| Kamis, 14 Juni 2007 | EKONOMI |
Kebutuhan Investasi di Jateng Rp 3,6 TriliunSEMARANG- Sektor industri garmen dan perhotelan mewarnai investasi yang telah mendapat persetujuan di Jateng hingga saat ini. Jumlah perusahaan modal asing (PMA) masih mendominasi asal investor yang masuk ke Jateng, yakni sebanyak 16 proyek dengan nilai 46,7 juta dolar AS. Sedangkan perusahaan modal dalam negeri (PMDN) 2 proyek senilai Rp 208,46 miliar. Kebutuhan investasi Jateng tahun ini sebesar Rp 3,6 triliun. Kepala Badan Penanaman Modal (BPM) Jateng, Agus Suryono, optimistis nilai investasi yang akan masuk ke Jateng terus meningkat hingga akhir tahun. Apalagi ada rencana sejumlah perusahaan asal Jakarta, Jabar, dan Jatim yang merelokasi pabriknya. Selain itu, akan dikembangkannya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kendal diyakini juga akan mampu menggenjot investasi. Untuk mendukung program peningkatan investasi, salah satu upaya yang terus dikembangkan adalah kesungguhan implementasi layanan One Stop Service (OSS). Meski terdapat 31 kabupaten/kota yang sudah menerapkannya, namun belum sepenuhnya berjalan ideal. Masih ada kinerja OSS yang tumpang tindih antardinas. Sudah saatnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang membidangi investasi diberi kewenangan penuh, jangan tergantung pada bupati/ Wali Kota. ''Ditargetkan akhir Juli nanti OSS sudah diterapkan di semua kabupaten/kota. Saat ini yang belum melaksanakan tinggal Kota Magelang, Kabupaten Blora, Pati, dan Klaten,'' katanya, kemarin. Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Semarang, Amril Arief, mengatakan pencapaian target pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 6% perlu diimbangi dengan investasi swasta, yang selama ini minat investor masih terbilang rendah. Pembangunan Jateng masih mengandalkan proyek dari APBN dan APBD. Apalagi belanja publik dalam APBD terbilang kecil. ''Perlu dikembangkan strategi yang mampu menarik investor menanamkan modalnya, termasuk juga dukungan kalangan perbankan,'' katanya. (H22-59) |