logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 BANYUMAS
Line

Pedagang Mengeluh Pasar Kalimanah Sepi

PURBALINGGA- Para pedagang Pasar Kalimanah Wetan Kecamatan Kalimanah Purbalingga mengeluh. Sebab beberapa waktu terakhir ini, pasar sepi pembeli. Padahal pasar itu belum lama ini selesai direhabilitasi dengan membangun 16 petak baru. Akibatnya kini mereka kesulitan membayar cicilan kios/petak.

"Berat Mas, jualan sekarang. Nggak tahu kenapa kok rasanya setiap hari semakin sepi. Padahal sekarang saja kami harus menyicil uang muka petak yang kami tempati. Serba bingung. Kalau jualan sepi, tidak jualan tidak ada pemasukan," ujar Sigit, salah satu pedagang.

Mantri Pasar Sunaryo membenarkan keluhan itu. Dia menduga, sepinya pembeli karena beberapa faktor. Antara lain banyak muncul warung di luar pasar. Dagangan mereka banyak yang serupa dengan yang dijual di pasar. Selain itu tidak sedikit pula pedagang keliling yang mendatangi langsung pembeli.

"Rehab pasar meliputi pembangunan empat los, yang terbagi menjadi 16 petak. Setiap petak berukuran 2x2 meter. Dari 16 petak itu, 10 di antaranya sudah untuk berjualan. Tiap petak dipatok harga Rp 800.000 dengan uang muka Rp 200.000. Sisanya dicicil Rp 50.000 tiap bulan," jelasnya.

Dari 10 petak yang sudah ditempati itu, baru satu pedagang yang sudah melunasi uang mukanya. Sedangkan 9 pedagang lainnya belum lunas. Mereka terkadang jualan, terkadang tidak. Akibatnya sebagian petak tutup selama beberapa hari. Bahkan ada pedagang sayur yang selama dua hari tidak ada yang membeli.

"Dengan kondisi ini saya pesimis 16 petak dan kios yang sudah terlanjur dibangun itu laku dijual. Sebab pedagang yang sudah menempati kios saja banyak yang berniat mengundurkan diri karena pasar semakin sepi. Pedagang yang sudah melunasi uang muka pun beberapa hari kiosnya tutup," kata Sunaryo.

Padahal, menurut Kaur Pembangunan Desa Kalimanah Wetan itu, harga petak tersebut sudah disesuaikan dengan kemampuan pedagang. Semula harga satu petak dipatok Rp 1.300.000 tetapi karena muncul keberatan dari pedagang, harganya diturunkan menjadi Rp 800.000. Tetapi ternyata pasar malah sepi.(F10-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA