| Sabtu, 02 Juni 2007 | PANTURA |
Tiga Siswa SMPN 8 Dianiaya Kepala SekolahTEGAL- Tiga siswa SMP Negeri 8 Kota Tegal diduga telah menjadi korban penganiayaan kepala sekolah mereka, Muslich. Itu terjadi karena Fajar Nurdiansyah (14), warga Jalan Salak, Jamaludin (14), warga Jalan Layur, dan Andi Setiawan (14), warga Desa Purwahamba, Kecamatan Surodadi, Kabupaten Tegal tidak bersedia membukakan pintu gerbang sekolah. Menurut pengakuan Fajar saat ditemui di rumahnya, peristiwa itu terjadi Rabu (30/5) sekitar pukul 06.30. Saat itu, dia bersama dua temannya baru saja memasuki halaman sekolah. Tak berselang lama, kepala sekolah datang dengan mengendarai mobil dan membunyikan klakson, meminta dibukakan pintu gerbang yang saat itu terbuka sebagian. Namun, Fajar dan dua temannya tidak mendengar bunyi klakson tersebut, sehingga mereka tidak menghiraukan dan berlari menuju kelas. "Saat itu, sebenarnya juga ada siswa lain yang berdiri di depan pintu gerbang. Karena itu, kami mengira siswa itu yang akan membukakan pintu," kata Fajar. Beberapa saat kemudian, Fajar, Jamaludin, dan Andi dipanggil Muslich dan diminta menghadap di ruang kerjanya. Diduga jengkel karena tidak dibukakan pintu, Muslich kemudian menganiaya ketiga remaja itu. Fajar mengaku ditampar tiga kali dan telinganya dijewer. Tak hanya itu, pahanya juga dicubit beberapa kali. Hal serupa dialami Jamaludin. Selain dicubit pahanya dan dijewer, dia juga mengaku ditampar dua kali. Mereka kemudian diminta kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Tak Masukkan Baju Akibat kejadian itu, Fajar dan Jamal mengaku trauma. Hari berikutnya (Kamis 31/5) mereka tidak masuk sekolah karena takut. "Kami akan kembali masuk sekolah jika sudah ada jaminan dari sekolah tidak akan ada penganiayaan lagi dan kepala sekolah dipindahkan," kata Jamal. Orang tua Fajar, Royati (45), mengaku kecewa terhadap sikap Muslich. Dia menilai penganiayaan itu telah melebihi batas. Karena itu, Royati meminta Muslich bertanggung jawab. Jika tidak, dia berencana melapor ke polisi. Hal senada dikatakan Heri (47), ayah Fajar. Muslich membantah telah menganiaya siswanya. Meskipun demikian, dia mengakui beberapa kali mencubit dan menjewer telinga mereka. Hal itu dilakukan bukan karena jengkel tidak dibukakan pintu gerbang. Namun, lantaran ketiga anak tersebut dinilai sering membandel dan tak punya disiplin. (H17-65) |