| Kamis, 14 Juni 2007 | NASIONAL |
Yusron 100% Abu Dujana
JAKARTA- Yusron Mahmudi (37), tersangka teroris yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 Mabes Polri di Kemranjen, Banyumas pada Sabtu (9/6), 100% dipastikan Abu Dujana, gembong teroris yang paling dicari polisi. Setelah menangkap Abu Dujana, lanjutnya, polisi menangkap tujuh anak buahnya di wilayah Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Tujuh orang tersebut adalah AI (45), NA (33), IAN (17), NFAS (19), AM (33), AW (31), dan AS (29). ''Para tersangka teroris tersebut sedang berada di beberapa lokasi untuk menunjukkan keberadaan anggota jaringan teroris lainnya yang belum tertangkap. Tidak hanya di Jawa Tengah, tetapi termasuk di luar Pulau Jawa, kami terus melakukan pengejaran,'' tandasnya. Namun, ia enggan menjelaskan secara rinci di mana keberadaan para tersangka tersebut. Dia mengatakan, polisi baru meyakini secara sah bahwa Yusron adalah Abu Dujana, Selasa (12/6) pukul 22.00 WIB. Dikatakan, dari hasil memeriksaan sementara, Abu Dujana diketahui merupakan pemimpin sayap militer Askari Al Jamaah Al Islamiah yang terlibat langsung penyerangan bersenjata di Sleman, Yogyakarta saat penangkapan tujuh tersangka teroris. Abu Dujana juga terlibat pada Bom Bali I, Bom Hotel JW Mariot, dan sejumlah kasus peledakan di Poso Sulawesi Tengah. Kepolisian, tambahnya, memiliki waktu tujuh hari untuk memeriksa Abu Dujana dan tujuh anak buahnya apakah dapat disangkakan berdasarkan Undang-undang Terorisme. ''Bisa juga dengan pidana lain, seperti kepemilikan senjata api, menyembunyikan pelaku terorisme, atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme,'' jelasnya. Dia menambahkan, dalam proses penyidikan untuk mengungkap suatu kasus tidak boleh melibatkan kepolisian negara lain karena bagian dari kedaulatan. ''Namun jika sekadar bantuan informasi dan teknik peralatan tidak jadi masalah. Peralatan yang kita gunakan merupakan bantuan dari berbagai negara lain,'' jelasnya. Ia membantah aparatnya melanggar prosedur seperti yang dikeluhkan pihak keluarga tersangka. ''Aparat kami telah bertindak sesuai prosedur. Surat penangkapan berdasarkan nama DPO dan didalam klausulnya juga termasuk orang yang terlibat.'' Sengaja Menutupi Kapolri Jenderal Sutanto mengatakan pihaknya sebenarnya telah mengetahui bahwa Yusron adalah Abu Dujana. Namun Polri sengaja menutupi identitasnya, semata-mata untuk kepentingan penyelidikan. ''Jika kami lansir hal itu (kebenaran tertangkapnya Abu Dujana-Red) maka bisa memberikan sinyal kepada anggota jaringan lainnya untuk bersembunyi,'' kata Sutanto usai penandatanganan MoU antara Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) di kantor BNN, kemarin. Mengenai informasi yang justru pertama kali dipublikasi pemerintah Australia, Sutanto membantah anggapan bahwa Polri lebih mementingkan kepentingan Australia. ''Tidak benar penilaian itu. Sekali lagi ini kami lakukan untuk kepentingan hasil penyelidikan,'' tegasnya. Sementara itu, menurut analis intelijen Dr Wawan Hari Purwanto, lebih dulunya Alexander Downer mengumumkan tertangkapnya Abu Dujana disebabkan karena koordinasi antarpetinggi dua negara kurang baik. Walaupun Alexander Downer mengumumkan terlebih dahulu, hal itu tetap tidak merugikan Indonesia. ''Karena aparat kita sudah menindaklanjuti penangkapan Abu Dujana dengan sigap sehingga ditangkap beberapa orang lagi anggota jaringan terorisnya. Ini karena Polri sudah berhasil merahasiakan penangkapan, sehingga jaringannya tidak langsung bereaksi dengan menghilangkan jejak,'' kata pengajar di Lemhanas tersebut. Secara terpisah, anggota Komisi I DPR (bidang pertahanan) Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, Presiden harus menegur Kapolri terkait dengan proses penangkapan Abu Dujana yang berbelit-belit. ''Sebelumnya polisi tidak mengakui penangkapkan Yusron Mahmudi itu adalah Abu Dujana. Namun akhirnya, polisi mengklarifikasi bahwa Yusron itu adalah Abu Dujana,'' ujarnya. Kapolda Jateng Irjen Dody Sumantyawan mengakui, wilayah Jateng sangat potensial sebagai sarang teroris. Menurut dia, dari letak geografisnya berada di tengah, sangat mungkin memudahkan akses teroris untuk menuju wilayah barat maupun timur. ''Untuk makan juga murah dan masyarakat cenderung mudah menerima,'' katanya di Temanggung. Menurut Kapolda, para teroris itu akan mencari tempat yang belum tersentuh atau yang mereka anggap jauh dari jangkauan petugas. Para teroris itu bisa bersembunyi, sekaligus merekrut dan menyusun strategi. (J13,F4,H28, P27,H33-49) | ||||