logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Juni 2007 EKONOMI
Line

Tinggi, Peluang Sektor Riil di Pasar Modal

  • Tiga Industri Strategis Tumbuh Pesat

JAKARTA-Peluang sektor riil dalam menghadapi persaingan di pasar modal sangat tinggi. Bahkan kalau pasar modal tidak menjadi pilihan bagi sektor riil, sementara perbankan belum mengeluarkan kebijakan strategis, akan terjadi delusi.

Demikian diungkapkan Menteri Perindustrian Fahmi Idris usai menjadi pembicara dalam Indonesia Investor Forum II, pekan lalu. Akibatnya, lanjut dia, terjadi perpindahan perusahaan yang strategis ke pemilik modal dari luar.

"Kondisi itu terjadi pada sektor industri petrokimia. Dari sekitar 20 perusahaan petrokimia yang ada saat ini, hanya empat perusahaan saja yang kepemilikan sahamnya masih dikuasai investor lokal. Selebihnya dikuasai investor dari Filipina, Taiwan, dan Korea. Proses peralihan ini terjadi pada tahun 1999 hingga 2000, saat kita masih menghadapi krisis," paparnya.

Dijelaskan, tiga sektor industri nasional, yakni tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronika, serta industri makanan dan minuman, dinilai cukup potensial untuk bersaing di pasar modal. Pasalnya, kinerja ekspor tiga sektor industri itu dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan cukup pesat.

Pemerintah sendiri, sambungnya, tahun ini menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional dapat menembus angka 10,4 miliar dolar AS, atau naik 7,8 persen dibandingkan realisasi 2006 sebesar 9,4 miliar dolar.

Cukup Positif

Demikian halnya dengan sektor industri elektronika yang tahun lalu telah berhasil meraih devisa ekspor sebesar 6,9 miliar dolar AS.

Selain ketiga industri tersebut sejumlah sektor lain juga mulai menunjukkan angka pertumbuhan cukup positif, seperti industri pengolahan karet, bubur kertas (pulp), semen, dan petrokimia. Meski demikian, Fahmi mengakui saat ini masih ada beberapa sektor industri yang angka pertumbuhannya negatif, seperti industri baja dan pengolahan kayu.

Di tempat terpisah, Dirut Bursa Efek Jakarta Erry Firmansyah mengatakan, pasar modal mulai ikut menggerakkan sektor riil melalui sejumlah langkah ekspansi perusahaan.

Dari data tercatat, jumlah belanja emiten pada 2006 dan 2007 menunjukkan kenaikan ketimbang tahun lalu. Dari 148 emiten yang terlibat dalam pengumpulan data, terlihat belanja modal perseroan pada 2006 sebesar Rp 41 triliun, sedangkan tahun ini Rp 55 triliun.

Menteri keuangan sendiri sebelum ini mengakui, kontribusi pasar modal terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini belum terlalu signifikan.

Di mana dari nilai kapitalisasi bursa yang mencapai Rp 1.400 triliun, baru 42% dari nilai PDB. (bn-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA