logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Juni 2007 BANYUMAS
Line

LINTAS DAERAH

Hama Keong Emas Bisa Diatasi

PURWOREJO-Para petani di wilayah bagian selatan Kabupaten Purworejo diimbau untuk tidak khawatir dalam menghadapi serangan keong emas. Pasalnya, hama tersebut bisa diatasi dengan cara yang cukup mudah dan ekonomis.

"Dalam mengatasi keong emas hanya butuh kesabaran dan ketelatenan," ujar Kepala Seksi (Kasie) Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Purworejo, Eny Sulistyowati, kemarin.

Ada dua cara untuk mengatasi keong emas. Pertama, dengan cara mekanik, yaitu membuangnya dari sawah. Kedua, dengan pestisida. Ada dua obat yang bisa digunakan, yaitu cair dan bubuk. Obat cair dicampur dengan air yang menggenang di sawah agar mengalir dan menyebar, sementara pestisida bubuk ditabur di saluran irigasi.

Petani sebaiknya mencegah tangkal hama keong emas sebelum telanjur menyerang tanaman padi. Caranya, membersihkan area sawah sebelum ditanami. Termasuk, membersihkan dari telor keong. (nur-66)

Uang Makan PNS Diganti

TEMANGGUNG - Usulan eksekutif kepada DPRD Temanggung untuk menyetujui pencairan/pengalokasian uang makan bagi PNS di lingkungan Pemkab dalam anggaran mendahului penetapan APBD Perubahan 2007, belum disetujui. Sebagai gantinya, PNS akan diberi biaya kesejahteraan yang belum ditentukan bentuknya.

Hal itu terungkap dalam sidang paripurna DPRD Temanggung, Sabtu (2/6), untuk mendengar laporan dari panitia anggaran, tentang hasil pembahasannya atas surat-surat Bupati berkait dengan usulan beberapa kegiatan yang biayanya dialokasikan dari anggaran mendahului penetapan APBD Perubahan 2007.

Ketua Panitia Anggaran, Djoko Yuwono, dalam laporannya mengatakan, uang makan yang dimaksud dalam surat Bupati itu belum dapat diberikan, karena adanya kendala aturan atau dasar hukumnya.

Karena itu, sebagai penggantinya akan diberikan biaya kesejahteraan yang bentuk dan sistemnya belum ditentukan. (H24-39)

Tempat Sampah Rp 550.000/unit

PURBALINGGA- Manajemen pengolahan sampah, akan dikembangkan di Purbalingga. Selama ini sampah yang dihasilkan penduduk kota Purbalingga sejumlah 120 meter kubik/harinya hanya ditumpuk di TPA. Menurut rencana, sampah dipisah menjadi sampah kering dan basah, kemudian didaur ulang.

"Saat ini usulan untuk sarana-prasarana pengadaan tempat sampah sedang digodok oleh Pemkab pada bulan ini," kata Susilo Utomo, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Kamis (31/5). Per unit tempat sampah terdiri atas dua kotak, untuk sampah bersih dan kering dengan harga Rp 550.000/unitnya. "Harganya mahal karena terbuat dari besi yang tahan karat, besi galvanis," ujar Priyo Satmoko, Kabid Kebersihan dan Pertamanan.(J2-29)

6.500 Ton Beras Masuk Cilacap

CILACAP- Anggota Komisi B DPRD Cilacap, Sabtu (2/6), melakukan sidak ke Pelabuhan Tanjung Intan. Sidak dilakukan untuk membuktikan secara kebenaran masuknya 6.500 ton beras impor dari Thailand. Sesampai di sana, Wakil Ketua Komisi B, Rasman dan anggota Yati Marini menjumpai aktivitas bongkar muat beras impor tersebut. Beras itu diangkut dengan menggunakan kapal MV Mandiri 8.

''Beras itu dikatakan beras impor dari Thailand. Tapi ketika diturunkan dari kapal, ternyata beras sudah dalam kemasan kantong milik Bulog. Setiap kantong berisi 50 kg,'' kata Rasman, kemarin.

Saat sidak, mereka naik ke atas kapal. Mereka mengaku melihat ada ratusan tumpukan karung di dalam kapal itu. Mereka lalu mengambil sampel beras di dalam kapal.

Beras impor tadi kualitasnya sangat rendah. Hal itu bisa dilihat sepintas dari warnanya yang sudah kekuning-kuningan.(ag-55)

Hidupkan Jalur Kereta

BANJARNEGARA- Jalur kereta api Wonosobo-Purwokerto yang sudah lama tidak digunakan, diusulkan untuk dihidupkan kembali. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi beban jalan raya dan kemacetan jalan.

Usulan itu disampaikan pengamat transportasi jalan raya dari Unika Soegijapranata Semarang, Ir. Drs. Djoko Setijowarno, MT kepada Suara Merdeka, baru-baru ini, di Pendapa Dipayudha, sebelum menandatangani nota kesepahaman tentang Tatanan Transportasi Lokal (Tatralok) dengan Pemkab Banjarnegara.

Menurut peneliti pada Laboratorium Transportasi Teknik Sipil Unika itu, usulan ini sudah pernah disampaikan kepada Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto beberapa waktu lalu. ''Gubernur waktu itu menanggapi positif usulan ini, dan akan diteruskan ke pemerintah pusat,'' terangnya.(J3-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA