logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 SEMARANG
Line

40.000 Ekor Unggas Mati

UNGARAN - Kepala Dinas Peternakan Jateng Ir Kusmaningsih MP menjelaskan, sejak Januari hingga 7 Juni 2007 terdapat 40.000 unggas mati mendadak. Untuk menekan merebaknya virus flu burung atau Avian Influenza (AI) tahun ini pihaknya memberikan 20 juta dosis vaksin AI untuk 35 kabupaten/ kota di Jateng.

''Untuk Kabupaten Semarang pada tahun ini mendapat bantuan 60.000 dosis,'' terang dia saat menghadiri sosialisasi flu burung di Balai Kelurahan Kalirejo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, kemarin. Adapun untuk penyemprotan disinfektan pihaknya menyediakan 300 liter.

''Kami juga sudah membentuk Participatory Desease Surveillance (PDS) dan Participatory Desease Respon (PDR) atau biasa disebut petugas pelacak dan pencegah AI,'' tegas dia.

Wakil Bupati Semarang Hj Siti Ambar Fathonah berharap generasi penerus bangsa tetap mengkonsumsi protein yang bersumber dari daging dan telur ayam. ''Kami berharap peternak menerapkan pola hidup bersih agar AI dapat ditekan penyebarannya,'' katanya.

Diingatkan, kepada Dinas Kesehatan agar cepat dan tanggap jika ada gejala manusia terkena flu burung. Ambar dalam kesempatan ini juga melakukan demo makan ayam bersama pelajar SD.

Usai sosialisasi, Wabup secara simbolis memberi vaksin AI ke unggas. Selanjutnya, petugas Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) setempat memberikan biosekuriti dan vaksin ke unggas di sekitar Kelurahan Kalirejo.

Kepala Disnakan Ir Soehardjo DS MM didampingi Kabid Keswan dokter hewan Bambang Sutrisno MM menjelaskan, dalam mengantisipasi AI pihaknya telah menambah petugas PDS/ PDR. ''Kader vaksinator di masing-masing desa juga sudah dibentuk. Rencananya jumlah kader vaksinator akan kami tambah agar ideal,'' tegas dia.

Penjualan Unggas

Kabupaten ini termasuk dalam endemis AI. Untuk itu masyarakat ternak diminta untuk selalu waspada. Bambang Sutrisno menambahkan, sosialisasi ini tak akan berarti tanpa tindakan nyata dari masyarakat.

''Kami hanya fasilitator dan mengupayakan yang terbaik untuk peternakan di kabupaten ini. Untuk itu strategi-strategi yang kami lancarkan ke desa-desa hendaknya diterapkan peternak, seperti pengandangan dan pembersihan kandang unggas secara teratur,'' paparnya.

Masyarakat saat ini dinilai sudah pintar menyikapi isu flu burung di media massa. Terbukti, dengan gencarnya berita AI, tidak mempengaruhi penjualan unggas. Hal ini disampaikan pengusaha ayam potong Eko Dodi Pramono.

''Sekarang masyarakat sudah terdidik dengan pola hidup higienis. Dalam pandangan mereka, jika ayam direbus secara sempurna maka itu terbebas dari AI,'' katanya.

Ia mengakui, saat awal AI merebak di kabupaten ini tahun 2003, ayam potongnya tak laku dijual. Bahkan menurut Eko, harga tahu lebih mahal dari ayam waktu itu.

''Awal ada AI 2003 di daerah ini saya pernah menjumpai membeli ayam hidup Rp 2.000/ ekor,'' ungkapnya. Dijelaskan Eko, saat ini pihaknya bisa menjual sekitar 50 ekor ayam/ hari. (H14-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA