksa tidak bisa ikut akibat keterbatasan stan. Tema ''Membangun Mitra Meraih Pasar Modal'' sejalan dengan tujuan menjadikan ajang tersebut untuk mengangkat dan menggarap potensi pertanian agar mampu menembus pasar global. Sejak 2003 hingga tahun ini telah diselenggarakan dua kali ekspo, 20 kali pasar lelang forward komoditas pertanian, dan dua kali promosi agribisnis. Ekspo kedua tahun 2005 menghasilkan nilai transaksi Rp 132 miliar, dan tahun ini diharapkan meningkat. Tahun lalu digelar enam kali pasar lelang forward komoditas pertanian dengan transaksi Rp 742,47 miliar atau naik Rp 199,25 miliar dari tahun 2005 senilai Rp 543,22 miliar. Komoditas yang dilelang tidak terbatas pada beras, gula, dan jagung, melainkan juga gori atau nangka muda. Permintaan atas komoditas yang biasa dipakai untuk membuat gudeg itu mencapai 10 ton. Misi ekspo yang untuk sementara digelar tiap dua tahun sekali itu adalah mengangkat dan menggarap potensi-potensi pertanian di tingkat lokal, regional, dan nasional agar bisa bersaing secara terbuka dan profesional di pasar global. Di samping itu, mempromosikan produk unggulan untuk membuka peluang pasar baru serta memperluas jejaring agribisnis bagi produsen serta pengusaha. Diharapkan tercipta suatu forum yang mempertemukan para pelaku agribisnis dan petani selaku produsen agar sama-sama memetik keuntungan. Si pengusaha memeroleh barang, sedangkan petani bisa menawarkan dan menjual. Kegiatan ekspo, lelang, dan promosi produk-produk pertanian di Subterminal Agro Soropadan sangat penting jika melihat kenyataan provinsi ini memiliki banyak potensi di sektor pertanian. Namun selama ini di antara banyak potensi itu hanya sedikit yang tampil ke permukaan dan menunjukkan perannya dalam perekonomian. Jateng dikenal sebagai salah satu lumbung beras dan pemasok daging sapi nasional. Belum begitu tampak menonjol peran produk pertanian yang lain, misalnya buah-buahan, sayuran, serta tanaman hias atau hortikultura. Belum lagi hasil budidaya perikanan baik di air tawar, payau, maupun laut. Ketika berbicara soal pertanian, fokus kita seringkali hanya tertuju pada produk dan melupakan petani sebagai pelaku utamanya. Produksi dan harga bagus tidak identik dengan perbaikan kesejahteraan mereka. Maka kegiatan di Soropadan yang menerapkan konsep agrobisnis amat tepat dikaitkan dengan upaya mengangkat nasib petani. Mereka diajak memproduksi komoditas pertanian dengan prinsip-prinsip bisnis. Ke depan, medium itu perlu dioptimalkan karena mempunyai makna strategis dalam mengangkat potensi unggulan Jateng sekaligus menggairahkan roda perekonomian yang bertumpu pada sektor pertanian. |