| Kamis, 14 Juni 2007 | NASIONAL |
Warga Kemranjen Khawatir Dicap Sarang TerorisBANYUMAS-Pernyataan resmi Mabes Polri bahwa Yusron Mahmudi alias Mahfud (37) yang ditangkap Densus 88 pada Sabtu (9/6) adalah Abu Dujana, membuat warga Desa Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas waswas. Mereka khawatir desanya dicap sebagai sarang teroris. Sebab, Abu Dujana adalah salah satu gembong teroris yang sudah lama diburu polisi. Teroris buronan itu ternyata bisa ditangkap di Desa Kebarongan. Apalagi sampai saat ini, rumah yang ditempati Yusron masih tertutup rapat dibatasi garis polisi. Warga menjadi semakin takut, ternyata rumah itu dihuni gembong teroris. Seperti diberitakan, Yusron Mahmudi alias Mahfud yang belakangan dinyatakan sebagai Abu Dujana, ditangkap Sabtu (9/6) di dekat rumahnya Desa Kebarongan RT 3/3, Kecamatan Kemranjen, Banyumas. Selain menangkap Yusron, Densus 88 juga membawa serta Sri Mardiyati (34), istri Yusron, dan anak-anaknya. Hingga kini keberadaan mereka tak ada yang tahu secara pasti. Mumun (35), salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari rumah Yusron, mengatakan warga di desanya yang semula tenang, kini jadi resah. Sebab setelah tahu Yusron dipastikan Abu Dujana, banyak warga desa lain mencap desanya sebagai sarang teroris. ''Warga di sini resah karena rumah Yusron masih terkunci rapat dan tak boleh disentuh. Warga menginginkan rumah itu segera dicek, agar bisa tahu apa yang ada di dalamnya,'' tuturnya. Mengenai kemiripan Yusron dengan Abu Dujana, dia juga meyakininya. Sebab setelah diperlihatkan gambar Abu Dujana yang sudah agak kusam, wajahnya sama persis dengan Yusron yang selama ini tinggal di Desa Kebarongan. Para tetangga lainnya yang tinggal tak jauh dari rumah Yusron juga menyatakan bila wajah Abu Dujana mirip dengan Yusron. ''Dia mirip dengan Yusron. Cuma bibirnya agak tebal. Tapi wajah dan rambutnya sama dengan Yusron. Kalau Yusron sering memakai kacamata,'' tutur Maryunah (40). Sedangkan Sabar (25), warga lainnya, menyatakan seluruh wajah Abu Dujana yang ditayangkan televisi itu sama persis dengan Yusron. ''Mulai dari telinga, rambut dan wajahnya sama,'' ujarnya setelah memperhatikan gambar Abu Dujana dan Yusron yang dijejerkan oleh beberapa wartawan. Warga Menghilang Terkait dengan tertangkapnya Yusron, kini tersiar kabar teka-teki hilangnya Fauzan (29), warga Dusun Tipar, Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen yang merupakan teman dekat Yusron. Tapi kabar hilangnya Fauzan itu masih simpang siur. Ada yang menganggap, pria tersebut ikut ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Namun ada juga yang menyatakan, lelaki tersebut pergi tanpa memberitahu kepada pihak keluarga. Keterangan yang dihimpun dari penduduk setempat menyatakan, ayah tiga anak itu menghilang sejak beberapa hari, sebelum penangkapan Yusron. Menurut Sarjono, penduduk Alasmalang, Fauzan tidak kelihatan di desanya sudah sekitar empat hari lalu. Kalau dia di rumah tiap pagi biasanya memberi makan ternaknya ''Tapi sejak Yusron ditangkap dia tidak pernah kelihatan,'' katanya. Karena menghilang, warga menduga Fauzan ikut ditangkap. Namun sejauh ini belum ada kejelasan resmi dari polisi. ''Sampai sekarang warga masih bertanya-tanya, sebenarnya dia ditangkap atau pergi tanpa memberitahu keluarganya,'' lanjutnya. Dari cerita warga, hubungan antara Yusron dan Fauzan sudah berlangsung lama. Mereka juga dianggap dekat. Tanda-tanda itu terlihat, kalau Yusron keluar kota cukup lama, Fauzan sering mengantarkan makanan ke rumah Yusron untuk anak dan istrinya. Begitu pula sejak Yusron pindah ke Desa Kebarongan. Yusron juga sering berkunjung ke rumah sahabatnya itu di Alasmalang. Saat berada di Alasmalang, dia juga memberi materi pengajian. ''Yusron sering mengisi pengajian di Masjid Baitul Muslimin (dekat rumah) Fauzan. Setelah memberi pengajian dia sering mampir ke rumah Fauzan,'' kata warga lain, yang enggan disebutkan namanya. Fauzan diketahui berpenduduk asli Banyumas. Dia tinggal di Desa Alasmalang. Meski sudah beristri dan memiliki anak tiga, dia belum memiliki KK. Dia masih menginduk ke orang tuanya. Ini diperkuat dengan keterangan petugas di Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana (BKCKB) Kecamatan Kemranjen. Meski sudah menikah dan memiliki anak, tapi yang bersangkutan belum mengurus kartu keluarga. Kepala Bidang Administrasi Kependudukan BKCKB Heri Kisyanto mengatakan, Yusron selama tinggal di Dusun Tipar dan Dusun Teleng, Desa Kebarongan, status kependudukannya masih ilegal. ''Dia baru mengurus KTP dan KK setelah di Kebarongan sejak 4 Desember 2006,'' katanya. Dilihat dari KK orang tua Fauzan, disebutkan ia lahir di Banyumas. ''Ini berbeda dengan Yusron yang merupakan warga pendatang. Dia baru memiliki KK sendiri sejak 7 Februari 2007,'' lanjutnya. Fauzan juga dikenal sebagai guru pengajian di desanya. Sebelum menghilang, setiap Minggu, dia memberi pengajian rutin di SMP Muhammadiyah Kemranjen. Hal itu juga dibenarkan Kepala SMP Muhammadiyah Mustolih. Ia mengatakan, pengajian oleh Fauzan merupakan kaderisasi tim dakwah jamaah tabligh. Materi pengajiannya juga biasa saja. ''Tidak ada yang aneh-aneh. Lagi pula pesertanya juga ada yang dari Purwokerto,'' kata Mustolih. Setahu dia, Fauzan adalah pria yang pendiam dan murah senyum. Kalau berbicara hanya seperlunya. Termasuk saat memberi dakwah atau ceramah. ''Kalau sudah selesai, ya langsung pamitan pulang,'' kenangnya. Sejak Minggu, Fauzan tidak kelihatan. Saat ada kabar penangkapan Yusron, dia dan peserta pengajian juga bertanya-tanya. ''Minggu kemarin jadwalnya dia memberi pengajian tapi tidak datang. Kita juga bertanya-tanya,'' ujarnya. Keluarga Fauzan juga tertutup. Kakaknya, yang menolak menyebutkan nama, juga tidak mau berkomentar banyak. Dia mengaku tidak tahu perginya atau keberadaan adiknya sekarang. ''Kalau pergi dia selama ini pamit. Yang terakhir keluarga tidak ada yang dipamiti,'' ujarnya. Dia juga tidak membantah kalau adiknya dekat dengan Yusron. Dia dan bapaknya juga sempat melarang agar jangan terlalu dekat. Tapi itu tak diindahkan. (G23,G22-60) |