| Rabu, 30 Mei 2007 | SALA |
Tiga Kelas SDN 1 Nayu Barat Rusak BeratBANJARSARI Tiga ruang kelas di SDN 1 Nayu Barat, yakni kelas I, II dan III rusak parah.Untuk melangsungkan proses belajar mengajar, terpaksa siswa di tiga ruang tersebut masuk siang bergantian dengan siswa kelas IV, V dan VI. Menurut Suminah, salah seorang guru di sekolah tersebut, tiga ruang kelas itu kondisinya sangat mengkhawatirkan. Dindingnya retak, lantai berlubang serta eternit jebol. Kerusakan yang terjadi sebenarnya sudah lama, tetapi pihak sekolah tidak mampu membangun karena ketiadaan biaya. Usaha untuk merehap bangunan sudah dilakukan dengan cara mengajukan proposal bantuan ke dinas terkait, namun upaya tersebut tidak mendapat tanggapan. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pada saat proses belajar, ruangan tersebut dikosongkan. Kebijakan tersebut diambil demi keamanan, apalagi, angin kencang sekarang sering kali terjadi sehingga guru dan siswa takut untuk melangsungkan proses belajar mengajar di dalam ruangan. Konsekuensinya, jadwal guru menjadi bergeser, yang semula masuk pagi menjadi siang karena harus mengajar kelas I, II dan III. Untuk mengantisipasi kerusakan tidak semakin parah, pihak sekolah berusaha membangun tiga ruang tersebut dengan cara tambal sulam. Dananya berasal dari iuran guru dan komite sekolah. Masuk Siang Dijelaskan dia, jumlah siswa di sekolahan yang telah berdiri sejak 1982 tersebut seluruhannya 157 siswa, tetapi untuk tiga kelas yang terpaksa masuk siang tersebut jumlahnya 83 siswa. Kelas I sebanyak 36, kelas II 28, sedangkan kelas III 19 siswa. Sementara itu, sebanyak 3.957 ruang sekolah dasar (SD) negeri dan swasta rusak, 1980 di antaranya adalah ruang kelas yang selama ini digunakan untuk proses kegiatan belajar mengajar para siswa. Hal itu dikatakan Ketua Dewan Pendidikan (DP) Kota Surakarta Ichwan Dardiri, sebelum beraudiensi dengan Wali Kota Joko Widodo di Balai Kota, kemarin. Dikatakan, bagi sekolah yang mengalami kerusakan itu kini tengah direhab. Dana untuk rehab itu berasal dari dana alokasi khusus (DAK) pemerintah pusat, bantuan pemerintah Provinsi, dan Pemkot Surakarta sendiri. Dana dari Pusat nilainya Rp 250 juta untuk tiap-tiap sekolah. Peruntukan dana tersebut yakni 60 persen atau Rp 150 juta untuk fisik sedangkan 40 persennya atau Rp 100 juta untuk melengkapi sarana pendidikan. Sedang dana dari Pemprov dan Pemkot masing-masing antara Rp 40 juta hingga Rp 50 juta untuk tiap sekolah. Kendati mengakui, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Amsori tidak banyak komentar ketika diminta tanggapan. ''Kami baru akan melakukan koordinasi besok,'' katanya.(G8,hr-67) |