| Kamis, 14 Juni 2007 | MURIA |
Pencari Paku dan Besi Bekas di SungaiTangan Luka Terkena Beling, Sudah BiasaJANGAN heran jika melihat sekelompok orang tengah berendam di Sungai Grojokan Blora pada siang hari. Mereka bukan sedang mandi atau pun mencari ikan. Sekelompok orang itu adalah pencari barang rongsokan berupa paku dan besi bekas. Dengan menggunakan tangan kosong maupun dibantu sepotong sembari, warga yang berusia rata-rata di atas 40 tahun itu mengaduk dasar sungai. Satu persatu tanah, pasir, batu dan sampah dikeluarkan hingga mereka mendapatkan barang yang dimaksud. Paku dan besi bekas yang sudah terkumpul selanjutnya dijual di penampung barang rongsokan. Dedi (47) satu dari mereka mengaku sudah menjalani profesi itu sejak dua tahun terakhir. Dipilihnya sungai guna mencari barang rongsokan menurutnya bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan, selain lebih santai karena tidak harus berjalan kaki puluhan kilometer, banyaknya pemulung yang beraktifitas di darat juga menjadi alasan ia dan kawan-kawannya mencari paku dan besi bekas di sungai. "Lagi pula di sini lebih adem. Kami bisa memilih tempat yang tidak terkena langsung sinar matahari," ujarnya kemarin. Dengan berbagai alasan itulah Dedi yang mengaku berasal dari Jambi namun sudah 30 tahun berada di Blora mengatakan, tidak terpancing ikut-ikutan menjadi pemulung di daratan. Ia mengakui barang bekas seperti kardus, plastik dan kertas lebih mudah didapat dan harganya pun mahal jika dibanding paku dan besi bekas. "Sepintas memang seperti itu. Tapi sejatinya jumlah barang bekas sudah tidak sebanding dengan jumlah pemulung. Perhatikan saja, setiap hari puluhan pemulung dengan mudah dijumpai di daratan. Berdasarkan hal itulah kami mencari tempat lain yang jarang dirambah. Seperti di sungai ini," jelasnya. Bersama dua teman seprofesinya, Dedi menyatakan rata-rata setiap hari, selama lima jam beraktifitas, perorangnya mampu mengumpulkan paku dan besi bekas seberat 10 kg. Nilai jual barang tersebut tidak besar, hanya Rp 10.000. Namun bagi Dedi uang sebanyak itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Kebetulan saya tidak punya anak. Jadi, saya hanya memberi makan istri," ujar warga Kelurahan Tempelen Kecamatan Blora itu. Luka Mencari paku dan besi bekas di dasar sungai diakui Tanto (50) pemulung lainnya, bukan hal yang mudah. Dia mengaku tangannya kerap luka terkena pecahan kaca. "Bagi kami, tangan luka terkena beling, sudah biasa. Tinggal ditutup plester, setelah itu kami kerja lagi,íí tambahnya. Tiga tahun berpengalaman mencari paku dan besi bekas di sungai menjadikan ia paham teknik agar aman dari beling ataupun luka goresan benda lainnya di tangan. Tanto mengatakan, bekerja dengan perasaan bisa menghindarkan dari luka tersebut. "Ketika tangan meraba dasar sungai, usahakan secara pelan-pelan. Kalau sudah tangan merasa membentur benda keras, jangan diteruskan," ungkapnya. (Abdul Muiz-36) |