logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Juni 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Lagi, PDAM Semarang

Dari waktu ke waktu utang dan permasalahan nampaknya selalu akrab dengan PDAM Kota Semarang bahkan akhir-akhir ini giliran para karyawannya yang tertimpa utang akibat diperdaya 4 karyawan PDAM sendiri. Namanya dicatut untuk ambil kredit di beberapa BKK (Badan Kredit Kecamatan) di Semarang sebelum dimerger.

Konon nilainya hingga di atas Rp 1 miliar lebih. Modus yang dilakukan keempat karyawan tersebut dalam melakukan aksinya cukup sederhana tapi unik. Mereka menggandakan SK pengangkatan karyawan dan memalsukan stempel PDAM. Mereka juga memosisikan diri sebagai pengambil kebijakan keuangan perusahaan.

Karyawan yang diperdaya jumlahnya hampir 200-an orang, dimintakan kredit di satu BKK lalu namanya dipakai ambil karedit lagi di beberapa BKK yang lain dengan agunan SK hasil penggandaan dengan komputer sehingga hasilnya seperti asli.

Proses pencairannya begitu mudah tanpa ada verifikasi dari BKK. Hal ini dimungkinkan karena ada kerja sama dengan orang dalam di BKK. Bahkan ada yang pencairan yang dilaksanakan di cafe. Tak seorang pun berani melapor peristiwa yang merugikan karyawan/BUMD tersebut.

Sekarang BKK tersebut dimerger, lalu bagaimana dengan kredit macet tersebut. Banyak yang menyayangkan kejadian ini sebab para direksi PDAM sepertinya tidak berbuat banyak. Padahal secara moral para direksi seharusnya ikut bertanggung jawab atas kasus yang menimpa anak buahnya.

Apa mungkin karena masa kerja para direksi tinggal 4 bulan lagi?. Mungkin juga, sebab yang saya tahu Dirut Ir Agus Sutiyoso MSi dikenal cukup tegas terhadap anak buahnya yang bermasalah walau tak berlaku buat kasi ke atas. Sampai akhir tahun 2006 konon sudah 9 orang dipecat termasuk yang terlibat SBG (sambungan baru gelap).

Korbannya di Semarang Selatan mencapai ratusan sambungan dan berlangsung lama. Menurun drastisnya kinerja PDAM akhir-akhir ini jelas memengaruhi kualitas pelayanan terhadap pelanggan. Tapi anehnya dalam waktu dekat akan menaikkan tarif dasar air.

Soeroto

Jl Cempedak Slt 35, Semarang

Bukan Sekadar

Kompetensi

Guru memiliki peran sentral sebagai pendidik dan strategis dalam mencetak generasi. Di tangan guru nasib bangsa ini berada. Karena tugas berat itulah guru menyandang predikat pahlawan tanpa tanda jasa. Namun jangan karena jasa yang dikeluarkan tidak sebanding dengan kesejahteraan, menjadikan guru tidak serius dalam mendidik.

Pasarnya mendidik, tugas mulia dan ibadah. Kalau saat ini mendidik anak-anak, kelak akan lahir generasi pemimpin dan penerus bangsa. Namun akankah cita-cita itu sirna hanya karena ulah beberapa oknum guru yang tidak bertanggung jawab. Bukan tabu lagi mendengar/melihat kebobrokan moral dari sebagian pendidik.

Di antaranya menganiaya siswa, berselingkuh, korupsi, mencabuli siswanya. Bagaimana nasib bangsa kalau guru tidak mampu mendidik dirinya sendiri. Seorang pendidik seharusnya dapat mewariskan keteladanan bukan justru mengakibatkan degradasi moral.

Mungkin kini saatnya menguji kembali kompetensi guru di UU No 14 Tahun 2005 dan PP No 19 Tahun 2005 tentang Kompetensi Guru yang meliputi kepribadian, pedagogik, profesional dan sosial. Kompetensi kepribadian dimaknai sebagai kemampuan kepribadian guru yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa.

Juga guru menjadi teladan bagi peserta didik serta berakhlak mulia. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan mengelola pembelajaran meliputi pemahaman terhadap siswa, perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi profesional guru dimaknai menguasai keilmuan bidang studi dan langkah kajian kritis pendalamannya. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergau+l secara efektif dengan siswa, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat sekitar.

Keempat kompetensi ini secara teori ideal. Tentu sangat baik ketika dipenuhi dalam diri seorang guru hingga mengintegrasikan tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Diharapkan kompetensi mampu melahirkan guru ideal baik secara intelektual, sikap (moral) dan perilaku.

Artinya guru tidak hanya cerdas dalam disiplin ilmu yang digeluti, namun juga memiliki kecerdasan secara emosi dan spiritual, sehingga melahirkan perilaku yang patut diteladani oleh siswa, masyarakat dan lingkungan. Bila kompetensi ini mengakar kuat dalam dirinya, tentu tidak ada lagi yang namanya konflik antara guru dengan siswa, mitra kerja dan masyarakat serta lingkungan.

Seharusnya pemerintah berperan mengoptimalisasikan kompetensi guru dengan kegiatan yang dapat menunjang pemenuhan keempat kompetensi tersebut. Misalnya kegiatan konkret melalui lembaga Diknas maupun Depag agar kompetensi guru tidak hanya sebagai syarat sertifikasi, namun mengakar kuat dan menjadi karakter bagi pendidik.

Naturalis Indah Sari SS

SMPIT Luqman Al Hakim Slawi, Tegal

***

Mushala Utang

Panitia pembangunan mushala di Gama Permai 3 Kota Pekalongan ingin berkeluh kesah kepada pembaca bahwa membangun tempat ibadah tidaklah mudah. Saat ini untuk mendapatkan bantuan sangat sulit. Bulan Juli 2006 memulai pembangunan dan Maret 2007 bisa mendirikan bangunan di atas tanah seluas 350 m2 dengan luas bangunan 108 m2.

Walau sudah mengeluarkan biaya Rp 70 juta namun baru 80 persen selesai. Itu pun panitia masih utang di beberapa toko material Rp 12 juta. Kini pemilik toko material mnagih utang.

Untuk itu mohon donatur, juragan maupun pembaca membantu langsung atau lewat Bank Mandiri Imam Bonjol Pekalongan No Rek 139 0004809996 a.n Mahbub Junaedi ST.

M Luthfi ASg (0285 7900579)

Jl Jayabaya 11 Gama Permai 3, Pekalongan

***

Jangan Royal saat

Menyambut Tamu

Presiden menginstruksikan kunjungan para pejabat termasuk presiden, wakil presiden dan para menteri dilakukan dengan biaya seefisien mungkin. "Jangan melakukan kegiatan protokoler yang tidak perlu dan boros ". Imbauan ini harus ditafsirkan dengan tindakan wajib, bukan artifisial semata. Semua wajib menghormati tamu, namun tidak wajib royal dalam soal penyambutannya.

Ada daerah di Jateng menganggarkan Rp 1,5 miliar dari APBD-nya untuk menyambut kedatangan presiden. Dana ini cukup tinggi serta mencengangkan bagi pemerintahan setempat. Tradisi kita memang suka royal dalam menyambut tamu dan sudah mengakar. Bahkan diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.

Mereka lebih bangga bila dapat menyuguhi tamunya dengan kemewahan. Sikap serta perilaku sambut tamu yang serba mewah harus diubah seiring dengan instruksi presiden tersebut. Keadaan ekonomi belum stabil, rakyat masih sulit beli beras dan susah cari pekerjaan. Rakyat masih belum sanggup menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang SMA.

Karenanya pejabat daerah, wakit rakyat hingga jajaran terlinggi pemerintahan ini harus punya perilaku sederhana di segala bidang. Beri keteladanan. Hal yang glamour serta memamerkan kekayaan harus disingkirkan dalam kehidupan. Semoga imbauan presiden jadi kenyataan serta diikuti pejabat lain.

Wisnu Widjaja

Jl Sindoro I/16 Panggung, Tegal

Kakandepag Tegal

Pengalaman tahun pelajaran 2005/2006 tentang pendistribusian blangko ijazah MTs yang terlambat sehingga menyebabkan pembagian ke siswa pun terlambat juga. Akibatnya siswa dari MTs mengalami kendala saat mendaftar ke SLTA, apalagi penggunaan SKHUN ditolak oleh semua SMAN. Mohon tahun pelajaran 2006/2007 jangan sampai terlambat. Kasihan para siswa MTs. Juga mohon ijazah bisa dibagikan pada anak sebelum pendaftaran siswa baru SLTA dibuka.

Umroh

Debong Kidul RT 2/RW 1, Tegal

***

Mengapa Videotron

Terus Dibangun?

Proyek pembangunan videotron di Jl Pahlawan Semarang menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Mulai dari budayawan yang menganggap kehilangan tempat bersejarah/landmark/simbol Kota Semarang, mahasiswa yang kehilangan tempat simbol melakukan protes atas kebijakan yang tidak prorakyat di air muncrat dan simbol kekuatan mahasiswa dalam menggulingkan rezim Orba 1998.

DPRD mengganggap Pemkot tidak terlalu terbuka dalam perjanjian pembangunan videotron dengan pihak sponsor. Ahli tata kota dan reklame menganggap ada pelanggaran terhadap Perda No 7 Tahun 2003 tentang Reklame. Ahli transportasi juga menganggap dengan videotron akan banyak kemacetan dan mengganggu keselamatan pengendara di Jl Pahlawan.

Tetapi mengapa banyak protes yang dilakukan oleh masyarakat sama sekali tidak ditanggapi dan tidak diperhatikan oleh Pemkot Semarang. Apakah sudah tidak lagi menghiraukan aspirasi masyarakat, lalu di mana komitmen membangun ruang publik demi menampung aspirasi warga kota. Komitmen untuk membangun iklim good and clean governance di lingkungan Pemkot Semarang. dan karena itu sebaiknya segara menghentikan pembangunan videotron tersebut.

Budi Setyawan

Presiden BEM KM Undip

***

Sekolah Non-Umum

Melengkapi tulisan Belinda C Hapsari tentang ''Sekolah di mana''?, memang fenomena ini terjadi setiap tahun ajaran baru dan seakan sudah menjadi ritus. Para orang tua selalu menyerbu sekolah umum favorit dengan harapan masa depan pendidikan putra-putrinya lebih terjamin. Lantas bagaimana dengan jenis sekolah di luar sekolah umum misal sekolah agama.

Sekolah ini notabene lebih fokus mencetak kader penerus bangsa yang bermoral, berakhlak dan berbudi luhur tapi mengapa tidak tersosialisasikan kefavoritannya?. Padahal sefavorit-favoritnya sebuah sekolah umum, sudah jamak berlaku asas "guru tidak hadir, murid senang". Misal bila guru belum hadir saat bel masuk berbunyi, murid sudah ancang-ancang senang.

Apalagi kalau tiba-tiba harus pulang gasik karena ada rapat guru dadakan. Wuih senangnya bukan main. Sebaliknya di sekolah alternatif SMP Terbuka Qoryah Toyyibah Salatiga, bila guru belum hadir justru murid harap-harap cemas. Bahkan bila rumah gurunya tidak begitu jauh, murid malah menjemputnya beramai-ramai.

Badan Akreditasi Sekolah Prov Jateng juga telah memberi akreditasi A kepada SMA unggulan Pondok Pesantren Nurul Islami Wonolopo, Mijen. Selain itu masih ada sekolah di luar umum yang berprestasi meski dengan sarana dan prasarana serba terbatas. Seperti prestasi madrasah di daerah Sayung perbatasan Semarang-Demak.

Maka sudah semestinya keberadaan sekolah madrasah bahkan sekolah afternatif perlu diekspos kepada khalayak ramai dalam porsi (minimal) sebanding dengan sekolah umum. Hal itu kalau yakin bahwa krisis kita sebenarnya krisis moral. Buat apa pinter kalau bisanya cyma minteri. Juga buat apa pandai kalau bisanya hanya ngakali.

Buat apa cerdas kalau bisanya memeras, buat apa jadi pejabat kalau mengembat. Rasanya patut malu pada suku-suku di pedalaman yang dianggap terbelakang tapi kegotongroyongannya, keramahtamahannya dan kesederhanaannya mampu menjadi representatif budaya asli bangsa kitaa. Untung masih ada mereka, hingga selamatlah wajah kita.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Kuliah ke Mana ?

Bagi siswa kelas 3 SMA, sebentar lagi lulus dan sebagian akan melanjutkan kuliah. Yang sering membingungkan, bagaimana memilih universitas bonafide dan jalur apa yang bisa dipilih. Secara umum, PTN/PTS membuka 4 jalur. Pertama, jalur PMDK murni atau sering disebut PSSB/PBUB (Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi).

Jalur ini diadakan oleh beberapa PTN tapi tidak semua calon dapat mengikuti karena disyaratkan siswa yang top-ranking (minimal 3 besar konsisten di kelasnya). Juga diharuskan pernah memenangkan kejuaraan atau lomba tingkat nasional. Kedua, jalur UM/USM. Semua bisa mengikuti karena pendaftaran dan seleksinya tidak memperhitungkan rapor. Tapi harus mengisi blangko berapa sumbangan yang akan diberikan.

Ketiga, jalur prestasi/kerja sama yang diadakan PTS dengan syarat relatif mudah. Biasanya hanya menyaratkan rata-rata minimal rapor (7.0). Keempat, Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang diadakan bulan Juli. Sistem ini dibagi dalam 3 wilayah rayon, tidak mensyaratkan nilai rapor atau nilai ujian, dan seleksi murni berdasarkan hasil tes.

Saya mendukung kebijakan beberapa PTN favorit yang mengadakan ujian masuk (UM) untuk mendapat mahasiswa unggul. Hal yang mustahil, universitas negeri ternama bisa menjalankan kegiatan operasionalnya jika hanya mengandalkan uang dari mahasiswa yang diterima lewat jalur SPMB (Rp 3 juta). UM memang mutlak diadakan dan konsekuensinya yang diterima harus membayar mahal (minimal Rp 15 juta), bahkan ada yang Rp 45 juta. Meski di UGM, beberapa fakultas/jurusan ada yang SPMB-nya minimal Rp 5 juta atau bahkan gratis jika nilai tesnya sangat tinggi. Kebijakan itu sah saja dan merupakan alternatif menyikapi kerasnya persaingan.

Hanya saja, menurut saya perlu ada pemerataan kesempatan belajar bagi calon mahasiswa yang diterima di jalur berprestasi maupun UM. Menurut saya, perlu dibuka jalur tambahan yang dapat diikuti siswa top ranking tapi tidak pernah memenangkan kejuaraan/olimpiade nasional.

Saya melihat jumlah siswa yang diterima lewat jalur UM justru jauh lebih banyak dibanding jalur prestasi. Contoh, beberapa PTN yang membuka jalur PBUB/PMDK menyaratkan si calon pernah memenangkan olimpiade nasional. Lalu bagaimana jika siswa minimal ranking 2 besar dan konsisten di kelasnya, tapi tak pernah memenanginya kejuaraan berskala nasional.

Jadi perlu ada pemerataan kuota calon mahasiswa yang diterima lewat jalur UM maupun PMDK, karena tidak semua siswa mau dan mampu membayar mahal. Jadi saya berharap insan pendidikan saling mendukung, siap dikritik dan mau menerima saran dari segenap pihak. Bagaimana pun anak-anak muda sekarang adalah calon pemimpin bangsa.

Ricko Septian Wijaya

Siswa SMA Kolese Loyola, Semarang

***

Dampak Sinetron

sebagai Seni Hiburan

Sinetron memberikan peluang untuk terjadinya peniruan perilaku bagi sejumlah anggota masyarakat baik perilaku positif maupun negatif. Perilaku di sini dipahami sebagai manifestasi dari proses psikologis yang merentang dari persepsi sampai dengan sikap. Bila tayangan sinetron sesuai dengan pengalaman penonton maka mereka akan menghayati dan terbentuk sikap.

Oleh sebab itu sikap diartikan sebagai kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan (Supriyadi, 1997: 127). Siaran teve mengajari individu untuk mengenal kehidupan masyarakatnya dan masyarakat lain. Dalam keluarga yang statusnya sebagai kelompok kecil mengajarkan bahwa teve berperan sebagai penghibur, pendamping, bahkan pengasuh bagi anak-anaknya.

Dalam perspektif kesenian, tayangan sinetron merupakan hasil rekaan seorang sutradara yang isinya tidak selalu meliput realitas empiris dari pergaulan remaja sehari-hari. Meski demikian sinetron akan memberi dampak pada publik. Media hiburan tersebut berdampak positif bagi pemupukan moralitas anak dan remaja, bila isinya mengandung budi pekerti, bekerja keras, ulet, giat belajar dan disiplin.

Sisi positif sinetron meliputi unsur hiburan, rekreasi dan bisa memberi kesempatan untuk merasa santai dan tidak terlalu tegang. Selain itu, beberapa anggapan sinetron bisa menenangkan perasaan dan jiwa penonton. Ketika dalam keluarga mengalami kesibukan, maka dengan melihat tayangan di teve dapat mengembalikan penat.

Sinetron juga bisa berdampak negatif bila berisikan adegan percintaan yang cenderung mengajari anak-anak dan remaja untuk berpacaran di tempat umum, berpenampilan seksi, berorientasi hidup hedonistik, dan berpola hidup serba senang dan mudah.

Adegan seperti ini yang sering ditiru dalam perilaku masyarakat setiap hari khususnya pada anak-anak dan remaja. Peran orang tua sangat penting sebagai alat untuk mengendalikan minat anak pada tayangan yang ditontonnya.

Nurul Septi H

Mahasiswa Sosiologi Antropologi Unnes


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA