logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 NASIONAL
Line

Catatan Pasca-STQ Nasional XIX Jakarta (2-Habis)

Dari Soal Kaderisasi Hingga Perpindahan "Atlet"

KEBERHASILAN yang diraih Herfan SAg sebagai qari terbaik pada Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional XIX Jakarta, 2-8 Juni lalu, memang prestasi yang sangat membanggakan. Namun, di sisi lain, hal itu memberikan beban ekstra kepada Kafilah Jateng untuk mempertahankannya pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXII tingkat nasional di Provinsi Banten, tahun depan.

Siapa pun, agaknya paham betul dengan jargon "Merebut jauh lebih mudah ketimbang mempertahankannya". Begitu pula dengan prestasi Herfan tersebut.

MTQ, dengan jumlah cabang yang jauh lebih banyak dibandingkan STQ, memberikan peluang untuk meraup kemenangan sebanyak-banyaknya. Bukan cuma pada cabang tilawah, melainkan juga tahfidz, tafsir, syarhil Quran, fahmil Quran, dan khat atau kaligrafi.

Sejak awal, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Jateng yang bertugas untuk menyiapkan kafilah, diminta memperhatikan persoalan kaderisasi qari/qariah, hafidz/hafidzah, maupun mufassir/mufassirah. Sebab, tanpa itu Jateng boleh jadi mengalami kekurangan kader untuk ajang semacam Seleksi Tilawatil Quran dan Musabaqah Tilawatil Quran (STQ/MTQ).

"Kaderisasi itu penting, supaya kita tidak sampai kehabisan calon peserta yang berkualitas untuk STQ/MTQ," kata Ketua Komisi E DPRD Jateng Iqbal Wibisono, ketika mengunjungi kafilah pada STQ Nasional XIX Jakarta di Asrama Haji Pondokgede, beberapa waktu lalu.

Banyaknya muka baru terkesan grogi berhadapan dengan dewan hakim pada STQ Nasional XIX Jakarta lalu, mengisyaratkan perlunya proses regenerasi berkesinambungan. Pada setiap pelaksanaan STQ/MTQ, harus ada qari/qariah, hafidz/hafidzah, atau mufassir/mufassirah yang dimagangkan. Dengan begitu, pada saatnya tampil mereka tak lagi jeri atau gentar maju ke majelis musabaqah.

Sekretaris LPTQ Jateng Drs Moh Ahyani menyatakan, langkah pemagangan selama ini sudah dilakukan. Pada setiap pengiriman kafilah, selalu tidak gampang untuk mencari bibit "atlet" untuk mengikuti musabaqah. Menurut dia, perlu peran lebih aktif dari kabupaten/kota sebagai pemasok bibit-bibit unggul itu untuk melakukan pembinaan. (Achiar M Permana-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA