| Sabtu, 02 Juni 2007 | NASIONAL |
KISAH Kampanye Penolakan PLTNBencana "Chernobyl" di Mana-mana...
Suhu kampanye penolakan terhadap rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di Indonesia makin panas. Peningkatan aksi tersebut tak lepas dari tahapan yang semakin maju, yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Berikut laporannya. DIPROYEKSIKAN, Batan akan mengadakan tender pembangunan PLTN di Ujung Lemah Abang, Desa Bondo, Kecamatan Kembang (Semenanjung Muria), Jepara tahun 2008. Sebagai langkah awal/penjajakan persiapan tender, Batan bahkan telah menggelar seminar dengan Kadin (Kamar Dagang dan Industri) di Jakarta beberapa bulan lalu. PLTN Muria diperkirakan selesai pembangunan fisiknya tahun 2012, dan akan dioperasikan mulai tahun 2016. Sebanding dengan terus majunya Batan melalui tahapan proyek prestisiusnya, sejumlah aktivis anti-PLTN yang tergabung dalam Marem (Masyarakat Reksa Bumi) meningkatkan kualitas perlawanannya. Organisasi yang dideklarasikan di Jepara beberapa bulan lalu itu, tak hanya mengadakan diskusi, seminar, semiloka tentang PLTN di Semarang, Salatiga, Kudus, dan Jepara, tetapi sejak 28 Mei sampai Agustus tahun ini juga mendirikan tenda keprihatinan di halaman gedung DPRD Kudus. Ada banyak bentuk kegiatan di tenda keprihatinan itu. "Antara lain, kami akan mengadakan diskusi dengan narasumber wartawan, bagaimana media melihat rencana pembangunan PLTN, juga pentas seni, lomba desain kaus anti-PLTN, tanda tangan publik untuk menolak PLTN, serta pemutaran film CD tentang bencana PLTN Chernobyl (Ukraina)," jelas Sekretaris Marem, Suparmin Keceng. Kemudian, 5 Juni depan bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup, Forum Masyarakat Jepara yang terdiri atas 13 elemen masyarakat, akan menggelar demo besar-besaran untuk menolak PLTN di Ngabul, Jepara. Aksi turun ke jalan serupa dengan massa yang besar juga dijanjikan akan dilakukan oleh DPC KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) Kudus di Kudus tanggal 12 Juni 2007. Silakan Dibajak Sementara, aktivis Marem yang juga pentolan penyair di Pati, Anis Sholeh Ba''asyin merencanakan long march Jepara-Jakarta bersama sejumlah aktivis. Saat ini Anis tengah mengumpulkan calon peserta yang berminat untuk demo ikut jalan kaki tersebut. "Tentu, teman-teman yang akan ikut harus menyiapkan fisiknya," tandasnya. Sebagaimana film dokumenter mengenai bencana PLTN Chernobyl yang akan diputar di tenda keprihatinan depan DPRD Kudus, hingga kini Marem telah mendistribusikan kaset berdurasi 15 menit yang merupakan hasil kopian dari Greenpeace itu kepada beberapa kelompok masyarakat. Menurut aktivis Marwan, pihaknya telah memproduksi 70 keping kaset CD bencana PLTN Chernobyl, sampai pekan lalu sudah 60 keping terdistribusi. "Silakan untuk dibajak. Kalau yang membajak semakin banyak, kami senang," kata aktivis Marem, Djoko Herryanto pada suatu diskusi. Mereka berharap, lewat pemutaran film di kaset tersebut, masyarakat di desa-desa sekali pun dapat dengan mudah mendapat informasi yang jelas mengenai tingkat bahaya sebuah PLTN. Saat ini video player sudah bukan barang mewah lagi bagi penduduk di pelosok desa. Direktur Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Jawa Tengah, Arief Zayin mengatakan, kini semua desa yang paling dekat dengan calon tapak PLTN di Jepara yakni di Kecamatan Bangsri, Keling, dan Kembang, sudah terdapat satu hingga tiga keping CD PLTN Chernobyl. Dia yang asli Jepara itu juga telah berpesan kepada warga desa untuk mengkopi sendiri kaset tersebut. Film dokumenter tersebut antara lain memaparkan gambar bencana PLTN Chernobyl pada 26 April 1986, bangunan reaktor yang hancur akibat ledakan, daerah-daerah yang terkontaminasi radio aktif, dan jumlah korban meninggal serta yang cacat seumur hidup. Pakar fisika nuklir, Liek Wilardjo menginformasikan, korban meninggal akibat kecelakaan PLTN Chernobyl hingga sekarang lebih dari 17 ribu orang. Radioaktif yang diakibatkan juga berdampak pada plasma nuftah di kawasan subtropis belahan utara. Agaknya, penyebaran kaset bencana PLTN Chernobyl bisa membantu masyarakat hingga lapis yang paling bawah - khususnya penduduk sekitar tapak - untuk memperoleh informasi yang berimbang mengenai PLTN. Mengapa? Karena, selama ini Batan dalam posisi lebih dominan mengampanyekan programnya. Ini antara lain bisa dilihat dari pembentukan Jupen (juru penerangan) PLTN di Jepara saat bupatinya masih dijabat H Hisom Prasetyo SH, di samping program-program lainnya. Tidak ada jaminan, mereka yang telah diangkat menjadi Jupen PLTN mengetahui secara persis manfaat dan ancaman dari sebuah PLTN. Mereka tak lebih dari orang kebanyakan (awam), namun karena sistem rezim Orde Baru, kemudian dengan mudah mengamini bahwa PLTN aman. (Prayitno-41) | ||||