| Kamis, 14 Juni 2007 | KEDU & DIY |
Pengumuman UN Diwarnai Konvoi PelajarYOGYAKARTA - Luapan kegembiraan menyusul pengumuman lulus ujian nasional (UN), Rabu (13/6), dilakukan ratusan pelajar dengan berkonvoi keliling Kota Yogyakarta menggunakan sepeda motor. Untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan, konvoi tersebut mendapat pengawalan dari mobil patroli lalu lintas Mapoltabes Yogyakarta. Berdasarkan data pada pengumuman UN tahun ini, tercatat 3.084 siswa SMA/MA dan SMK se-DIY dinyatakan tidak tidak lulus. Dari jumlah tersebut, siswa-siswi yang tidak lulus paling banyak dari Kabupaten Gunungkidul, tercatat 9,56% untuk IPS dan 7,96% untuk IPA. Menurut Tugini Trihayati, Kepala Seksi Kurikulum SMA Dinas Pendidikan DIY, untuk tingkat kelulusan terendah bidang IPS di Kabupaten Bantul, mencapai 4,73% dan IPA berada di Kabupaten Sleman yang jumlahnya 3,63%. ''Data kami menunjukkan tingkat ketidaklulusan SMA/MA yang paling tinggi ada di Gunungkidul baik IPS dan IPA,'' kata Tugini. Sementara itu, di tingkat SMK, tambah dia, jumlah siswa yang tidak lulus di Sleman mencapai 11,35% dan terendah di Gunungkidul yang mencapai 7,44%. Tugini mengatakan, bagi para siswa yang dinyatakan tidak lulus tersebut masih bisa mengikuti program Kejar Paket C atau ujian kesetaraan yang dimulai 19 Juni mendatang selama empat hari. ''Meskipun tidak wajib bisa mengikuti Kejar Paket C mulai 19 Juni nanti. Untuk IPA ada enam mata pelajaran yang diujikan dan tujuh mata pelajaran untuk IPS,'' katanya. Seperti diberitakan sebelumnya, 1.328 siswa SMA/MA di DIY dipastikan tidak lulus tahun ini. Dari 20.872 peserta ujian nasional (UN) di tiga program studi yaitu IPA, IPS, dan Bahasa tingkat SMA/MA, yang dinyatakan lulus 19.544 siswa. Adapun untuk SMK dari 18.500 peserta UN yang dinyatakan tidak lulus berjumlah 1.756 orang siswa. Karena itu, wajar bila para pelajar setelah mengetahui lulus langsung meluapkan kegembiraan dengan cara mereka sendiri, ada yang konvoi tetapi ada yang mencorat-coret bajunya dengan cat pilox. Dikawal Polisi Namun sebagai langkah antisipasi, Poltabes Yogyakarta langsung menurunkan petugas untuk mengamankan aksi tersebut. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para pengguna jalan yang lain. Seperti yang dilakukan puluhan siswa SMK PIRI Yogyakarta dengan gaya serta baju seragam yang penuh corat-coret, mengawali konvoi keliling Kota Yogyakarta dari depan sekolahnya di Baciro, Gondukusuman, Kota Yogyakarta. Dua motor patroli polisi lalu lintas tampak mendampingi konvoi siswa tersebut untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Bahkan, sejumlah petugas kepolisian sejak awal meminta kepada para siswa untuk memakai helm standar sebelum berangkat berkonvoi. ''Tolong helmnya dipakai. Kalau ketahuan tidak pakai helm, akan saya tilang. Dan selama di perjalanan mohon bisa tertib agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain,'' tegas salah seorang anggota Polantas kepada kerumunan siswa SMK PIRI, Rabu (13/6) siang. Para siswa yang ingin meluapkan kegembiraan setelah lulus UN pun mengikuti anjuran petugas itu dengan baik. Sejumlah siswa yang tidak membawa helm standar, urung berkonvoi. Mereka memilih nongkrong di sekolah sambil menyemprot baju seragamnya dengan cat pilox. (sgt-70) |