logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 NASIONAL
Line

Tak Menyangka Abu Dujana Teroris

BANDUNG- Kediaman orang tua Abu Dujana alias Yusron Mahmudi alias Ainul Bahri di Kampung Cisadang, Desa Mandalasari, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung tampak sepi saat disambangi Rabu (13/6).

Dia disebut oleh sejumlah tetangga dan kerabat sudah lama menghilang. Usai lulus SMA, dia dikabarkan melawat ke Malaysia. Ketika nama tersebut dikait-kaitkan dengan teroris, sebagian warga tidak percaya.

"Saya tidak menyangka dia jadi begitu. Dulunya dia dikenal pintar dan paling kasep (tampan) di sini," tandas Yaya Sunarya (74) yang mengaku sebagai paman Abu Dujana.

Menurut dia, perubahan pria yang disebut-sebut terlibat dalam serangkaian aksi pengeboman di Tanah Air seperti di Hotel JW Marriot dan Kedubes Australia pada 2003 itu terasa sejak kepulangannya dari Malaysia.

Mulai dari tampang yang bersih hingga sikap keras dengan keyakinannya. Tak hanya itu, dia juga mendengar kabar bahwa Ainul membakar dokumentasi terutama foto dirinya ketika pulang.

Ditambahkan, ajakan ke negeri jiran itu ditawarkan oleh orang Pakistan. Mereka datang ke tsanawiyah di sekitar kampung. Hanya saja, apakah Ainul berangkat dengan orang tersebut tidak bisa dipastikan.

Yaya percaya jika keponakannya terlibat dalam aksi teror. Dia makin yakin setelah aksi penggerebekan terhadap Dr Azahari di Batu Malang pada 2005 gencar diwartakan.

Dia juga menunjuk salah satu foto Abu Dujana yang dikomparasikan dengan foto Yusron Mahmudi di sebuah media cetak mirip dengan tampang keponakannya. Menurut dia, keluarga sudah mengikhlaskan keberadaan Aen.

Luka Bakar

Tanggapan lain diberikan keponakannya. Menurut Diansyah (23), pihak keluarga merasa sedih dengan kabar soal pamannya itu, kendati mereka jarang bertemu. "Sedih karena jarang ketemu. Lagipula, keadaannya seperti ini," tandasnya.

Dia mengaku sempat bertemu pamannya saat datang sekitar tahun 2000 lalu. Karena datangnya malam-malam, dia tak sempat banyak melakukan kontak. Sepengetahuannya, pamannya itu juga tidak banyak melakukan aktivitas selama mudik itu kecuali menyambangi sanak saudaranya di sekitarnya.

Menurut teman sepermainannya Aep (37), Ainul tergolong siswa cerdas. Usai menamatkan pendidikan sampai tingkat tsanawiyah, dia melanjutkan pendidikannya ke SMA di Cimindi, Bandung.

"Dalam pergaulan, dia tidak menunjukan keanehan," katanya.

Perpisahan terjadi saat Aen memutuskan merantau ke Malaysia usai lulus SMA pada 1988.

Pada 1994, Ainul pulang kampung. Karena tidak percaya, ketika itu Ainul diminta menunjukan ciri-ciri di tubuhnya. Yang diingat Aep, Ainul memiliki luka bakar di sekitar bagian perutnya. Luka itu akibat sengatan lampu tempel saat masih duduk di sekolah dasar.

Mertua di Wonogiri

Tertangkapnya Abu Dujana juga menjadi pembicaraan masyarakat Wonogiri. Hal ini terkait dengan nama lain sebagai Ainul Bahri alias Abu Bahri.

Nama Ainul Bahri memiliki keterkaitan dengan Dusun Saratan, Desa Sumberagung, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri. Sebab di Dusun yang terletak sekitar 40 kilometer arah tenggara ibukota Kabupaten Wonogiri ini, Ainul pernah meminang Sri Mardiyati. Pernikahan Ainul Bahri dengan Sri, putri ketiga dari lima bersaudara keluarga Taru Taryono (62), ini berlangsung 1998.

''Saya betul sebagai mertuanya, tapi sampai sekarang belum pernah menerima kabar tentang tertangkapnya menantu saya itu,'' ujar Taru Taryono.

Didampingi istrinya, ia mengatakan, telah lama kehilangan lacak keberadaan menantunya itu. Sebab sejak 2002 sampai sekarang, Ainul dan istri serta anak-anaknya, jarang mudik ke Wonogiri.

''Bahkan di mana mereka sekarang pun, saya tidak lagi mengetahuinya,'' ujar Ny Taru sambil menahan haru keberadaan keluarga putrinya itu.

Dia menyebutkan, tidak mengira kalau kejadiannya menjadi seperti ini. ''Dulu awalnya baik, tapi kalau tahu begini (jadi buron teroris, maksudnya) tentu saja saya tidak rela putri saya dinikahinya,'' katanya lagi.

Taru sehari-harinya berkerja menjadi seorang pamong desa dengan jabatan Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa Sumberagung. Keluarga Taru dikaruniai lima anak. Satu pria dan empat perempuan. Sri putri nomor tiga. Keluarga Taru, merasa terpisahkan dengan Sri sejak 2002, ketika muncul kabar Ainul Bahri mulai jadi buron polisi, menyusul ledakan bom di Kantor Kedubes Australia di Jakarta dan kasus bom di Bali. Sejak 2002 itu, Sri yang telah dikaruniai dua anak, bagai menghilang.(dwi,P27-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA