| Kamis, 14 Juni 2007 | NASIONAL |
Seminar When East Meets WestHindari Bangkrut dengan Spiritualisme Bisnis
''KESERAKAHAN hal yang tepat,'' ucap Gordon Gekko, eksekutif perlente saat berbicara dengan pemegang saham perusahaan. ''Keserakahan, ingat kata-kata saya, tidak hanya akan menyelamatkan perusahaan, tetapi juga perusahaan lain di ujung jurang kebangkrutan Amerika,'' lanjut Gekko yang diperankan Micheal Douglas, dalam film Wall Street. Penggalan film akhir 80-an itu seakan mewakili ''ideologi'' Barat (west) yang kini banyak menuai kejayaan duniawai. Namun di dalamnya penuh dengan intrik, menghalalkan segala cara, termasuk ''memakan'' siapa pun yang jadi penghalang. Di tingkat pemimpin negara bahkan tak segan memberikan stempel agama teroris bagi Islam yang berasal dari Timur (East). Pengelola negara kuat pun bisa bertindak sama dengan pengelola perusahaan. Setelah melakukan pembunuhan karakter, maka ekspansi dan menguasai merupakan langkah berikutnya. Jika tidak bisa diserang secara fisik, maka dibuat negara-negara di Timur menjadi tergantung dan lemah. Timur harus mengeluarkan ongkos mahal membayar Barat agar tetap tegak berdiri. Hal di atas digambarkan gamblang melalui multimedia oleh Ary Ginanjar Agustian, pakar Emotional Spriritual Quotient (ESQ), dalam seminar When East Meets West - Spritual Capital, di Jakarta. Seminar internasional itu diikuti ribuan peserta, menghadirkan pembicara tamu Donah Zohar, fisikawan dan ahli filsafat Harvard University, dengan moderator Prof Dr Komarudin Hidayat. Mengawali pembicaraannya Zohar memberikan kesaksian bagaimana proses pengenalannya kepada agama (spriritual). Ahli fisika quantum itu meski dibesarkan di lingkungan Kristiani taat, karena pakerjaannya, akhirnya mempertemukan dengan banyak agama di dunia. Belakangan juga mempelajari Islam. ''Ada banyak persamaan substansial di semua agama,'' ucapnya. Dia mengakui di Barat, bisnis diidentikkan dengan pendapatan dan keuntungan. Kalau bisa, sebesar-besarnya dan secepat-cepatnya. Para pebisnis juga sering identik dengan orang-orang yang mementingkan diri sendiri, serakah, egois, oportunitis, berpikir jangka pendek, dan sejenisnya. ''Itu berlawanan dengan spiritualitas dari Timur yang kebanyakan diindentikkan dengan melayani, sikap-sikap altruistik dan asketis, termasuk mementingkan orang lain, berkorban, dan semacamnya,'' kata Zohar. Dari pendalaman itu, melalui keakrabannya dengan fisika quantum, dia menyimpulkan perlunya keseimbangan kehidupan bisnis dan spiritual. Terus Berulang Ary Ginanjar memaparkan perjalanan sejarah peradaban bangsa. Mulai dari zaman kejayaan hingga kejatuhannya. Jika dirunut seperti terus berulang. Misalnya di era Absolut Prancis 1989-1799, berakhir dengan revolusi. Lantas melahirkan zaman baru revolusi industri dan berujung kepada kejatuhan di zaman Bolshevik (Soviet). Senada dengan Zohar, Ary Ginanjar menyebut Megatren 2010 adalah kekuatan spriritual, fajar baru Concious Capitalism yang menghargai stakeholders dan shareholders, serta memimpin dari tengah yang bertumpu kepada nilai-nilai dan otoritas moral. ''Spiritualisme dalam bisnis telah dibuktikan Ellenn Fisher dari Medtronic yang memenangkan Spirit at Work Award. Kemudian Ford, Intel dan banyak perusahaan besar yang mau mensponsori berbagai jaringan berbasis agama. Komarudin sependapat dengan dua pembicara itu. Dia mengajak mengubah dunia dari diri sendiri. (Wahyu Atmaji-77) | ||||