logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 30 Mei 2007 WACANA
Line

Kembalikan Kejayaan Wisata Dieng

  • Oleh Widodo Wahju Djatmiko

SUARA Merdeka Minggu, 15 April 2007 menurunkan berita bertajuk "Menata Kembali Dataran Tinggi Dieng". Intensifikasi tanaman kentang oleh petani lokal, telah membuat kondisi Dieng semakin memprihatinkan. Budi daya tanaman ini menimbulkan kerusakan lingkungan, erosi semakin parah dan saat hujan sering banjir Lumpur, sehingga perlu penataan kembali. Demikian, analisa berita tersebut.

Senin, 14 Mei 2007 harian ini memberitakan kegundahan Bupati Banjarnegara, M Djasri, tentang kondisi Dieng yang nyaris gundul karena alih fungsi hutan menjadi kawasan pertanian. Sejak dimulainya intensifikasi agrobisnis kentang dan jamur merang pada dekade 1970 an, memang telah mengubah wajah Dieng yang semula ijo royo-royo menjadi kawasan yang gersang seperti sekarang ini.

Dampak negatif kerusakan lingkungan alam di Dieng dapat dilihat dengan jelas. seperti : susutnya permukaan air di Tlogo Warno/Pengilon, mata air Sungai Serayu (Tuk Bimo Lukar) mulai mengering.

Bahkan tidak menutup kemungkinan Kawah Sikidang akan segera punah, sebagai akibat penyedotan gas panas bumi yang dieksploitasi oleh PT Geo Dipa. Candi di Dieng sudah tidak lagi memiliki nuansa kepurbakalaan, karena kawasan pemukiman dan pertanian merambah mendekati candi.

Apabila keadaan ini tidak segera diatasi, akan membahayakan masa depan wisata Dieng. Sudah tidak ada lagi, keindahan alam dengan pemandangan hutan pegunungan yang lebat. Kata Dieng sebagai akronim adi dan aeng (luar biasa dan aneh), nampaknya akan segera berakhir.

DTW Dunia.

Sejak memasuki pasar wisata global (1970), daerah tujuan wisata (DTW) Dieng telah memiliki positioning sebagai the Nepal of Indonesia, karena memiliki bangunan candi-candi Hindu di sana-sini, yang terletak di tengah hutan pegunungan yang lebat dan berhawa sangat dingin.

Sejak itu wisatawan mancanegara mulai berdatangan ke Dieng. Wisman yang datang lewat Yogyakarta pasti menetapkan Dieng sebagai salah satu tujuan kunjungan, disamping Borobudur, Prambanan, Surakarta.

Menurut data di Disparbud Kabupaten Wonosobo, Dieng menerima kunjungan wisatawan tertinggi sepanjang sejarah pada 1993 sebanyak 135.310 orang, dengan perincian wisnus 98.006 orang (72,43%) dan wisman 37.304 orang (27,57%). Di pertengahan dekade tahun 2000, kunjungan wisatawan ke Dieng turun drastis, wisnus berkisar di angka 70.000 orang dan wisman pada kisaran 6.000 orang.

Kesan Wisatawan

Saat saya memandu wisman ke Dieng beberapa tahun lalu, kesan-kesan telah diungkapkan tentang Dieng. Di antaranya, Erwin de Wandell (Belgia), Konsultan Program Pembangunan PBB di Chad - Afrika :" Pak, Anda punya Kawah Sikidang yang sangat bagus - tolong dipelihara dengan baik."

I am deeply impressed here, because I don't have any crater in Belgium (Saya sangat terkesan di sini, Di Belgia tidak ada kawah gunung api).

Komentar Magda Monballyu, ahli perencanaan stategis pariwisata dari Belgia : "Pak, Dieng sudah tidak layak lagi dipromosikan ke pasar wisata global, karena pesona alamnya sudah rusak"

Usaha-Usaha

Untuk mengatasi kerusakan alam di Dieng, tidak semudah membalikkan telapan tangan, karena memerlukan waktu relatif lama. Kerjasama lintas lembaga terkait bersama komponen masyarakat setempat dalam suatu gugus tugas (task force) nampaknya sangat diperlukan .

Untuk percepatan pemulihan daya tarik wisata Dieng. Gubernur Jateng telah membangun produk wisata baru : DPT (Dieng Plateau Theater), yang menyajikan film potensi alam dan budaya serta kehidupan rakyat Dieng. DPT diharapkan mampu menjadi penggerak utama (prime mover), agar wisatawan kembali beramai-ramai datang ke Dieng.

Pembenahan fasilitas prasarana dan sarana wisata juga dilakukan di kawasan Tlogo Warno/Pengilon, Candi Pandawa, Museum Purbakala Dieng.

Kerjasama

Mengingat Kawasan Wisata Dieng berada di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, maka kerjasama antara kedua daerah tersebut mutlak diperlukan sehingga dapat diperoleh hasil pembangunan yang maksimal.

Kerjasama pariwisata yang telah ada, hanya berkutat pada pembagian hasil pendapatan karcis masuk dari obyek wisata, untuk peningkatan PAD masing-masing. Namun, kerjasama yang menyangkut keterpaduan perencanaan dan pengembangan produk wisata, pemasaran dan pengelolaan pariwisata, masih terabaikan pelaksanaannya.

Apabila ingin memulihkan citra positif wisata Dieng, ada beberapa persoalan jangka pendek yang harus diselesaikan oleh kedua Kabupaten. Antara lain : Pertama, kekumuhan lingkungan dan pengelolaan sampah yang jelek. Dieng terkesan sebagai objek wisata yang kotor/tidak bersih, Misalnya : di kompleks terminal Utama Dieng.

Kedua, jalan lingkungan yang sempit antarobjek wisata. Pelebaran jalan akan membantu kelancaran arus lalu lintas angkutan wisata khususnya pada musim ramai kunjungan (peak season)

Ketiga, diversifikasi produk wisata. Pariwisata Dieng mampu mengakomodasikan berbagai motivasi kunjungan wisatawan, termasuk wisata remaja. Misalnya : berjalan menelusuri hutan dan mendaki gunung, naik sepeda gunung dll. Penyediaan fasilitas outbound training, wisata berkuda, mendayung di telaga Merdada, penyediaan rekreasi keliling dengan bis ke seluruh objek wisata di Dieng.

Keempat, perbaikan pelayanan publik. Misalnya : wisatawan dari arah Wonosobo sudah dibuat stres dulu, karena semrawutnya lalu lintas di pasar Kecamatan Garung dan Kejajar dan berakibat kemacetan yang relatif lama.

Pemungutan karcis masuk di TPR Garung, sebagai pembayaran retribusi menikmati lembah Dieng, sangatlah tidak tepat dan terkesan mengada-ada dan banyak menimbulkan keluhan wisatawan.

Solusinya, Kabupaten Wonosobo lebih baik menggencarkan promosi agro wisata Tambi, dengan kegiatan outbound training dan jalan-jalan di kebun teh (tea walk). Ini sangat berkesan, karena saya pernah mengikuti program itu.(11)

- Widodo wahju Djatmiko, pramuwisata madya Jateng


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA