logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 INTERNASIONAL
Line

Koalisi Palestina Terancam Bubar

  • Pertempuran Memanas

GAZA - Pemerintahan persatuan Palestina berada di ujung tanduk. Faksi Fatah kemarin menonaktifkan para menterinya di pemerintahan koalisi dengan Hamas. Langkah tersebut bisa saja disusul dengan dekrit presiden dan makin memisahkan wilayah pendudukan Tepi Barat, yang didominasi Fatah, dan Gaza yang menjadi basis kekuatan Hamas.

Pemerintahan persatuan Palestina dibentuk Maret lalu atas upaya mediasi Arab Saudi untuk mengakhiri pertikaian antarfaksi dan meredakan sanksi Barat atas Palestina.

Namun, pertempuran antarfaksi terus memburuk hingga Rabu kemarin. Kelompok militan Hamas menewaskan sembilan militan dan meledakkan markas keamanan Fatah di Gaza. Pertempuran itu dikhawatirkan bakal memuncak menjadi perang saudara di Palestina.

Setelah serbuan Hamas, Komite Sentral Fatah bersidang di Ramallah, Tepi Barat, memutuskan untuk menghentikan keikutsertaan para menterinya dalam pemerintah persatuan sampai pertempuran berakhir.

Seorang ajudan Presiden Mahmoud Abbas mengatakan, 13 orang lagi tewas dalam serbuan di markas keamanan Fatah di Kota Khan Younis. Penduduk setempat mengatakan, Hamas menghujani gedung itu dengan granat dan bom mortir.

Banyak orang terperangkap dalam reruntuhan gedung. Petugas rumah sakit mengatakan, dua jenazah ditemukan tidak lama setelah gempuran itu. Hamas sejauh ini belum berkomentar.

''Kejadian di Gaza ini betul-betul gila,'' kata Abbas seusai bertemu diplomat asing.

Demonstran Ditembaki

Sekitar 1.000 warga Palestina menggelar pawai di Kota Gaza menentang pertikaian senjata itu. Namun, protes itu justru memprovokasi penembakan. Dua demonstran tewas dan empat orang terluka. Belum diketahui pasti pelaku penembakan itu.

Sedikitnya 65 orang tewas sejak pertempuran meletus Sabtu lalu. Bentrokan senjata ini merupakan yang terburuk dalam kurun waktu berbulan-bulan ini. Gencatan senjata yang dimediasi Mesir tampaknya gagal mengakhiri bentrokan itu.

Sayap bersenjata Hamas menyatakan, orang-orang Fatah diberi waktu sampai Jumat petang untuk menyerahkan senjata mereka. Hamas menuduh mereka berusaha mengudeta pemerintah. Fatah belum menanggapi pernyataan tersebut.

Israel menyatakan, dampak pertempuran itu akan sangat berpengaruh pada prospek perjanjian damai dengan Palestina.

Dua petugas Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNWRA) juga tewas tertembak dalam bentrokan senjata itu. Menyusul insiden itu, UNRWA langsung menghentikan seluruh operasinya untuk sementara waktu.

''Apabila Hamas menguasai Gaza, hal ini akan berarti penting bukan hanya mengenai kejadian di Gaza tetapi juga kemampuan untuk mencapai kesepakatan dengan Abbas dan kemungkinan menerapkannya di Gaza,'' kata Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni di Jerusalem.

Abbas gagal membujuk Hamas untuk menerima tuntutan Barat mengakui Israel, menghentikan aksi kekerasan dan tunduk pada kesepakatan damai interim Israel-Palestina. (rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA