logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 EKONOMI
Line

Wapres: Bank Syariah Kurang Efisien

  • Menjadi Beban Nasabah

JAKARTA- Wapres Jusuf Kalla mengingatkan kalangan perbankan syariah untuk mengelola usahanya lebih efisien. Perbankan syariah saat ini dinilai Wapres tidak adil. Jika terus menerus seperti ini, Wapres pesimistis bank syariah bisa mencapai target pangsa pasar 5 persen.

Kritikan itu disampaikan Wapres saat membuka Munas Ke-4 Asosiasi Bank Syariah Indonesia di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (13/6).

"Bunga pinjaman di bank umum paling 9-12 persen. Tapi di bank syariah bisa 20 persen karena biaya administrasinya dibikin tinggi atas nama syariah. Pemikirannya memang mencari keadilan, tapi yang terjadi tidak adil. Kalau masih seperti ini, jangan harap bisa mencapai target pasar sampai 5 persen. Rakyat punya alternatif, jangan adil prosesnya, tapi mahal hasilnya," kata Wapres.

Untuk itu, Wapres meminta perbankan syariah melakukan efisiensi. Salah satunya adalah dengan mengurangi jumlah kantor cabang. "Dulu bank kita mudah kena krisis karena cabangnya terlalu banyak, sehinga biaya modal dan operasional besar. Bila bank syariah bergerak dengan BPR sebegitu banyak, maka akan mengulangi hal yang sama," sarannya.

Efisiensi itu, menurut Wapres, bisa dilakukan dengan mengoptimalkan kelebihan yang tidak dimiliki bank konvensional. Salah satunya adalah menjalin kemitraan dengan bank-bank syariah di Timur Tengah yang saat ini punya banyak dana.

Menurut Wapres, jika perbankan syariah tidak efisien, maka tingginya biaya operasional pada akhirnya dibebankan kepada nasabah dalam bentuk biaya administrasi.

Meski tidak menetapkan bunga, tapi pada praktiknya biaya administrasi yang harus dibayarkan nasabah bank syariah jauh lebih tinggi dibandingkan bank konvensional. Hal ini tentu membuat nasabah merasa tidak mendapat keuntungan yang berarti dari bank syariah selain sistem syariah.

Biayai Proyek

Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) Wahyu Dwi Agung menyatakan perbankan syariah berminat untuk membiayai secara sindikasi proyek-proyek infrastruktur, terutama di sektor listrik. Sindikasi bank syariah siap mengucurkan kredit sekitar Rp 1-3 triliun.

Perbankan yang akan tergabung dalam program sindikasi itu diharapkan terdiri dari 5 bank syariah nasional dan 1 bank asing. "Tapi yang menjadi lead-nya bank kita," ujarnya. (bn,dtc-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA