logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 SEMARANG
Line

Bangun Ruangan 2 Lantai Rp 1,8 Miliar

RSP Kewalahan Tampung Pasien Askeskin

SALATIGA - Rumah Sakit Paru (RSP) Dokter Ario Wirawan, Ngawen, Salatiga, hingga kini merasa kewalahan menampung pasien asuransi kesehatan warga miskin (Askeskin).

Sebanyak 80 tempat tidur yang dikhususkan buat mereka, sering tak mampu menampungnya.

''Akibatnya, banyak yang kami tempatkan di ruang kelas III, II, hingga VIP,'' kata Direktur RSP Dokter Ario Wirawan Dokter Herry B Waluyo MKes MMR kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dikatakan, pihaknya sengaja menerimanya lantaran memang tak diperbolehkan menolak pasien askeskin yang ingin mendapatkan rawat inap maupun rawat jalan di RSP-nya.

Dengan demikian, luberan pasien dari ruang khusus askeskin, dirawat di ruang kelas III, II, atau VIP.

Walaupun pasien tersebut ditempatkan di ruang yang bukan haknya, pihak manajemen sama sekali tak mumungut biaya.

''Mereka tak sepeser pun kami pungut biaya. Padahal, fasilitas dan perawatan yang kami berikan disesuaikan dengan ruangan,'' ujar Herry.

Tren kenaikan jumlah pasien askeskin tersebut, lanjut dia, terjadi tahun 2006 lalu.

Selama tahun itu, dia mengajukan klaim perawatan dan penggunaan obat-obatan ke pemerintah sebesar Rp 3,8 miliar. Padahal, setahun sebelumnya hanya Rp 1,1 miliar.

Pada Februari 2007 ini, pihaknya mengajukan klaim Rp 927 juta. ''Untuk klaim bulan Maret hingga Mei ini belum cair,'' ujar Herry.

Ruang Isolasi

Dia mengaku tak tahu mengapa terjadi kenaikan jumlah pasien askeskin yang dirawat di RSP-nya. Memang, sekitar 70 % jumlah pasien menderita penyakit paru-paru, sesuai dengan fungsi RSP tersebut.

Sekitar 15 persen dari pasien jantung, sedangkan sisanya pasien penyakit lain-lain.

''Yang membuat kami heran, ada pasien stroke yang memilih berobat ke sini daripada ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas untuk menangani penyakit tersebut. Syukur alhamdulillah, setelah kita tangani, mereka ya sembuh,'' lanjut Herry.

Adanya kecenderungan kenaikan jumlah pasien tersebut, saat ini pihaknya sedang membangun ruang rawat inap dua lantai menelan biaya Rp 1,8 miliar. Nantinya, lantai pertama untuk menampung pasien askeskin dengan kapasitas tempat tidur 100 buah.

Sedangkan lantai kedua untuk ruang khusus dan ruang isolasi pasien flu burung.

Khusus ruang isolasi flu burung dilengkapi dengan tim dokter yang diketuai dokter Hasto Nugroho.

Selain untuk menambah daya tampung pasien, pembangunan ruang tersebut untuk mengganti ruang lama yang fasilitasnya sudah tak memadai.

''Peralatan yang kami pakai juga baru semua. Untuk pengadaannya tahun ini juga kami anggarkan sekitar Rp 2,4 miliar,'' tandas Herry. (J12-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA