| Kamis, 14 Juni 2007 | NASIONAL |
TEKNOLOGI Dari Calon Tapak PLTN Ujung Lemah Abang (1)Penduduk Inginkan Sosialisasi Seutuhnya
Rencana pemerintah menjadikan Ujung Lemah Abang menjadi salah satu tapak (lokasi) PLTN disambut pro dan kontra masyarakat Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Lokasi Lemah Abang berjarak kurang lebih 30 km dari Jepara Kota. Berikut ini laporan mengenai desa dan kondisi masyarakatnya. SEBAGIAN warga Desa Balong mendukung, ada pula yang menolak, dan sebagian lagi masa bodoh dengan rencana pembangunan PLTN. Hariyanto, kamituwa (kepala dusun) Sidorejo Timur mengatakan, selagi pembangunan tersebut masih menguntungkan warga desanya, dia tetap setuju. Diharapkan dengan adanya PLTN dapat menyerap tenaga kerja dari Desa Balong, sehingga bisa mengangkat taraf hidup masyarakat. Di beberapa kota terjadi aksi menolak pembangunan PLTN di semenanjung Muria, namun warga Desa Balong tidak demikian. Malah di desa yang dijadikan calon lokasi PLTN tersebut tampak adem ayem. Di sepanjang desa tidak ada spanduk yang menentang maupun yang mendukung rencana megaproyek tersebut. "Warga di sini ayem tentrem saja, tidak ada pergolakan yang berarti," ujar Nursid, salah satu perangkat desa setempat. Dia menambahkan, selama ini dari pihak Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) hanya mengadakan penelitian, mengambil sampel tanah. Tidak lebih dari itu. Hingga kini, masyarakat sudah kebal dengan isu-isu yang berkembang seperti sekarang ini. "Saat ada demo di Ngabul, warga sini malah banyak yang tidak tahu," sambung Hariyanto. Warga sebenarnya menginginkan untuk diajak tukar pendapat menyangkut rencana proyek tersebut. "Warga ingin sosialisasi tentang dampak kerugian dan manfaat dari tenaga nuklir, sehingga warga cukup mendapatkan informasi," ungkap Moh Parno, sekretaris desa setempat. Dia menambahkan, hingga sekarang dari pihak Batan hanya datang melakukan survei tempat, membawa contoh tanah, lalu pergi lagi. Untuk rencana selanjutnya, warga tidak banyak tahu. Menurut pengakuan beberapa warga, pada 1990 di sekitar areal Ujung Lemah Abang yang menjadi milik PTPN XVIII tersebut dilakukan pengeboran untuk diambil sampel tanah. "Terdapat 15 titik pengeboran, di Beji malah sampai mengeluarkan air karena dibor sampai dalam. Setelah itu contoh tanah dibungkus plastik," ucap Sandy (40), penduduk setempat. Selain melakukan pengeboran, warga juga menyaksikan sisi tebing dibuat gua yang dalam dan lebarnya kurang lebih 10 meter. Hingga kini warga pun tidak tahu untuk apa gua tersebut. Mereka juga mengaku tidak tahu apa yang dilakukan pihak Batan, karena setelah melakukan survei, warga tidak diberikan informasi yang jelas. "Kami saat itu hanya menduga-duga," kata Sandy menambahkan. Warga Desa Balong terdiri atas enam dusun, yaitu Gondosari, Balong Krajan, Sidorejo Timur, Sidorejo Tengah, Sidorejo Barat dan Nggrecak. Desa itu dihuni 1.500 KK berpenduduk 6.000 jiwa. Selama ini, Batan sering memberikan bantuan berupa bibit padi, pupuk, pakan ternak, dan ternak. Batan juga akan memberikan beasiswa kepada 10 pelajar asal desa yang dijadikan tapak PLTN, untuk studi di Sekolah Tinggi Teknik Nuklir (STTN) Yogyakarta. "Tahun 2006 kami mengajukan proposal untuk meminta bantuan dalam acara sedekah bumi, dan saat itu dibantu satu ekor kerbau," tambah Parno. (Budi Cahyono-60) | ||||